Yunani, Turki dan diplomasi bola basket

Leonidas Oikonomakis

HMINEWS.COM- Athena – Pada saat tulisan ini dibuat, kejuaraan akbar bola basket tengah berlangsung di Turki: Kejuaraan Dunia 2010 Federasi Bola Basket Internasional (FIBA). Sebagai penggemar basket, saya coba membuat prediksi: tahun ini akan ada dua pemenang, Yunani dan Turki.

Jangan buru-buru mengoreksi saya. Saya tahu di lapangan hanya bisa ada satu pemenang, tapi di luar lapangan, pemenang bisa lebih dari satu. Kejuaraan ini bisa menjadi kesempatan Yunani dan Turki untuk saling mendekat, tidak di ranah politik tingkat tinggi, tapi di ranah prakarsa dari bawah, yakni dari akar rumput.

Salah satu contohnya adalah spanduk yang dibuat oleh sekelompok penggemar basket Yunani yang menamakan diri Pelargoi (bangau) – nama yang diambil dari maskot Kejuaraan Bola Basket Eropa 1987 di Athena yang dimenangi Yunani. Spanduk tersebut, yang dipajang di sepanjang lapangan tempat kejuaraan tersebut, tertulis dalam bahasa Turki, Yunani dan Inggris: “Kita adalah tetangga bukan musuh”.

Baru-baru ini Turki menyatakan niatnya untuk menghapus Yunani dari Dokumen Kebijakan Keamanan Nasional (MSGB), yang mengindikasikan bahwa Turki tak lagi menganggap Yunani sebagai ancaman paling berbahaya baginya. Menteri Luar Negeri Turki, Ahmet Davutoglu, juga menyatakan bahwa Yunani dan Turki kini sedang dalam dialog untuk mengakhiri “pertempuran udara jarak dekat” yang sering terjadi di atas wilayah-wilayah di Laut Aegea, yang sering mengorbankan nyawa para pilot. Selain itu, Biara Sumela Kristen Ortodoks dibuka kembali untuk ibadah untuk pertama kalinya dalam 88 tahun pada Agustus lalu setelah pemerintah mencabut larangan penyelanggaraan kebaktian di tempat itu. Ini adalah tanda lain dari niat baik Turki.

Tentu, perkembangan-perkembangan ini tak bisa dipisahkan dari kegiatan-kegiatan Dewan Kerjasama Strategis yang baru dibentuk tahun ini untuk mempercepat kerjasama bilateral kedua negara. Dewan ini, yang terdiri atas sepuluh menteri Turki dan tujuh menteri Yunani, menggelar pertemuan perdananya di Athena bulan Mei silam. Di sana, para menteri menandatangani 22 kesepakatan dan perjanjian kerjasama dalam isu-isu perlindungan lingkungan, termasuk perlindungan keragaman hayati, pertukaran pengalaman dan keterampilan; pendidikan, termasuk perubahan dalam buku-buku ajar sejarah yang melestarikan perseteruan kedua negara; dan pariwisata, dengan pengembangan paket perjalanan bersama dan kerjasama dalam pariwisata budaya.

Di sisi lain, Yunani – yang mungkin cukup mengejutkan – menjadi salah satu pendukung utama diterimanya Turki di Uni Eropa. Dan Yunani telah mengupayakan kedekatan kedua negara yang sebelumnya bermusuhan itu sejak mendiang Menteri Luar Negeri Turki Ismail Cem dan Perdana Menteri Yunani Georgios A. Papandreou memimpin pembicaraan-pembicaraan “diplomasi gempa bumi” pada 1999 setelah dua gempa bumi dahsyat menghantam Yunani dan Turki tahun itu dan kedua negara segera saling membantu dengan mengirimkan berbagai bantuan darurat. Pembicaraan-pembicaraan ini menghasilkan serangkaian langkah membangun kepercayaan, yang mengurangi ketegangan di antara kedua negara.

Meski sudah banyak dilakukan, upaya menjalin kedekatan antara Yunani dan Turki baru dilakukan “dari atas” oleh para elit politik – dan bukan oleh masyarakat kedua negara.

Meski para elit politik Yunani memandang proses masuknya Turki ke Uni Eropa sebagai sebuah kesempatan untuk rekonsiliasi isu-isu historis dan perselisihan bilateral, masyarakat Yunani tidak mempunyai pandangan yang sama. Yunani berada dalam pendudukan kekhilafahan Turki-Utsmani selama 400 tahun, dan kedua negara telah terlibat perang berulang kali sejak saat itu, termasuk Perang Balkan, pada Perang Dunia I dan perebutan Siprus pada 1974. Rata-rata orang Yunani, sayangnya, masih membenci orang Turki, dan rata-rata orang Turki pun masih membenci orang Yunani.

Permusuhan ini juga merupakan produk sebuah perseteruan historis yang ditanamkan oleh propaganda negara seperti terekspresikan melalui buku ajar sejarah di sekolah kedua negara. Tanpa perubahan mental di tingkat rakyat Yunani dan Turki sendiri, upaya untuk saling mendekati antara Yunani dan Turki tidak akan berhasil ataupun sungguh terwujud.

Itulah mengapa kita perlu lebih banyak prakarsa “dari bawah”, serupa dengan yang dilakukan penggemar basket Pelargoi, di samping prakarsa-prakarsa politik yang dikembangkan oleh pemerintah Yunani dan Turki; perubahan pada buku ajar sekolah tentang sejarah, juga pengurangan belanja militer besar-besaran di kedua belah pihak, yang kebetulan termasuk yang paling tinggi di NATO.

Dan kita semua – para pengamat, peneliti, aktivis dan jurnalis – harus mendorong prakarsa konstruktif semacam itu begitu prakarsa itu muncul. Toh, “kita tetangga, bukan musuh” dan kita harus ingat itu lebih sering lagi.

* Leonidas Oikonomakis adalah peneliti di University of Crete dan Middle East Technical University. Ia baru-baru ini bekerja di Program Pembangunan Berkelanjutan di Aegea. Artikel ini ditulis untuk Kantor Berita Common Ground (CGNews).

Sumber: Kantor Berita Common Ground (CGNews), 10 September 2010,