Mengajarkan perdamaian pada generasi mendatang

Mohamad Bashar Arafat

HMINEWS.COM- Baltimore, Maryland – Para tokoh agama sudah semestinya mendukung spirit firman Tuhan, yang tidak membedakan warna kulit dan keyakinan, dan ada dalam wahyu di semua agama. Atas kehendak Tuhanlah masyarakat kita beragam secara budaya dan agama. Tuhan berfirman dalam al-Qur’an: “Dan jika Tuhanmu menghendaki, tentu Dia jadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berbeda” (QS Hud:118).

Mengajarkan – dan mendorong – nilai-nilai yang mendukung kesalingmengertian terhadap kebinekaan adalah tanggung jawab semua pemimpin agama apa pun keyakinannya, sesuatu yang selalu diajarkan dalam al-Qur’an.

Selaku imam di Amerika Serikat selama 20 tahun dan sebelumnya di Syria selama sembilan tahun, saya bersyukur atas pengalaman menjalani hidup di suatu masyarakat yang beragam secara budaya dan agama. Saya sering bertanya-tanya: bagaimana keluarga manusia, yang menghuni kampung global ini, yang telah dianugerahi komunikasi dan transportasi massa, bisa mengapresiasi kesamaan-kesamaan kita yang jauh melebihi perbedaan-perbedaan kita?

Tak lama setelah datang ke Amerika Serikat, saya sadar bahwa banyak orang tidak mengerti ajaran Islam yang sebenarnya dan sumbangsih peradaban Muslim terhadap masyarakat Amerika dan Eropa. Kurangnya pengetahuan dan pemahaman ini adalah hambatan utama untuk mewujudkan koeksistensi yang harmonis antara Muslim dan non-Muslim. Lagipula, media tidak memuat cerita-cerita yang memperlihatkan seberapa banyak kesamaan yang dimiliki oleh agama-agama, dan tidak pula fokus pada perlunya hubungan antaragama.

Ini adalah salah satu yang mendorong saya untuk mendirikan Civilizations Exchange and Cooperation Foundation (CECF), sebuah organisasi yang menumbuhkan kerjasama, dan bukannya konfrontasi, di antara orang-orang dari agama dan budaya yang berbeda melalui program-program pertukaran mahasiswa, profesional dan tokoh agama, sekaligus seminar dan perkuliahan pendidikan budaya di Amerika Serikat, Yordania, Mesir, Spanyol dan Maroko.

Salah satu program inti CECF adalah konferensi antariman dan kepemimpinan pemuda yang dinamakan Better Understanding for a Better World (BUBW), yang saya dirikan dengan tujuan menghimpun para mahasiswa dari Timur Tengah, Afrika, Asia, Eropa dan Amerika Utara. Setelah konferensi pertama pada 2006, saya mulai menyadari kebutuhan mendesak untuk memberi para pemuda di seluruh dunia pengalaman seperti ini, yang memberi mereka kesempatan untuk bertemu dengan sesama pemuda dari hingga 35 negara dan berbagi informasi tentang sejarah, budaya, agama dan politik di negara dan masyarakat mereka.

Namun, yang paling berharga buat mereka adalah sisi antariman dalam program ini. Masing-masing kelompok diajak berkeliling ke masjid, sinagog dan gereja, dan bertemu dengan para tokoh agama dari agama-agama Ibrahimi, yang menjelaskan ajaran dan sejarah agama mereka. Banyak dari para mahasiswa ini tidak pernah punya kesempatan untuk mendengarkan tokoh agama lain menerangkan keyakinan inti dan amalan agama mereka. Dan banyak dari mahasiswa itu, saya kira, telah mendengar informasi yang keliru tentang agama lain atau mempelajarinya lewat lensa konflik politik atau sosial.

Selalu saja mengharukan bagi saya untuk menyaksikan perubahan yang diperlihatkan oleh para pemuda ini – yang merupakan harapan dan masa depan masing-masing negara yang mereka wakili – di akhir konferensi. Dengan bertambahnya pengetahuan mereka tentang agama, budaya dan masyarakat yang berbeda, mereka tidak saja mendapatkan kepercayaan diri tapi juga mengembangkan apresiasi terhadap nilai dialog antariman. Beberapa orang bahkan menangis ketika mereka pulang, karena menyadari seberapa akan rindunya mereka pada masa-masa yang membawa perubahan drastis pada hidup mereka.

Pada akhir konferensi pertama BUBW di Orlando, 2006, seorang mahasiswa dari Lebanon mengatakan, “Saya merasa tidak ada cemas lagi di hati saya. Saya sekarang mengerti betapa serupanya kita semua! Saya pribadi … belajar dari setiap kegiatan. Saya sadar betapa bodohnya untuk memerangi agama.” Mahasiswa lain dari Ghana, yang menghadiri konferensi BUBW 2010 di Baltimore, berkomentar tentang pengaruh belajar tentang perdamaian melalui dialog antariman, dan menyatakan bahwa “sejak kembali dari konferensi ini, setiap kali saya memikirkannya, mendorong saya untuk berbuat lebih banyak bagi dunia … Kini saatnya bagi saya untuk pulang ke negara saya, Ghana, dan berupaya untuk perdamaian dengan bekerjasama dengan CECF.”

Satu-satunya jalan maju bagi kita semua, sebagai satu keluarga dengan latar belakang dan agama yang berbeda, tua dan muda, adalah untuk berjalan bersama di atas jalan dialog antariman, yang menggantikan kebodohan dengan pengertian, pengabaian dengan perhatian, kerakusan dengan kedermawanan, dan konflik dengan perdamaian dan cinta.

Imam Mohamad Bashar Arafat adalah Presiden Islamic Affairs Council of Maryland dan pendiri Civilizations Exchange and Cooperation Foundation. Artikel ini adalah bagian dari seri tentang tokoh agama dan dialog antariman yang ditulis untuk Kantor Berita Common Ground (CGNews) dan HMINEWS.COM