Ahmadinejad

HMINEWS- “Masa depan berada di tangan Iran,” demikian Presiden Mahmoud Ahmadinejad menantang seteru Iran, Amerika Serikat (AS). AS harus menerima kenyataan bahwa negaranya kini punya peran besar di panggung dunia.

Pernyataan tersebut disampaikan dalam wawancara khusus dengan kantor berita Associated Press (AP), yang dipublikasikan Minggu, 19 September 2010. Ahmadinejad tengah menyambangi AS dalam rangka menghadiri sidang tahunan Majelis Umum PBB, yang bermarkas di New York.

Kendati dia terus melontarkan pernyataan yang membuat merah telinga para pejabat AS dalam beberapa tahun terakhir, hampir setiap tahun Ahmadinejad pergi ke New York untuk menyampaikan pidato di sidang PBB.

“Pemerintah AS harus mengakui bahwa Iran adalah suatu kekuatan besar,” kata Ahmadinejad, dalam wawancara yang berlangsung selama satu jam. “Oleh karena itu, kami menganggap diri sebagai suatu kekuatan kemanusiaan, kekuatan budaya, dan juga sahabat bagi negara-negara lain. Kami tidak pernah berupaya mendominasi pihak-pihak lain atau melanggar hak negara-negara lain,” lanjut dia.

Dengan penampilan yang kalem dan penuh percaya diri selama diwawancara, Ahmadinejad selanjutnya menyatakan bahwa dirinya tidak khawatir terhadap pihak-pihak yang memusuhi Iran. “Mereka yang bersikeras memusuhi kami, membunuh dan menghancurkan opsi untuk bersahabat dengan kami di masa depan merupakan tindakan yang patut disayangkan. Masalahnya, jelas sekali bahwa masa depan berada di tangan Iran dan rasa kebencian itu akan sia-sia,” kata Ahmadinejad.

Dia tidak menyebutkan siapa musuh-musuh Iran. Namun, publik internasional sudah tahu bahwa Iran selalu bersitegang dengan AS, Israel, dan sejumlah negara Barat. Bahkan, seringkali delegasi negara-negara tersebut melakukan aksi walk-out (keluar dari ruang sidang) saat Ahmadinejad berpidato – terutama ketika dia mulai menyebut kata “Zionis” (Israel).

Ahmadinejad pun membantah bahwa Iran merupakan negara yang tidak demokratis. Pernyataan ini sekaligus membantah klaim dari lawan-lawan politiknya – seperti Mir Houssein Mousavi – bahwa rezim Ahmadinejad memerintah dengan tangan besi dan memanipulasi hasil pemilu terakhir yang kembali membuat dia berkuasa.

“Saya yakin ketika kita membahas subyek kebebasan dan kemerdekaan, maka itu harus dilakukan dalam suatu basis yang komparatif dan harus dicamkan bahwa demokrasi pada akhirnya berarti aturan dari pihak mayoritas. Jadi, minoritas tidak bisa memerintah,” kata Ahmadinejad merujuk kepada hasil pemilu yang memenangkan dirinya atas Mousavi.

Dia menjamin kebebasan berpendapat tetap berlaku di Iran, yang dianggap lebih demokratis dari negara-negara lain. “Menurut saya, di Iran, tidak ada yang sampai kehilangan pekerjaan karena membuat pernyataan yang mencerminkan opini masing-masing. Dari sudut pandang itulah, kondisi di Iran jauh lebih baik dari tempat-tempat lain di dunia,” kata Ahmadinejad.

Pemimpin berusia 53 tahun itu juga menilai bahwa regulator nuklir internasional tidak pernah menemukan bukti bahwa Iran berupaya membuat bom atom, seperti yang dicurigai AS dan Israel. “Kami tidak takut senjata nuklir. Intinya adalah bila kami ingin membangun bom nuklir, kami cukup berani untuk mengatakan bahwa kita menginginkannya,” kata Ahmadinejad.

Namun, Iran tidak pernah melakukannya. “Kami justru menyatakan bahwa arsenal bom-bom nuklir [di penjuru dunia] harus dihancurkan.”

Dia pun tidak yakin bahwa sejumlah sanksi internasional dari Dewan Keamanan PBB, maupun secara sepihak dari AS kepada Iran, bakal menyulitkan negaranya. “Bila sanksi-sanksi itu berjalan efektif, saya pastinya tidak akan duduk di sini,” kata Ahmadinejad.

Selama wawancara berlangsung, Ahmadinejad berbicara dengan bahasa Parsi sehingga wartawan AP perlu didampingi seorang penerjemah bahasa Inggris. Namun, bukan berarti Ahmadinejad tidak paham bahasa Inggris.

Menurut pewawancara, presiden Iran itu tampak mengerti saat ditanya dalam bahasa Inggris, walau dia menjawabnya dalam bahasa Parsi setelah dialihbahasakan oleh penerjemahnya. Dia bahkan terlihat beberapa kali mengoreksi penerjemahnya, yang dianggap kurang tepat mengalihbahasakan jawaban dia dari bahasa Parsi ke bahasa Inggris. [] viva/lara