Yersita Er

HMINEWS.COM- Menurut Jujun S. Suriasumantri terdapat tiga kesalahan yang menyebabkan lemahnya pendidikan kita saat ini, yang pertama adalah sebuah gagasan yang keliru ketika kita menganggap bahwa sekolah diadakan hanya untuk melatih manusia agar pandai bergaul, berintegrasi dengan kelompoknya, melengkapi mereka dengan keterampilan kehidupan sosial. Menurut Jujun, semua itu hanya salah satu dari tujuan kegiatan pendidikan.

Tujuan yang lebih penting adalah melatih pemikiran manusia seintensif mungkin dan mendorong ke arah pemikiran yang beraneka ragam. Hal ini dikarenakan setiap manusia menjalani kehidupannya sendiri-sendiri, dengan pengetahuan yang dimiliki manusia diharapkan mampu menghadapi berbagai problem yang muncul dalam kehidupannya.

Kesalahan kedua terletak pada pandangan bahwa proses pendidikan terhenti sama sekali setelah kedewasaan dimulai. Setelah selesai sekolah kita menganggap bahwa proses pendidikan juga selesai dengan hasil memperoleh ijazah dan gelar akademis.

Sehingga, banyak sekali kita temukan seorang sarjana hukum tidak lagi mendalami ilmunya, seorang lulusan bahasa mencampakkan kemampuan bahasa mereka. Hal ini menyebabkan kita seringkali kesulitan menemukan orang yang benar-benar kompeten dalam bidangnya, apalagi seorang ilmuwan yang konsen pada ilmu yang digelutinya.

Pandangan bahwa proses pendidikan terhenti setelah sekolah selesai membuat kita malas untuk belajar, membaca buku apalagi melakukan kegiatan ilmiah lainnya. Padahal pendidikan dapat melengkapi ketidaksempurnaan dalam kodrat alamiah kita, tulis Niccolo Machiavelli. Karena menurutnya, secara kodrati setiap manusia memiliki kekurangan dan ketidaklengkapan, sehingga melalui pendidikan yang berlangsung terus menerus dalam kehidupan kita menjadi salah satu cara untuk melengkapi kekurangan kodrati tersebut.

Kesalahan yang terakhir terletak pada pandangan bahwa proses belajar mengajar haruslah memperlihatkan hasil yang segera, yang membawa keuntungan dan keberhasilan. Hal inilah yang sedang mewabah dalam kehidupan kita. Banyak orang tua menyekolahkan anaknya dan berharap setelah selesai mereka mendapatkan pekerjaan yang bagus, kedudukan yang bagus dengan gaji yang bagus pula, plus kaya raya. Padahal kebanyakan materi pokok pendidikan tidak akan menyebabkan si pelajar menjadi “kaya” serta mendudukkannya pada jabatan tertentu.

Pandangan yang lebih mengutamakan hasil inilah menyebabkan para guru besar dan beberapa guru di Riau melakukan plagiarisme terhadap karya ilmiah orang lain. Kata “proses” akhirnya tidak lagi berarti, karena hasil yang lebih dikedepankan. Kebahagiaan dalam usaha menghasilkan karya sendiri seolah tak bernilai, semua ingin serba cepat, cepat menjadi guru besar, cepat pula naik golongan.

Begitu halnya dengan gelar akademis yang sekarang begitu mudah diperoleh tanpa melalui proses pendidikan yang panjang dan melelahkan. Orang tiba-tiba bisa menjadi sarjana dan master hanya dengan membayar sedikit uang kepada institusi dan para calo yang menyediakan jasa tersebut.

Fenomena ini meruyak ke semua birokrasi dan menjadi penyakit massal. Orang ingin cepat kaya tetapi tidak mau berusaha, sehingga jalan pintas melalui korupsi menjadi andalan agar cepat kaya raya. Keinginan untuk cepat kaya, terkenal, memperoleh jabatan dan pangkat yang bagus meruntuhkan kepuasan batin dalam “proses” mendapatkan hal-hal tersebut.

Untuk itulah, agar fenomena ini tidak lagi menjadi penyakit massal. Sudah saatnya orang tua, para guru dan orang dewasa umumnya, menanamkan dan mengajarkan kepada anak-anak kita bahwa “proses” dalam mencapai hasil tersebut lebih berharga. Sehingga mereka menghargai proses dalam pencapaian hasil tersebut, ketika hasilnya baik itu merupakan buah dari proses yang panjang namun jika sebaliknya yakinkan kepada mereka bahwa semua bukanlah akhir.

Yesrita Er

Guru SMP Negeri 2 Riau Silip

Email : yer1903@yahoo.com