Oleh Mona Eltahawy

Mona Eltahawy

New York, HMINEWS – Saya mempunyai dorongan yang kuat untuk memberi tahu setiap orang yang saya jumpai bahwa saya penganut Islam.

Karena saya Muslimah yang tak berjilbab, saya sering dikira seorang wanita Latin atau wanita etnis yang lain, yang cocok dengan perawakan saya. Tapi karena sentimen anti-Muslim telah meningkat di Amerika Serikat, meningkat pula dorongan saya untuk mengatakan: “Hai Amerika: saya Muslim. Mari kita bicara.”

Dorongan itu membawa saya ke trotoar di depan Park51, masjid dan pusat kegiatan masyarakat di dekat Ground Zero, pada akhir pekan Hari Buruh (awal September). Saya menghabiskan empat hari bersama sekelompok kecil para aktivis jalanan yang lebih dari tiga minggu telah berdiri di depan Park51 dengan semboyan “Peace Tolerance Love” (Perdamaian, Toleransi, Cinta) untuk mendukung pembangunannya.

Para relawan aktivis jalanan itu terdiri atas orang-orang non-Muslim dan Muslim, para aktivis baru yang masih berusia 20-an tahun dan juga para aktivis veteran dari generasi orangtua mereka.

Kami berada di sana tidak untuk membela atau berbicara atas nama para tokoh agama pendukung Park51 atau penyokong dananya. Kami di sana untuk membela hak konstitusional untuk membangun Park51. Bagi saya, penentangan Park51 adalah bagian dari sentimen anti-Muslim yang lebih luas yang juga telah menentang beberapa proyek masjid yang lain di Amerika Serikat. Ini lebih dari sekadar soal Park51.

Orang-orang yang paling gampang dihadapi, menurut saya, adalah orang-orang yang melintas, yang berterima kasih kepada kami atau mereka yang melontarkan makian begitu mereka lewat.

Empat hari berada di depan Park51 memberi saya banyak pelajaran. Pertama-tama, saya belajar untuk tidak menganggap setiap orang yang menentang pembangunannya sebagai “fanatik”. Sebagian dari mereka yang menentang Park51 memang fanatik, tapi seperti teman-teman aktivis jalanan ajarkan kepada saya, ketika Anda menyebut mereka fanatik, itu membuat mereka defensif dan akhirnya menggeser fokus dari masalah yang dihadapi – diskusi tentang hak untuk membangun Park51 – ke perasaan tersakiti dari orang-orang yang baru saja Anda sebut fanatik.

Dan diskusi yang demikian itu membuahkan hasil. Dua perempuan yang berjalan ke Park51 dari suatu unjuk rasa yang memprotesnya, menanyakan beberapa pertanyaan. Yang satu ingin tahu tentang jihad. Saya katakan saya mengutuk semua tindakan kekerasan yang dilakukan atas nama agama, termasuk agama saya. Setelah bicara kesana-kemari, Meryl mengatakan bahwa kita harus melancarkan jihad melawan kekerasan atas nama agama apa pun dan bertanya apakah ia boleh memeluk saya.

“Mengapa jutaan Muslim yang lain tidak seperti Anda?” tanyanya.

“Ada banyak,” jawab saya.

Mary ingin tahu bagaimana saya, sebagai perempuan, bisa tetap menjadi Muslim padahal para Muslimah diperlakukan begitu buruk.

Saya katakan kepadanya bahwa saya berbohong bila mengingkari bahwa perempuan-perempuan di negara-negara mayoritas Muslim menikmati hak-hak yang setara tapi saya juga mengatakan bahwa saya juga bergabung dengan gerakan yang bernama Musawah, yang berarti kesetaraan, yang memperjuangkan kesetaraan dan keadilan dalam keluarga Muslim dengan berupaya menghilangkan penafsiran-penafsiran yang misoginistik dan terdominasi laki-laki atas Islam.

Lagi, setelah diskusi kesana-kemari, Mary merangkul saya.

Kemudian, seorang perempuan lain bertanya: “Tidakkah Anda bisa mengerti kalau Anda tengah menyakiti perasaan orang-orang dengan membangun begitu dekat dengan Ground Zero? Pikirkanlah keluarga para korban.”

“Bisakah Anda mengerti ketika Anda bertanya kepada saya seperti itu Anda tengah beranggapan saya punya kaitan dengan serangan 11 September?” jawab saya. “Mereka (para pelaku serangan) adalah Muslim, tapi itu 19 orang saja. Tidak ada dari kami yang ada di sini yang punya keterkaitan dengan serangan itu.”

“Tapi apakah sulit untuk memindahnya ke tempat lain?”

“Ini sebuah situasi yang benar-benar sulit,” kata saya kepadanya. “Ada banyak masjid di Amerika yang ditentang. Di mana kalian tidak melakukannya? Sekali Anda membuat Park51 pindah, setiap orang bisa mengatakan, ‘Oh saya tidak ingin Muslim di sekitar sini. Pindah mereka.'”

Ia pun memeluk saya!

Saat pulang ke rumah, saya sering kali tak hanya siap untuk rebahan tapi juga bertanya-tanya apakah saya telah membantu membendung gelombang sentimen anti-Muslim itu. Apakah bicara kepada enam atau tujuh orang mengubah keadaan?

Seorang lelaki yang mengaku seorang Kristen liberal berhenti dan menanyakan pertanyaan-pertanyaan umum tentang Islam. Ia punya banyak pertanyaan. Setelah bicara selama setengah jam, ia berterima kasih kepada saya dan mengatakan bahwa itu adalah perbincangan paling menarik tentang agama yang pernah ia alami. Jadi saya harus yakin kalau kampanye “Hai Amerika: saya Muslim, mari kita bicara” yang saya lakukan, ada manfaatnya.

* Mona Eltahawy adalah seorang jurnalis dan pengamat di New York, serta seorang dosen internasional tentang isu-isu Arab dan Muslim. Artikel adalah kerja sama HMINEWS dengan Kantor Berita Common Ground (CGNews).