HMINEWS.COM

 Breaking News

Jon Stewart, Fox News dan Park 51

September 14
09:04 2010

Jon Stewart, Fox News dan Park51

Hoda Osman

HMINEWS.COM- New York, New York – Pada September 2002, setahun setelah serangan 11 September, saya menumpang pesawat dari Kairo ke New York untuk memulai hidup baru di Amerika Serikat. Dua belas jam kemudian, kami mendarat di bandara JFK. Dalam kondisi setengah tertidur, saya berdiri mengantri di stan keimigrasian, dan tiba-tiba mendengar suara azan. “Tak mungkin,” pikir saya. “Saya di New York.” Saya menengok ke sekeliling dan melihat salah seorang dari tiga lelaki Muslim berjenggot yang satu pesawat dengan saya mengumandangkan azan sembari mereka menggelar sajadah.

Betapa beraninya, pikir saya, melakukan hal itu di waktu dan tempat sensitif seperti ini – dan bahkan sebelum mereka lolos pemeriksaan keimigrasian. Saya mengamati selama beberapa menit dan mengira para petugas bandara akan meringkus mereka, tapi, di luar dugaan saya, orang-orang itu melakukan salat tanpa mendapat interupsi.

Itu adalah pengalaman pertama saya merasakan kebebasan beragama di Amerika Serikat.

Sepanjang delapan tahun tinggal di sini, saya telah merasakan toleransi beragama dalam banyak bentuk lainnya. Orang-orang yang saya temui selalu menerima agama saya. Mereka yang tidak tahu banyak tentang Islam akan bertanya: mengapa Anda salat? Bagaimana caranya? Mengapa Anda puasa? Apakah al-Qur’an benar-benar mengatakan hal itu?

Saya selalu dengan senang hati menerangkan.

Tak ada kekurangan masjid di New York. Saya dan anak-anak saya bisa menyaksikan berubahnya warna lampu menjadi hijau di Empire State Building yang menandai hari raya Idul Fitri, dan ternyata juga ada perangko khusus hari raya Muslim yang dikeluarkan oleh Jawatan Pos AS.

Karenanya, kontroversi baru-baru ini tentang pusat kegiatan Islam Park51 dan terutama misinformasi dan paranoia di seputarnya cukup mengecewakan, kalau tidak mau dibilang menyakitkan. Dampak buruk yang timbulkan juga menyedihkan, termasuk meningkatnya kebencian terhadap Muslim, ditentangnya pembangunan masjid di daerah-daerah lain di Amerika dan bahkan tindak kekerasan.

Ini mengesalkan karena sejak serangan 11 September, Anda sering mendengar pertanyaan: di mana orang-orang Muslim moderat? Mengapa mereka tidak bersuara?

Nah, di sinilah mereka, di Park51. Beri mereka kesempatan.

Saya mengunjungi masjid di Park51 beberapa bulan yang lalu, sebelum kontroversi terjadi. Saya tergerak oleh ceramah Imam Feisal Abdul Rauf tentang toleransi, keterbukaan dan penerimaan terhadap agama, nilai dan budaya lain. Saya juga berjumpa istrinya, Daisy Khan, dan kagum dengan aktivitasnya, termasuk dalam menjalankan sebuah organisasi yang mengangkat capaian-capaian Muslimah.

Dekatnya Park51 ke Ground Zero semestinya tak dianggap sebagai “provokasi”, seperti Sarah Palin menyebutnya, tapi merupakan pesan bahwa “kita satu tim dalam perjuangan melawan ekstremisme.”

Ketika saya sangat kesal dengan Islamofobia di seputar pendirian pusat kegiatan ini, saya tak tidur sampai sedikit larut dan menonton The Daily Show yang dibawakan komedian Jon Stewart. Saya tertawa ketika Stewart mengingatkan Fox News bahwa, salah seorang yang mungkin menjadi donatur Park51, Pangeran Saudi, Al-Waleed bin Talal, adalah juga salah satu pemegang saham terbesar Rupert Murdoch’s News Corp, yang memiliki Fox News. Dan saya ingat bahwa mereka yang mengeksploitasi isu ini tidaklah mewakili Amerika.

Stewart tidaklah sendirian. Ada banyak orang yang loyal mendukung kebebasan beragama, termasuk Walikota New York City Michael Bloomberg, anggota Kongres Jerry Nadler, Senator Russ Feingold dan Senator Al Franken, serta banyak jurnalis dan tokoh publik yang telah mendukung proyek ini lewat sejumlah surat pembaca. Dan konglomerat hip-hop Russell Simmons menulis kata “coexist” (hidup berdampingan) di jendela apartemennya, di dekat tempat proyek ini.

Baru-baru ini, New York Neighbors for American Values, sebuah koalisi lebih dari 40 organisasi hak sipil dan kelompok agama, dibentuk untuk mendukung pembangunan pusat kegiatan ini.

Sayangnya, suara-suara yang membenci sering kali demikian nyaring hingga menutupi suara-suara yang toleran, dengan pesan-pesan yang sensasional sehingga lebih menarik untuk masuk pemberitaan. Tapi saya masih bisa berharap.

Saya bersyukur bahwa sebuah perdebatan telah dimulai. Terima kasih kepada semua orang yang saya sebutkan tadi. Saya mengapresiasi Komisi Pelestarian Tengara Kota New York City yang secara bulat menolak status bangunan tengara kota bersejarah untuk bangunan di tempat di mana Park51 akan dibangun, sehingga membuka jalan bagi pembangunannya. Saya bisa membayangkan banyak tempat di seluruh dunia di mana proyek serupa telah dihentikan, bagaimanapun caranya. Jadi, setelah delapan tahun berlalu, saya masih bahagia berada di sini.

* Hoda Osman adalah wartawan yang tinggal di New York. Artikel ini ditulis untuk Kantor Berita Common Ground (CGNews).

Sumber: Kantor Berita Common Ground (CGNews), 10 September 2010,

About Author

Redaksi

Redaksi

Related Articles

0 Comments

No Comments Yet!

There are no comments at the moment, do you want to add one?

Write a comment

Write a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.