Siswi muslimah Eropa

Oleh Iman Kurdi

Berdasarkan perkiraan dari sebuah lembaga American Institute, pada tahun 2050, populasi umat Islam di Uni Eropa akan mencapai lebih dari 20 persen dari total populasi.

Saat ini warga Muslim baru sekitar empat persen dari populasi Eropa, namun kombinasi dari imigrasi dan tingkat kelahiran yang lebih tinggi di kalangan umat Islam menunjukkan bahwa populasi Muslim tumbuh pesat secara eksponensial daripada populasi grup lain di Eropa. Sebegitu pesatnya sehingga akan dengan mudah mencapai sepertlima dalam 40 tahun mendatang, dan bagaimana hal tersebut akan mengubah wajah Eropa?

Muslim adalah kelompok yang sangat beragam. Secara global, umat Islam saat ini sekitar 23 persen dari populasi dunia, jauh dari proyeksi jumlah pada tahun 2050 di Eropa. Meskipun mudah untuk membayangkan mengenai “Muslim Ummah” dan konsep kesatuan Muslim, namun kenyataannya jauh dari itu. Muslim di Eropa adalah kelompok yang sangat beragam dan cenderung untuk mengorganisir diri berdasar negara-negara asal mereka masing-masing, daripada berdasarkan kesamaan iman mereka. Pada hari Jumat mereka mungkin pergi shalat Jumat bersama, dan bahkan masing-masing masjid mencoba menarik kelompok-kelompok yang berbeda, tapi ketika pulang ke rumah mereka kembali ke individiualisme masing-masing.

Muslim Eropa juga sangat berbeda dalam hal tingkat integrasi mereka terhadap tanah air baru mereka (Eropa). Pertanyaannya adalah seberapa dalam mereka akan mengintegrasikan dirinya pada tanah air baru tersebut pada tahun 2050 nanti? Akankah mereka menjadi warga Muslim Eropa yang sepenuhnya matang, dalam arti mereka-mereka yang lahir sebagai generasi kedua, ketiga, dan keempat lahir dari para orang tua imigran? Bisakah mereka benar-benar bisa demikian (matang -red) sementara mereka baru terpaut beberapa decade, dibandingkan dengan para generasi yang sudah datang berabad-abad?

Franck Ribery, pemain bola Muslim yang rajin berdoa

Selama Piala Dunia awal musim panas lalu, banyak hal yang bisa dibicarakan mengenai tim sepak bola Jerman. Terlepas tim tersebut terdiri dari anak-anak muda dan dinamis; mereka juga beragam etnis. Dari 23 pemainnya, 11 memiliki latar belakang etnis asing. Hebatnya keragaman etnis tersebut dianggap sebagai sesuatu yang dibanggakan dan sebagai aset bagi tim. Sebagaimana diucapkan oleh pelatih nasional Joachim Loew tentang Mesut Oezil, yang merupakan salah satu dari dua pemain dengan latar belakang orang tua Turki, sebagai “hadiah untuk sepak bola Jerman”. Sebuah tim yang diisi oleh pemain berbakat, bersemangat, bangga dan bersatu – apakah itu adalah contoh dari apa yang akan terjadi dalam 40 tahun mendatang?

Di Jerman, ada sekitar 2.900.000 penduduk berasal dari Turki. Mereka adalah komunitas Muslim terbesar Jerman. Seberapa lama sebelum mereka selesai digolongkan sebagai asal Turki dan kemudian menjadi murni sebagai orang Jerman? Hal itu akan terjadi pada tahun 2050. Mereka akan sama dengan apa yang disebut dengan Irish American atau Italian Amerikcan– dimana tidak ada yang menganggap ‘kurang Amerika’ karena memiliki keturunan asing.

Namun agama adalah masalah yang berbeda dengan etnisitas. Jika integrasi berhasil, mereka tidak akan lagi melihat diri mereka sebagai warga negara Turki kelahiran Jerman, tapi sebagai Muslim Jerman. Karena integrasi adalah proses dua arah, identitas baru Muslim tersebut akan membawa karakteristik Jerman  yang akan memperkaya identitas Islamnya. Menilik pada ke-27 negara yang membentuk Uni Eropa, maka  dan Anda dapat melihat peluang yang akan terjadi di sana.

Piala Dunia tidak dimenangkan oleh Jerman, melainkan Spanyol. Spanyol memiliki jumlah penduduk Muslim sekitar satu juta, sekitar dua persen dari jumlah penduduk, sedikit lebih kecil dari tetangganya, Perancis, yang memiliki penduduk Muslim terbesar di Eropa. Namun Spanyol baru-baru mengalami gelombang besar imigrasi. Dalam waktu satu dekade, persentase penduduk asing yang lahir meningkat dari tiga persen menjadi lebih dari 13 persen. Apakah Spanyol akan kehilangan salah satu identitas nasional sebagai akibat dari arus ini?

Tentu ada reaksi spontan pada berita yang berhubungan dengan angka imigrasi ini, imigran selalu menakutkan. Demikian pula dengan imigran Muslim,  menakutkan. Di beberapa surat kabar Inggris, ada pembicaraan tentang “bom waktu demografis Muslim”, dan seperti biasanya, berita semacam itu disertai opini yang dominan tentang Islam: Wanita memakai niqab.

Ketakutan akan Islam radikal akan mengambil alih Eropa menjadi semacam ketakutan bersama sebagai akibat dari perubahan segmen pertumbuhan penduduk Eropa.

Di Spanyol, misalnya, survei Pew meunjukkan bahwa 65 persen dari orang Spanyol agak atau sangat prihatin pada meningkatnya ekstremisme Islam di negara mereka. Ketakutan terhadap ekstremis Islam tidak hanya branding kekejaman yang telah dilakukan oleh teroris, tetapi juga oleh minoritas Muslim yang mempraktikan interpretasi Islam ekstrim. Sehingga bukan suatu hal yang kebetulan jika pembicaraan tentang “bom waktu demografis Muslim” diidentikan dengan imej seorang perempuan dalam sebuah berhijab. Burqa (jilbab dengan penutup muka sebagaimana orang Afganistan -red) sebagai salah satu contoh hijab telah salah kaprah digambarkan sebagai isu yang dominan. Faktanya, jutaan perempuan Muslim yang tinggal di Eropa, hanya beberapa ribu saja yang memakainya dan itupun hanya di beberapa negara – Prancis, Spanyol dan Belgia adalah negara-negara yang undang-undangnya melarang perempuan memakai burqa.

Perspektif baru memang diperlukan. Seperlima adalah tetap minoritas. Islam tidak akan menjadi agama yang dominan di Eropa. Demikian juga, Islam yang dipraktekkan oleh Muslim Eropa umumnya lebih toleran dan terbuka daripada Islam yang dipraktekkan di negara-negara yang mayoritas penduduknya Muslim.

Sebuah studi baru-baru ini oleh pemerintah Spanyol menyimpulkan bahwa untuk mayoritas Muslim yang tinggal di Spanyol berpandangan bahwa agama adalah penting, tetapi mereka juga percaya pada praktek Islam yang toleran dan terbuka.

Perkiraan jumlah penduduk jarang yang meleset. Yang sulid diprediksi adalah pasang-surut migrasi berdasarkan faktor ekonomi, politik dan sosial. Ada juga asumsi bahwa tingkat kelahiran akan terus mengikuti jalan yang sama, dimana perempuan muslim akan lebih banyak melahirkan anak dari pada perempuan non-Muslim.

Semua hal di atas boleh saja tidak terjadi, tetapi jika umat Islam pada akhirnya benar-benar menjadi seperlima dari penduduk Eropa pada tahun 2050, hal tersebut harus dipandang sebagai kabar baik. Kabar baik buat Eropa karena akan telah memasukkan kekayaan Islam dalam suatu warisan budaya Eropa yang sudah kaya. Juga merupakan kabar baik bagi Islam, karena akan memberikan kontribusi bagi  keberadaan Islam yang lebih toleran serta spiritual Islam yang lebih baik dalam rangka melawan ancaman ekstremis yang sesungguhnya.

Penulis: Iman Kurdi (ik511@hotmail.com)

Diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Lara Kelana dari www.Arabnews.com