HMINEWS.COM

 Breaking News

Perempuan dalam Jebakan Kapitalisme

September 02
03:54 2010

Oleh : Istifaiyah

Perempuan dalam Jebakan Kapitalisme Oleh : Istifaiyah

Konflikus di tubuh wacana keperempuanan, adalah konflik berkesinambungan yang tiada kunjung berakhir hingga kini. Kendatipun demikian, hal tersebut selalu menarik untuk dibahas. Sebagaimana wacana kelelakian, pembahasan tentang perempuan, tanpa sadar telah kita letakkan sebagai objek. Posisi subjek maupun objek sebenarnya bukanlah posisi kontradiksi, namun proporsi. Kini, kita tak bisa lagi melihat persoalan itu secara hitam-putih, melainkan bagaimana mengelolanya.

Pendapat yang ditulis oleh Lukni Maulana (Suara Merdeka, 30/6) menuai serangan hebat dari Zusiana E Triantini (Suara Merdeka, 21/7). Sekalipun begitu, perdebatan tersebut sesungguhnya mengalami distorsi semantik yang cukup parah. Setidaknya, Lukni dan Zusiana berangkat dari pemahaman yang berbeda tentang peran dan fungsi perempuan. Bagi Lukni, perempuan yang dimaksud dalam tulisannya adalah ibu. Sedangkan bagi Zusiana, perempuan yang dimaksudnya adalah arti perempuan secara umum.

Filsafat Peran dan Fungsi

Pertama, dalam filsafat taotologi, “peran” dan “fungsi” memiliki makna yang berbeda. Peran bersifat perenial (abadi), sementara fungsi bersifat spasial dan temporal (kesementaraan, mengikuti ruang dan waktu). Peran adalah tugas yang tak tergantikan. Peran perempuan adalah melahirkan dan menyusui. Perempuan niscaya berperan sebagai ibu. Sampai kapan pun, peran perempuan sebagai ibu, adalah abadi dan tak tergantikan. Sedangkan fungsinya sebagai pengasuh, membesarkan anak, atau mengurus rumah tangga adalah tugas yang dapat/boleh tergantikan.

Semantik ini akan mudah dipahami, jika kita menganalogikan dua tugas kita sebagai manusia, yakni: abdullah dan khalifatullah. Abdullah bersifat abadi; sejak awal hingga kapan juga, manusia adalah abdi Tuhan. Sementara, khalifatullah hanyalah tugas sementara bagi manusia selama ia ada di muka bumi.

Demikian pula dengan peran (kodrat) perempuan sebagai ibu dan fungsi (irodat)-nya sebagai bagian dari keluarga maupun masyarakat. Kesalahan utama dari Lukni—sehingga ia mendapat koreksi dari Zusiana—adalah lebih banyak menuliskan ”perempuan” ketimbang ”ibu”. Kekeliruan mengoreksipun terjadi pada Zusiana, lantaran ia terjebak pada kata ”perempuan” bukan ”ibu”. Perempuan dan ibu adalah satu-kesatuan, tapi keduanya memiliki peran dan fungsi yang adakalanya berbeda. Membaca konteks adalah jawabannya.

Menolak Objekasi oleh Kapitalisme

Kedua, dalam hegemoni kapitalisme, sang objek adalah siapapun yang bisa dimanfaatkan (dieksploitasi) demi meraih keuntungan. Sang subjek (kapitalis) tak peduli ranah moral—apalagi sekadar soal kosmologi jender—dan bila perlu, Tuhan sekalipun akan dieskploitasi demi surplus value tadi (Lukman Wibowo, 2006).

Konflik kemanusiaan dengan kapitalisme hanya mampu diselesaikan secara utuh dan kompak. Perempuan dan lelaki tidak perlu terus-menerus saling menyalahi. Sebab, musuh kemanusiaan itu bukanlah fisik atau jender, tapi watak. Kapitalisme yang berwatak ekploitatif akan memanfaatkan siapapun sebagai objek—tak peduli lelaki atau perempuan—asalkan hal itu menguntungkannya.

Ingat, para kapitalis itu terdiri dari lelaki dan perempuan. Apapun borjuisme beda jender, kapitalis tetapkan kapitalis. Merekalah musuh kemanusiaan. Jadi, perbedaan jender bukanlah prinsip perseteruan, melainkan watak dan prilaku jahatlah yang menjadi musuh kita bersama.

Ketiga, penulis setuju dengan Lukni dan Zusiana, bahwa perempuan (baik itu perempuan dalam definisi ibu rumah tangga, maupun perempuan dalam definisi sosiomatrik) memang sering menjadi objek, korban, serta dieksploitir. Untuk itu—menyitir ucapan Karl Marx—“kaum perempuan di seluruh dunia, bersatulah!”. Bukan dalam rangka menghapus objekasi terhadap dirinya, namun meletakkannya secara proporsional di antara tugas sebagai subjek dan objek. Di lain pihak, ketika perempuan menolak diposisikan sebagai ”korban”, maka pada dimensi berikutnya perempuan juga harus menghindari dirinya sebagai ”terdakwa”.

Perempuan harus menolak kapitalisasi terhadap dirinya. Perempuan telah terjebak atau dijebak globalisasi, seperti yang digugat oleh Zusiana, bukan lagi pertanyaan yang mendasar kini. Sebab, globalisasi—sebagai diferensiasi dari kapitalisme—memang suatu jebakan yang dibuat secara sistematis.

Perempuan, bersama stakeholders yang lain (seperti negara, media, masyarakat, dsb) mesti berjuang terus dalam menentang sistem dan prilaku yang eksploitatif ini. Sehingga, gagasan Lukni dan Zusiana—tentang eksistensi peradaban baru dan Indonesia yang lebih bermartabat—bisa terwujud.

Perempuan dan lelaki adalah dua pilar determinisme kehidupan.

Istifaiyah, Anggota HMI Cabang Semarang.

*Artikel ini pernah dimuat di Koran Suara Merdeka (11/8/2010)

About Author

Redaksi

Redaksi

Related Articles

1 Comment

  1. nining
    nining September 27, 16:43

    teeeeeeeennnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnna hooooooooooooooooooooooooooooooo

    Reply to this comment

Write a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Facebook Kami

Dapatkan update berita kami

Terimakasih sudah berlangganan

Terjadi kesalahan.

About

Hminews.com adalah website media pergerakan anak muda masa kini. Kami mewartakan berita dan opini dari anak muda dari berbagi pergerakan mahasiswa. kirim artikel anda ke redaksi at hminews.com.