Tarakan Berdarah (foto:HMINEWS.COM/Lando Langit)

Tarakan,HMINEWS- Kondisi kerusuhan di Tarakan masih belum bisa dikatakan mereda, sebab sampai berita ini diturunkan (30/9/2010) situasi kota Tarakan masih mencekam. Seorang warga Tarakan bernama Ismail menuturkan pengalamannya langsung dari lokasi kerusuhan. Berikut adalah penuturan warga asli Tarakan bersuku Bugis tersebut.

“Sebelum saya bercerita pengalaman mencekam yang terjadi di Tarakan sejak hari Senin 27-sep-10 sampai dengan hari ini, Rabu 29-Sep-10 saya akan memperkenalkan diri saya. Nama saya ISMAIL, lahir di Tarakan, 28 Oktober 1987. Suku saya adalah Bugis  (Soppeng), karena orang tua saya berasal dari Soppeng. Saya lahir dan di besarkan di kota Tarakan dengan memiliki banyak teman dan kami semua hidup damai tanpa ada perselisihan antar suku. Sekarang saya telah menikah dengan Dyna Solichah (Jawa) dan memiliki seorang anak perempuan bernama Andi Marsha Madina yang sekarang berumur 16 bulan.

Tarakan Berdarah (foto:HMINEWS.COM/Lando Langit)

Saya tinggal di Karanganyar, yang berdekatan dengan tempat keramian di Tarakan yaitu Grand Mall  Tarakan (GTM). Sekarang saya bekerja sebagai seorang guru SD di SDN 034 Tarakan. Anak murid saya banyak dari kalangan suku yang berbeda tapi mereka semua juga dapat hidup dengan damai. Hingga hari Senin kemarin setelah pecahnya bentrokan antar suku yang terjadi di kota Tarakan-ku tercinta, anak-anak banyak yang tidak bersekolah.

Dipikiran saya, “Masa sih kita yang sudah dewasa kalah dengan anak SD yang bisa mempertahankan perdamian tanpa ada memandang suku dan bangsa. Apakah ini yang namanya Bhinneka Tunggal Ika?” Jawabannya ada diri kita masing-masing!

Peristiwa ini bermula jauh hari sebelum pecahnya bentrokan yang terjadi Senin 26 September 2010. Menurut cerita yang beredar dimasyarakat, suku Bugis  telah melakukan 3 kali kesalahan terhadap suku Tidung (suku asli Tarakan Kalimantan ).

Kesalahan pertama, menurut dari cerita masyarakat, ada seorang wanita yang berasal dari suku asli Kalimantan  diperkosa oleh orang Bugis-tator. Tempat kejadiannya saya kurang tahu. Nah, inilah awal mula kekesalan suku asli dengan suku Bugis .

Tarakan Berdarah (foto:HMINEWS.COM/Lando Langit)

Kesalahan kedua, katanya ada sepasang kekasih dari suku asli Kalimantan  dipukul dan dikeroyok oleh sekempulan anak muda yang berasal dari suku Bugis-patinjo, katanya. Pemukulan yang dilakukan oleh suku Bugis-patinjo ini juga yang membuat Persatuan Suku Asli Kalimantan (PUSAKA) menjadi marah sehingga orang-orang PUSAKA mencoba mencari pelaku dengan mendatangi daerah Sebengkok , yang katanya pelaku pengeroyokan berasal dari daerah tersebut. Orang-orang PUSAKA yang marah membawa berbagai macam senjata tajam, mulai dari samurai, mandau sampai tombak dan sumpit. Mereka masuk ke kawasan Sebengkok  sambil berteriak-teriak. Kejadian ini membuat masyarakat yang tinggal di daerah Sebengkok  terbangun dan kaget, karena kejadian itu terjadi pada waktu malam dimana banyak masyarakat Sebengkok  yang terbangun.

Pada saat itu saya kebetulan berada ditoko orang tua saya yang berada di Pasar Batu, yang merupakan salah satu pasar tradisional Tarakan. Kejadian ini berlangsung hanya dalam waktu 2 malam saja, karena menurut kabar yang saya dengar, pelaku pengeroyokan itu telah ditangkap dan ditahan oleh polisi Tarakan. Untungnya polisi langsung berada dilokasi dan mengamankan lokasi kejadian. Nah inilah katanya masalah yang kedua yang memicu kemarahan dari PUSAKA.

Dan kesalahan yang ketiga terjadi pada malam Senin 27-Sep-10 di mana menurut masyarakat terjadi pengeroyokan hingga tewas terhadap Abdullah, warga suku asli yang katanya adalah seorang imam masjid sekaligus penghulu di KTT, salah satu wilayang Kalimantan.

Tarakan Berdarah (foto:HMINEWS.COM/Lando Langit)

Kejadian ini bermula dari anak Abdullah yang katanya dihadang/dipalak (dimintai uang) untuk membeli sesuatu. Karena tidak diberikan akhirnya anak dari Abdullah itu dicaci maki dan disuruh pulang. Setelah sampainya di rumah, anak Abdullah itu melaporkan kepada ayahnya (Abdullah). Abdulah pun keluar rumah dengan maksud untuk mengingatkan perilaku para pemuda yang telah memalak anaknya itu.

Tetapi sesampainya di sana Abdullah malah dikeroyok hingga tewas, dan katanya mayat Abdullah dibuang di sebuah parit kecil. Nah inilah masalah besar yang membuat para warga suku asli (PUSAKA) menjadi marah besar dan mulai melekukan pembakaran rumah di daerah Juata, yang diduga sebagai rumah pelaku.

Tidak hanya sampai disitu, sampai sore hari pada hari senin 27-Sep-10, PUSAKA mulai melakukan sweeping terhadar warga yang berada di jalan-jalan dengan membawa senjata tajam. Walaupun menurut berita yang beredar pemerintah kota Tarakan, aparat keamanaan beserta tokoh masyarakat asli dan pendatang telah melakukan pertemuan tertutup, saya tidak tahu hasilnya. Apa yang saya tahu, katanya sih ada beberapa kesepakatan. Yah,.. pokoknya yang saya tahu tetap saja pada hari itu Tarakan mulai kelihatan mencekam.

Hingga hari selasa 28-Sep-10 kemarin, yang katanya Tarakan sudah aman, tetapi yang terlihat adalah banyak toko-toko yang tidak berani buka karena menurut kabar akan ada serangan besar-besaran yang akan dilakukan oleh warga suku asli Kalimantan  terhadap suku pendatang Bugis . Tetapi sampai sore hari Tarakan masih terlihat aman.

Pada selasa malam 28-Sep-10, kira-kira pukul 10 malam bentrokan kambali pecah. Saya mengetahui kejadian itu karena terlihat dari siaran TV kabel kami yang menyiarkan CCTV yang terdapat di depan Mall Tarakan. Dari CCTV tersebut saya melihat banyak orang yang membawa senjata tajam, dari arah jalan Yos Sudarso menuju jalan Gadjah Mada. Tak lama kemudian saya melihat banyak orang saling kejar-kejaran dengan senjata tajam.

Yang saya tahu, tempat kejadian merupakan daerah yang diketahui banyak suku pendatang dari Bugis –letta, terutama pembesar dari suku Bugis letta yaitu H. Sani. Saya mendengar kabar dan melihat keluar melalui jendela, di langit terdapat cahaya merah dan kepulan asap. Dan ternyata itu adalah cahaya dan asap dari beberapa rumah dan mobil yang menjadi korban pembakaran dari pertikaian yang terjadi di sekitar jalan Gadjah Mada (tepatnya di belakang GMT).

Saya tidak tahu ada berapa korban jiwa yang terdapat disana. Bukan hanya di daerah perempatan Mall saja tetapi yang saya dengar dari berita teman-teman yang ada (online di FaceBook), juga terjadi bentrokan di daerah PERUMNAS dan di beberapa tempat lainnya.

Tarakan Berdarah (foto:HMINEWS.COM/Lando Langit)

Masih Pada malam itu juga saya mendengar rentetan suara dari senjata aparat keamanan yang mencoba melerai kedua belah pihak yang sedang bertikai. Suara tembakan itu berlangsung tengah malam dan suara tembakan itu terjadi kurang lebih selama 15 menit tanpa jeda. Saya yang berada di dalam rumah merasa ketakutan yang sangat karena baru mendengar suara tembakan yang begitu besar dan lamanya. Pada malam itu juga Banyak dari warga yang berada di derah terjadinya pertikaian mengungsi ke kantor polisi juga ke pangkalan angkatan laut (LANAL TARAKAN), karena takut akan menjadi sasaran kekerasan dari pertikaian kedua belah pihak tersebut.

Hingga pada pagi hari tepatnya hari rabu 29-Sep-10 bentrokan masih saja terjadi dan malah makin parah. Kedua kubu sudah saling menyerang dengan jarak dekat. Sampai tulisan ini saya buat tepatnya hari Rabu 29-Sep-10 pukul 11.23, bentrokan masih terjadi antara kedua kubu, tak tahu kapan akan berhenti. Pertikaian ini entah telah memakan berapa korban jiwa dan Kengerian ini terus berlanjut karena ada kabar bahwa suku asli Kalimantan  akan mengadakan sweeping kerumah-rumah.

Menurut kabar yang bereda,r bukan hanya 3 suku Bugis itu yang dicari, tetapi semua suku Bugis  pendatang yang di cari oleh mereka (PUSAKA). Entah dengan maksud dan tujuan apa? Yang jelas saya ingin pertikaian ini segera berakhir dan anak-anak dapat bersekolah kembali!

Saya harap teman-teman yang membaca tulisan ini mendokan saya, keluarga saya dan semua warga kota Tarakan yang saya cintai selamat. Kami dapat berkumpul lagi dengan sanak saudara seperti biasanya dan Tarakan tercinta ini menjadi kota yang cinta damai dan tak ada lagi perpecahan.

Cerita ini hanya sebagian kecil dari kengerian yang saya rasakan dan terjadi di kota Tarakan yang saya cintai, tempat saya lahir dan di besarkan. Walaupun saya berasal dari suku pendatang, tetapi saya menganggap bahwa Tarakan adalah tanah air saya, tempat kelahiran saya.”

Tarakan 29 September 2010

Ismail

 

 

 

 

 

 

 


ADS