Genealogi Tubuh Perempuan

Tubuh perempuan—tubuh dalam artian verbal—adalah segalanya. Dia adalah tempat segala jenis pengetahuan muncul untuk mengatur dan mendisiplinkan. Dia juga merupakan lokus politik di mana berbagai ideologi dikontestasikan dan dipertandingkan. Tubuh perempuan juga merupakan tempat kuasa mengalokasikan kekuasannya. Alhasil, justru karena ke-segala-annya itulah tubuh perempuan kehilangan independensinya. Tubuh perempuan hanya menjadi objek pengetahuan yang mendisiplinkan tanpa pernah menjadi subjek bagi dirinya.

Kontestasi ideologi yang berlokus pada tubuh perempuan ini nampak nyata dalam perdebatan seputar UU Pornografi. Pendukung UU Pornografi mempertandingkan ideologi Islam sebagai cara yang khas untuk mengatur dan mendisiplinkan tubuh perempuan. Sedangkan pihak yang menolak UU Pornografi  justru semakin masuk dalam lingkup komodifikasi budaya kapital yang ternyata juga tidak kalah mensubordinasikan perempuan. Dari sini kita bisa melihat bahwa perdebatan mengenai UU Pornografi bukanlah perdebatan meskipun sekilas nampak sebagai perdebatan. Yang menolak maupun yang menerima UU itu sama-sama berasumsi bahwa tubuh perempuan merupakan objek yang harus diatur dan dikuasai. Uniknya, pengaturan dan penguasaan atas tubuh perempuan ini sama-sama meng-atas nama-kan kebaikan perempuan. Tubuh perempuan itu sendiri tidak pernah dibiarkan menjadi subjek yang berkuasa atas sejarahnya sendiri. Dia (di)diam(kan) dalam suatu diskursus yang lahir dari suatu mekanisme hubungan kuasa.

UU Pornografi hanyalah contoh kecil dalam kebudayaan yang selalu meminggirkan perempuan. Dalam mitos dan filsafatlah perempuan benar-benar kehilangan tubuhnya. Dan mungkin dari sinilah bisa ditemukan asal-usul kuasa yang selalu menubuh.

Mitos, khususnya di Barat, selalu menempatkan peremuan dalam posisi berekurangan. Perempuan akan menjadi ‘lengkap’ hanya ketika laki-laki melengkapinya. Mitos putri salju adalah contoh yang paling mudah. Seorang putri yang tertidur dalam-ketidak sadaran total (baca: kondisi natural perempuan yang tidak dapat berpikir rasional dan oleh karena itu tidak lengkap) yang akhirnya diselamatkan oleh pangeran yang menciumnya sehingga pada akhirnya, sang putri pun bisa melihat indahnya dunia (baca: perempuan yang hanya bisa menjadi manusia seutuhnya hanya karena bantuan seorang laki-laki. Ciuman dalam mitos ini benar-benar menandakan bahwa yang diatur adalah tubuh).

Struktur mitos ini sangat mirip dengan oposisi-oposisi yang diasalkan pada oposisi feminitas dan maskulinitas. Oposisi alam (nature) dan kebudayaan (culture) misalnya. Alam selalu diidentikkan dengan kata ‘ibu’, juga selalu disimbolkan dengan tubuh perempuan. Oleh karena itu alam adalah simbol bagi feminitas. Tetapi alam itu sendiri tidak pernah bernilai pada dirinya (baca: kondisi awal putri salju yang tertidur). Dia hanya bernilai dalam konteks kebudayaan, yang dengan jelas bersifat maskulin. Alam hanyalah objek yang akan diolah dan menjadi bernilai oleh kerja-kerja kebudayaan (baca: putri yang akhirnya sadar bahwa dirinya cantik setelah bangun akibat ciuman sang pangeran).

Di dalam filsafat, perempuan semakin kehilangan kuasa atas tubuhnya sendiri. Tamsil Plato yang sangat terkenal mengindikasikan betapa filsafat berperan besar terhadap mengakarnya struktur patrialkal kebudayaan kontemporer. Dalam tamsil tersebut Plato mengatakan bahwa seorang filsuf harus membebaskan dirinya dari keterkungkungan di dalam gua yang hanya menyediakan bayangan. Filsuf harus keluar untuk melihat kenyataan. Oleh Irigaray, gua dalam tamsil ini dibaca sebagai simbol perempuan. Oleh karena itu perempuan dalam pemikiran Plato hanya bisa menghasilkan bayangan. Menjebak laki-laki dalam pemikiran yang tidak nyata[1]. Inilah perempuan dalam filsafat.

Tetapi tubuh itu sendiri selalu mengelak, bahkan melawan tanpa disadari oleh pemiliknya. Gayatri Spivak mendemonstrasikan perlawanan tubuh ini dalam pembacaannya atas novel Frankenstein or the Modern Prometheus karya Shelley[2]. Victor, tokoh utama dalam novel ini, selalu mengatur adiknya Elizabeth agar bertingkah seperti ibunya yang telah meninggal. Hasilnya adalah suatu tubuh perempuan yang mirip dengan mesin otomat, tubuh yang patuh. Tetapi tubuh dan mesin yang patuh itu kemudian menjadi monster yang ditakuti. Sebuah gambaran tentang kuasa yang tidak pernah menemukan momentumnya.

[1] Irigaray, Luce, Speculum of the Other Woman, Ithaca: Cornell University Press, 1985, bagian ketiga.

[2] Spivak, Gayatri Chakravorty (1999), A Critique of Postcolonial Reason: Toward a History of the Vanishing Present, Cambridge, MA: Harvard University Press.

[]GM Nur Lintang Muhammad