oleh Carla Haibi

 Brooklyn, HMINEWS – Di Fifth Avenue, Bay Ridge, Brooklyn, di antara kedai-kedai yang kental dengan aroma Timur Tengah, berdirilah sebuah toko kue yang dibuka sejak 1992: Sweet Arayssi. Rima Arayssi, 43, adalah generasi kelima sebuah keluarga Muslim yang membuka usaha gula-gula sejak 1844 di Lebanon. Ia tak hanya berhasil menjalankan bisnis keluarganya tapi juga mengubah tokonya itu menjadi sebuah oase koeksistensi bagi para pelanggan yang punya sejarah panjang konflik agama dan politik. Seperti yang dilakukan ayahnya, ia membuat toko rotinya penyedia panganan halal bagi orang Yahudi, sehingga bisa melayani orang-orang Yahudi Lebanon dan Yahudi Arab lainnya yang tinggal di Brooklyn.

Hampir setiap hari, orang-orang Muslim, Kristen dan Yahudi Lebanon bertemu di tokonya, dan menikmati apa yang sama-sama mereka rasakan, sebuah kerinduan akan lezatnya panganan yang mengingatkan mereka akan identitas budaya yang sama dan negeri kampung halaman yang bermil-mil jauhnya.

Di luar toko, bendera-bendera kecil Lebanon menghiasi pintu depan. Di dalam toko, hembusan aroma ghee (mentega murni) – bahan utama gula-gula – menciptakan suasana hangat. Beragam baklava (kudapan manis berlapis-lapis khas Turki dan Timur Tengah) yang masih hangat dan es sirup yang berkilauan, tersaji di atas nampan-nampan besar di salah satu meja. Di atas meja yang lain terpajang butter cookie, kue-kue dari kacang pinus dan safron serta kue-kue dari biji wijen dan kelapa, selain berbagai makanan lezat Timur Tengah lainnya.

Ahlan!” (selamat datang), teriak Arayssi dalam bahasa Arab dari dapur.

Di pagi yang sejuk musim semi ini, ia berdiri di depan tungku, sembari menyiapkan sepiring kneffe, menu sarapan Timur Tengah yang dibuat dari semolina yang diolesi ghee, tepung dan gula, dan atasnya dilapisi keju tebal, yang dimasak sampai permukaan semolinanya berubah coklat keemasan. Hidangan populer ini, yang disajikan hangat setiap harinya dalam taburan wijen dan gula rawak, adalah sajian organik dan “kosher” (halal menurut standar Yahudi), seperti halnya kue-kue buatannya yang lain.

Ketika Arayssi mulai mengurus toko ayahnya pada 1996, ia diperkenalkan dengan budaya Yahudi. Ia, yang tumbuh di Lebanon, jarang mendengar tentang komunitas Yahudi. Ia masih kecil ketika orang-orang Yahudi mulai meninggalkan Lebanon pada 1960-an. Namun, ia ingat cerita-cerita neneknya yang sering pergi ke rumah tetangganya yang Yahudi di mana mereka memadamkan lampu pada hari Sabat (Sabtu), hari “istirahat” orang Yahudi. Arayssi mendengar cerita-cerita koeksistensi dan toleransi di antara orang-orang Lebanon pada masa orangtua dan kakek-neneknya masih muda, yang tak lagi ia saksikan pada masanya, apalagi dalam beberapa tahun belakangan.

Toleransi dan koeksistensi adalah kata-kata yang Arayssi praktikkan setiap hari. Meski terlahir sebagai Muslim, ia dan saudari-saudarinya bersekolah di sebuah sekolah Jesuit di Lebanon, sama seperti ayah dan kakeknya yang dibaptis Kristen. Ibunya adalah seorang Muslimah taat yang salat lima kali sehari. Arayssi menikah dengan seorang Kristen Lebanon dan berencana membesarkan putrinya yang berumur empat tahun dalam semangat koeksistensi. “Saya ingin dia mengerti bahwa semua orang adalah sama,” katanya. “Tuhan itu satu, tapi kita masing-masing menempuh jalan yang berbeda menuju-Nya.”

Menimbang tingginya permintaan dari komunitas Yahudi di Brooklyn akan citarasa khas kue-kuenya, ia pun melanjutkan keputusan ayahnya untuk mendapatkan sertifikat “kosher” dan melayani orang-orang Yahudi langganan itu.

Ia mempelajari prinsip-prinsip Kashrut, seperangkat aturan makanan dalam Yahudi, dan mengubah tokonya agar memenuhi syarat untuk mendapat sertifikat kosher. Ia harus membuat keputusan-keputusan sulit dalam prosesnya. Ia memutuskan untuk hanya membuat gula-gula di tokonya dan tidak lagi menyediakan makanan Lebanon tertentu yang mengandung daging meskipun ada permintaan. Menurut Kashrut, makanan yang mengandung daging tidak boleh dibuat di dapur yang sama di mana makanan berbahan susu diolah. Sehingga Arayssi memilih untuk hanya membuat kue-kue yang kosher.

Arayssi terkadang merasa bahwa perannya butuh kesabaran, khususnya dalam mencoba mengalihkan pembicaraan yang bermuatan politik, sebuah tugas yang sulit ketika situasi di Lebanon tidak stabil. “Orang Lebanon mudah cekcok mulut dan punya pandangan politik yang sangat bias,” katanya, padahal tambahnya, “toko ini bukanlah tempat untuk membicarakan politik.” Bahkan, ia tidak menyalakan televisi di toko karena siaran-siaran berita Lebanon sering menciptakan ketegangan.

Alih-alih, ia lebih suka untuk meladeni perasaan nostalgia para pelanggannya, mereka yang telah lama tinggal di Amerika Serikat, dengan menceritakan kepada mereka cerita-cerita tentang Lebanon dan berbicara dalam bahasa Arab. “Sebagian orang datang ke sini untuk melatih bahasa,” katanya. “Yang lain bilang ke saya, ‘Ini bau Lebanon’ ketika mereka datang ke sini.”

* Anisa Mehdi (www.anisamehdi.com) adalah seorang jurnalis, pembuat film dan Sarjana Fulbright 2009-2010 di Yordania. Artikel ini kerja sama HMINEWS dengan Kantor Berita Common Ground (CGNews).