oleh Juliette Schmidt

Toronto, Kanada – Pekan lalu saya memulai perjalanan virtual melihat suasana Ramadan di berbagai negara, dan terkesan oleh cerita-cerita dari teman-teman saya di Search for Common Ground -organisasi nirlaba yang bergerak di bidang transformasi konflik- di Maroko, Pakistan dan Amerika Serikat. Pekan ini, ketika Toronto pun diwarnai dengan banyaknya undangan buka puasa bersama, saya ingin melihat-lihat suasana Ramadan di Lebanon, Indonesia dan Guinea.

Nour Awaiss, Editor Bahasa Prancis dan Arab Kantor Berita Common Ground, menggambarkan pengalamannya sebagai orang Kristen di Lebanon selama Ramadan saat banyak orang Muslim di sana berpuasa, dan membandingkannya dengan suasana hari-hari besar Kristen: reuni keluarga saat Natal, kebahagiaan anak-anak saat Minggu Palma (hari minggu menjelang Paskah), dan menghormati yang mati saat Hari Raya Semua Orang Kudus.

Ia melihat adanya kemiripan dengan jamuan makan keluarga saat Natal: “Perayaan saat Ramadan berakhir, yakni Idul Fitri, adalah kesempatan bagi seluruh keluarga mengikuti jamuan makan di kampung halaman mereka selepas mengikuti salat Id. Rekan dari Lebanon lainnya, Ali Dahwich, Pegawai Keuangan dan Administrasi, menerangkan, “Saya akan pergi ke Tyre, kampung halaman saya di selatan, untuk makan siang bersama dengan keluarga saya. Tiga puluh sepupu, paman dan bibi akan berkumpul mengitari berbagai hidangan daging kambing dan mechoui (domba guling).”

Mirip dengan hari-hari jelang Minggu Palma, yang memperingati kedatangan Yesus di Yerusalem dan dirayakan seminggu sebelum Paskah, “pada saat menjelang Idul Fitri, toko-toko pakaian penuh sesak dan taman hiburan ramai oleh anak-anak. Dengan menyandang baju baru, mereka hanyut dalam suasana hari yang suci ini.”

Mirip dengan cara orang Katolik di beberapa belahan dunia memperingati orang yang telah meninggal pada Hari Raya Semua Orang Kudus, pada pagi hari Id, “sebagian keluarga Muslim berziarah ke makam-makam anggota keluarga mereka untuk membacakan al-Fatihah (surah pertama al-Qur’an) untuk mengenang leluhur mereka,” tambah Awaiss.

Di Lebanon, hari besar semua komunitas agama utama di sana merupakan hari libur negara yang berlaku bagi setiap orang. “Hidup terasa enak di Lebanon di setiap hari raya.” simpul Awaiss.

Ramadan juga berdampak pada bisnis, sesuatu yang sangat dirasakan di Indonesia.

Agung Yudhawiranata, Koordinator Program dan Editor Bahasa Indonesia, menerangkan: “Karena jadwal kegiatan orang-orang berubah, bisnis pun jadi terpengaruh. Restoran dan tempat hiburan mengurangi jam buka mereka atau menutup jendela mereka dengan kain hitam pada siang hari; acara saat makan siang digantikan dengan acara buka puasa. Namun, orang-orang harus lebih dulu mengalami kemacetan yang parah jelang waktu berbuka karena setiap orang bergegas pulang ke rumah untuk bisa berbuka bersama keluarga.”

Karena menyesuaikan dengan jadwal Ramadan itu, “banyak kantor perusahaan dan pemerintah menyelenggarakan acara buka bareng bagi kolega, klien, karyawan serta keluarga. Banyak urusan dibahas dan banyak koneksi terbentuk justru pada saat acara buka puasa bersama.”

Selain bertambah macetnya Jakarta yang memang sudah biasa macet, Ramadan juga membawa tantangan yang lain. Menurut Yudhawiranata, “Lantaran fenomena ekonomi yang agak aneh, harga-harga bahan pokok pasti melonjak tajam (menjelang lebaran). Ini sangat memberatkan bagi sebagian orang. Menyusul kenaikan tarif dasar listrik bulan Juli lalu, mereka tidak lagi mampu membeli kebutuhan-kebutuhan pokok keluarga mereka.”

Di Guinea, negara di Afrika Barat, banyak aspek budaya dan spiritual yang mirip dengan yang ada di negara-negara lain, tapi juga dibentuk oleh konteks uniknya.

Safiata Barry, Asisten Administrasi dan Keuangan di kantor Guinea menjelaskan, “Di sini di Guinea, Ramadan adalah bulan yang sangat istimewa, ketika kami salat, puasa dan menghabiskan waktu bersama orang-orang tercinta. Seperti di negara-negara Muslim lainnya, kami berpuasa seharian sampai magrib.”

“Seusai salat,” ia melanjutkan, “keluarga dan teman datang untuk buka puasa. Biasanya, kami makan nasi dengan ayam, daging atau ikan bercampur sayuran, fonio (padi-padian/serealia yang populer di Afrika Barat) dan bubur. Setelah itu, kami duduk dan mengobrol atau melihat televisi – itu jika ada listrik.”

Barry menjelaskan bahwa di Guinea, “Selama Ramadan, orang-orang juga mengirimkan uang dan buah kola kepada sanak saudara, sebagai tanda hormat.”

Tapi seperti kebanyakan teman saya yang lain, Barry menggarisbawahi bahwa bulan ini punya makna lebih dari sekadar puasa, perayaan dan bagi-bagi hadiah: “Ramadan adalah saat ketika saya memikirkan mereka yang kurang beruntung. Saya bisa merasakan seperti apa rasanya kelaparan itu, dan bisa bersimpati kepada mereka yang hidup tanpa makanan yang tersaji sepanjang hari.”

###

* Juliette Schmidt adalah Wakil Direktur Program Hubungan Muslim-Barat di Search for Common Ground. Artikel ini ditulis atas kerja sama HMINEWS dengan Kantor Berita Common Ground (CGNews).