BUKA TOPENGMU WAHAI PARA GEMBALA! PARA DOMBA KINI TELAH MEMBANGKANG! (foto : kompasiana.com)

Oleh : Andre GB

sebuah lemparan batu untuk para Leninis, Maois, Trotskyis, Stalinis, cs

mari bayangkan sebuah kota

di mana semua rumah dan gedung berbentuk

lalu di cat warna yang sama

mari bayangkan sebuah malam

di mana semua ranjang dan kamar di isi

oleh mimpi yang sama


mari bayangkan sebuah hari

di mana semua lelaki dan perempuan

mengenakan pakaian yang sama


mari bayangkan sebuah keadaan

di mana sarapan hingga makan malam

dengan suguhan menu yang sama

dan mari bayangkan kebosanan itu

(Anti Massa – First Chapter, puisi Andre GB on September 2010)

Ludahan Pembuka

Sebuah pesan dikirimkan oleh seorang kawan, di akun facebook milikku. Aku menerimanya ketika sibuk dengan diriku sendiri. Isinya sederhana. Memintaku menulis sebuah esai tentang budaya dan aspek-aspek perjuangannya dalam waktu kurang dari dua minggu.

Tentu saja tulisan pesanan tersebut harus sesuai dengan bunyi kentut kaum kiri. Tak heran karena kawan ini adalah seorang aktifis kiri dan jika aku mengiyakan, tulisan tersebut akan dipublikasikan di media propaganda yang mereka kelola.

Sekelompok oposisi wayang yang hidup dalam utopi tentang masa depan sebuah masyarakat tanpa kelas di masa yang akan datang setelah semua prasyaratnya terpenuhi. Kurang lebih revolusi bagi mereka adalah seperti penerimaan tentara yang memuakkan itu. Salah satunya adalah adanya sebuah kediktatoran proletariat, dimana kekuasaan negara diambil alih dan dikontrol sepenuhnya oleh para birokrat partai, setelah kediktatoran kapitalisme borjuis digulingkan.

Aku menolak dengan sarkastik sembari menyampaikan bahwa aku bukan lagi seorang kiri yang baik, dan karena alasan itulah tak pantas kiranya jika kemudian kelompok oposisi kiri yang baik dan teguh hati dalam obsesi kekuasaannya membaca sepotong tulisan dari orang sepertiku. Seorang pembangkang yang buruk yang tak ingin membuat para revolusioner terkena diabetes atau ambeyen dan kemudian disalahkan. Apakah ia tak mengetahui bahwa aku telah belajar untuk mempertanyakan semua doktrin yang pernah mereka cecoki dalam otakku?

Bukankah sangat wajar jika kita kembali mempertanyakan semuanya. Sebuah evaluasi selalu dibutuhkan ketika kegagalan demi kegagalan terjadi. Kurang lebih mirip ketika kita berbalik untuk mempertanyakan apakah kita memilih untuk sesuatu hal, ataukah pilihan itu datang dari luar dipilihkan untuk kita? Dan sejak saat itu, aku telah memilih untuk mengorganisir diriku sendiri dan menolak menjadi domba yang mesti digembalakan. Lagipula memang tak ada hewan yang bahagia di gembalakan, di rumahkan dalam kandang atau dijadikan peliharaan sekedar pajangan. Kalau hewan tak butuh pemimpin, mengapa aku perlu? Mungkinkah yang butuh pemimpin jauh lebih buruk dari pada hewan? Ah, jawabannya tentu relatif bagi banyak orang.

Dan bukankah orang-orang kiri selama ini berkoar-koar serta mengaku terkenal dengan metode kaderisasi yang mampu menghasilkan robot-robot yang berpikir, berbicara dan bertindak dalam satu manual yang sama? Bukankah mereka adalah kumpulan vanguard yang cerdas dalam wejangan-wejangan politiknya? Mereka tentu jauh lebih hebat dariku untuk mengutip bukan sekedar satu dua paragraf dari kitab-kitab suci mereka. Kitab-kitab yang sebenarnya telah banyak mempunyai kelemahan karena ketinggalan zaman. Keinginan kelompok kiri untuk berkuasa juga tak akan bisa dipungkiri karena over dosisme kepercayaan diri bahwa mereka adalah para gembala yang baik. Sedang aku tentu saja bukan seorang yang sesuai kriteria itu, mengingat kemampuanku yang hanya bisa menuliskan puisinya sendiri sebagai pengganti kutipan. Sebab aku tak ingin merusak kegiatan minum kopi, di selingi merokok dan membiarkan jari-jariku menari di atas tuts laptop sembari membolak balik halaman buku dengan mata tegang. Hipertensi itu menyebalkan.

Tulisan ini juga dibuat sebagai sebuah awal seperti adegan pipis sembarangan untuk mencoba memulai lawakan yang kuharap tak lucu. Tidak hanya dengan kawanku yang mengirimkan pesan itu. Namun lebih jauh daripada itu adalah menyerang doktrin Leninisme, Maoisme, Stalinisme hingga Trostkyisme yang selama ini telah memakai topeng manis yang dalam pandanganku segera mesti dihancurkan. Mencoba menelanjangi bualan bahenol mereka yang sebenarnya tak jauh lebih baik atau lebih buruk dari kapitalisme borjuis yang hanya berganti sebutan menjadi neoliberalisme. Karena bagiku hari ini, kediktatoran proletariat adalah kemuraman hidup yang menggunakan make up tebal di wajahnya dan menyuntikkan silikon ke dalam payudaranya agar terlihat lebih montok.

Dan aku tak butuh kutipan dari teks-teks buku ataupun kutipan ayat-ayat suci untuk membenarkan apa yang kutulis. Aku merasa cukup layak menjadi pecundang untuk mempertanggungjawabkan apa yang kutulis. Pengalamanku sendiri yang pernah beberapa tahun dijebak dalam kekonyolan ini, telah cukup untuk menguatkan kakiku untuk berlari meninggalkan kebohongan mereka tentang revolusi. Telah cukup menguatkan tanganku untuk berbalik dan melemparkan batu kepada bentuk kediktatoran yang mereka legalkan dengan pencatutan nama proletariat dibelakangnya. Telah cukup untuk membuatku belajar bahwa akumulasi akan frustasi hidup harianku telah cukup menjadi amunisi untuk memulai perang sosial dengan semua otoritas. Aku sudah menitipkan pesan kepada burung-burung akan melepaskan kotoran ke dalam mulut mereka yang mendamba kediktatoran tersebut.

***

pilihlah untukmu sebuah lagu

yang paling indah sekalipun

dan nyanyikan itu sepanjang hari

tanpa berhenti sama sekali


pilihlah untukmu sebuah pakaian

dari bahan terbaik yang paling nyaman

dan kenakan itu sepanjang tahun

tanpa melucutinya sama sekali


pilihlah juga untukmu sebuah kerja

dengan gaji paling besar sekalipun

dan kerjakan itu sepanjang hidup

tanpa berhenti sama sekali


dan rasakan bagaimana

semua itu jadi membosankan

(Anti Massa – Second Chapter, puisi Andre GB on September 2010)

Budaya Perlawanan Massa adalah Kebohongan Propaganda

Jika pada masing-masing para pengusaha disodorkan pertanyaan, bagaimana mereka akan memproduksi produk-produknya? Jawabannya pasti sama. Setiap perusahaan akan didorong untuk menghasilkan sebuah jenis produk secara tak masuk akal alias dalam jumlah massal.

Tak peduli bahwa apa memang barang tersebut sudah berkelimpahan atau tidak. Tak ada alasan untuk menghentikan produksi komoditi meski kebutuhan manusia akan sebuah jenis produk telah terpenuhi.

Tentu saja bagi kapitalisme, semakin besar jumlah suatu jenis barang yang diproduksi, maka peluang memperbesar keuntungan juga semakin terbuka lebar. Itu mengapa sebagai contoh, kalian dapat menemukan gerai-gerai Mc Donald’s, Starbucks, mini market AlfaMart, air mineral kemasan Aqua, minuman soda jenis Coca Cola, terdapat dimana-mana. Seakan-akan bahwa tak ada lagi tempat untuk bersembunyi dari terjangan kewajiban mengkonsumsi produk-produk kapitalisme tersebut.

Barang-barang diatas hanya contoh kecil saja. Kalian bisa melihat ke sekeliling, bagaimana ternyata hidup kita hari ini begitu seragam. Tidak hanya di soal konsumsi produk semata. Tidak juga hanya sebatas di persoalan bahwa kita harus bekerja untuk bertahan hidup. Tidak hanya sekedar fashion. Namun lebih dari itu, jauh lebih ironis dari yang pernah kita sadari, kita menjadi homogen hingga ke hal yang paling mendasar seperti hasrat akan konsumsi komoditi. Imajinasi dan mimpi setiap dari kita dikonstruksi dalam satu rute yang sama.

Misalnya seperti siklus hidup yang bermula dari lahir, sekolah selama bertahun-tahun dengan kurikulum yang memuakkan, bekerja dalam kesepian dan kelelahan serta upah yang akan selalu terasa kurang, menikah dan menghabiskan hidup dengan satu orang saja dan akan berpura-pura semuanya baik-baik saja atas nama cinta lalu berakhir dengan mati menggenaskan.

Namun pembangkangan selalu saja menemukan celah untuk tampil dan balik menghajar semua kemapanan dan ilusi bahwa apa yang sedang berlangsung hari ini adalah baik adanya. Tetap saja akan lahir individu-individu yang menolak hidup sekedarnya dan mulai menyulut api pemberontakan. Membakar semua batas ketakutan hingga melintas keluar pagar-pagar manual tentang bagaimana memulai sebuah revolusi. Akan selalu ada orang-orang liar yang akan membuat revolusi hari ini tanpa perlu menunggu datangnya sang nabi terpilih yang akan menunjukkan jalan keselamatan.

Lalu apa hubungannya dengan kaum kiri yang sering sekali melakukan demonstrasi penentangan kebijakan penguasa yang dianggap tidak populis? Tentu saja ada kaitannya. Bahwa perlawanan dan tawaran revolusi dari mereka adalah bangkai busuk yang mestinya kita muntahkan keluar daripada memilih untuk menelannya secara buta. Karena metode yang mereka lakukan jika disingkap, pada dasarnya juga mempunyai sifat yang sama persis. Tak akan ada kebebasan sejati sepanjang masih ada beberapa orang yang menentukan bagaimana kau bernafas, berjalan, bermimpi dan bagaimana cara mati secara buruk. Dan ada sebuah pertanyaan sederhana yang dapat menjadi permulaan untuk mencoba mengenali tipuan pesulap karbitan ini.

Bagaimana kalian memadamkan api? Apakah dengan api? Ataukah menggunakan air, tabung pemadam, karung basah atau bahkan pasir? Apapun jawabannya menurut kalian, yang jelas adalah idiot jika kita menggunakan api untuk memadamkan api. Sederhana bukan? Lalu bagaimana melawan budaya massa yang menjadi sifat dari kapitalisme? Apakah dengan kesadaran massa? Ataukah kita memilih untuk menghancurkan budaya massa tersebut dengan sebuah metode alternatif lain? Dengan kesadaran klas misalnya.

Alasannya sederhana. Para aktifis revolusioner kiri tersebut memang membutuhkan massa sebagai legitimasi mereka untuk menggapai tampuk kekuasaan yang mereka idam-idamkan. Mereka butuh jumlah untuk melakukan penipuan yang sama dilakukan oleh kapitalisme, bahwa mereka akan bisa jauh lebih baik untuk berkuasa, memerintah dan menjalankan negara. Tentu saja itu tak benar jika melihat fakta bahwa penguasa adalah segelintir kecil orang yang berada di tingkat lebih tinggi dari orang kebanyakan. Bahwa menjadi sifat kekuasaan adalah korup, koersif dan eksploitatif. Bahwa selalu saja hanya akan ada satu orang beruntung dalam sistem seperti ini karena memiliki kapital, pengetahuan dan senjata yang layak untuk menjadi pemimpin.

Jika dalam sistem yang dijalankan oleh kapitalisme, yang diuntungkan adalah sekelompok orang yang memiliki kapital, maka sama persis juga bahwa kaum kiri yang akan diuntungkan dalam sistem yang mereka mainkan jika berkuasa nanti. Yang akan diuntungkan tentu saja adalah mereka yang dianggap loyak kepada peraturan dan kebijakan partai.

Sementara tetap saja kita semua sebagai mayoritas akan tetap berada dibawah dominasi dan kontrol dari siapapun golongan yang berkuasa. Pengaturan akan tetap dijalankan, dan siapapun yang memiliki dorongan kreatif untuk bertindak diluar manual tersebut akan diserang secara kasar. Kenyataan bahwa negara dengan sistem ekonomi jenis apapun dalam mekanisme operasinya menggunakan kekerasan untuk memaksakan kehendaknya kepada semua adalah sesuatu yang vulgar dan tak bisa diingkari.

Mari mencoba mengingat, ada berapa banyak orang yang mempunyai kesempatan yang sama untuk menyampaikan tuntutan dan apa ia butuhkan ketika terjadi demonstrasi. Bahkan ketika mereka mencoba membuka kesempatan, bukankah hanya orang-orang tertentu yang ditentukan oleh mereka yang berhak untuk memiliki akses ke atas panggung dan menyuarakan kebutuhannya? Dan bukankah jumlahnya sangat kecil?

Mereka yang berorasi dipanggung secara berapi-api adalah orang-orang yang dengan sepihak merampas hak mendasar tiap-tiap individu dengan sebuah trik yang mereka namakan demokrasi. Sementara kita telah melihat dengan jelas bahwa demokrasi adalah nama lain dari pembatasan akses, penghancuran inisiatif, penghilangan eksistensi individu dan perampasan kebebasan. Dalam demonstrasi massa, semua tuntutan kemudian diseragamkan oleh para cendekiawan dalam satu bahasa, bahasa propaganda mereka. Bukankah ini tak jauh berbeda dengan pemaksaan kepada setiap orang untuk mengkonsumsi Teh Botol Sosro setiap habis kali makan, tak peduli apapun makanannya?

Kaum kiri mengingkari fakta bahwa massa adalah sekumpulan individu dalam jumlah besar yang tak mempunyai keterkaitan langsung satu dengan yang lain karena tercerabut paksa dari akarnya. Massa adalah kuantitas semata, yang berdekatan secara fisik namun terpisah secara sosial. Massa cuma sebuah gertakan tanpa tindakan dan bukan sebuah pukulan langsung.

Massa adalah bukti dari reproduksi dan massifikasi yang tidak berpikir namun bertindak seperti mesin. Massa bukanlah sebuah ikatan langsung yang erat dan liat, melainkan rantai yang membelenggu dan menutup rapat-rapat pintu keluar menuju pembebasan hidup harian yang sejati. Seperti sekawanan ternak ayam daging yang dipelihara dan dirawat untuk kemudian dijagal demi kepentingan konsumsi di gerai-gerai KCF dan Texas Chicken.

Itu sebabnya budaya yang hidup ditengah massa adalah suatu aktifitas yang gersang karena tidak dihidupi secara langsung. Tindakan massa adalah sebuah aksi yang lambat karena tak mampu keluar dari persoalan angka. Budaya massa adalah kerapuhan kronis yang tak bisa menghindari keruntuhan dan menemui kegagalan. Kehidupan yang dijalani oleh massa adalah kerusakan secara menyeluruh dan topeng akan eksisnya zona-zona penjara yang memisahkan relasi langsung antar individu. Dalam masyarakat massa, interaksi dilakukan melalui perangkat resmi yang diciptakan oleh penguasa. Di masyarakat massa seperti hari ini, alienasi menjadi bagian yang tak terpisahkan. Seperti para penumpang bus TransJakarta yang duduk bersampingan namun terpisah dalam kebisuan yang ironis.

***

tunjuk satu orang yang kau percaya

dan biarkan ia menentukan untukmu

segalanya bahkan sampai yang paling detil

sebelum melakukan itu

jangan lupa tanggalkan otakmu

(Anti Massa – Third Chapter, puisi Andre GB on September 2010)

Menegasikan Massa dengan Klas

Jika massa adalah teriakan-teriakan parau di depan istana presiden setiap Mayday, maka klas adalah pecahan kaca dari etalase-etalase toko. Jika gerakan massa bersifat reformis dan pengecut, maka klas adalah aksi revolusioner yang terang-terangan dan langsung mengarahkan serangannya di sumber-sumber masalah. Jika tuntutan massa adalah persoalan perbaikan upah dan rengekan mengemis kebaikan hati negara, maka tuntutan klas adalah totalitas hidup dan eliminasi terhadap hirarki dan kapitalisme. Jika perjuangan massa adalah pergantian penguasa dan utopi masa depan yang lebih baik, maka perjuangan klas adalah penggulingan setiap penguasa dan okupasi hidup hari ini dari alienasi. Jika metode massa hanya teguran sambil lalu, maka metode klas adalah pukulan mematikan yang tepat target.

Klas adalah sesuatu yang berkebalikan dengan massa. Lawan yang tak bisa didamaikan, sama persis dengan ketidakmungkinan membangun relasi hidup yang setara sepanjang negara dan kapitalisme masih eksis. Klas dalam pengertiannya adalah kelompok yang terorganisir secara sadar. Bukan sebaliknya diorganisir dalam satu barisan tanpa mengetahui kemana akan digiring.

Perbedaan nyata dari klas yang membedakannya dari massa adalah kemampuannya mendefinisikan kebutuhan dan prioritas yang tepat untuk dirinya sendiri. Klas mengorganisir dirinya sendiri dan menentukan metode perjuangannya. Klas melandaskan perlawanan terhadap musuh-musuhnya pada kreasi dan inisiatif yang diciptakannya atas analisa mendalam dan cermat akan potensi dalam dirinya. Dalam sistem operasinya, klas tidaklah menunggu instruksi namun secara terus menerus menggagas perlawanan berkelanjutan. Klas juga mampu mengartikan pengalaman-pengalaman historisnya ke dalam sebuah bentuk taktik yang mempunyai kesesuaian terkini. Klas tidak menerapkan mentah-mentah segala sesuatu namun mendesain ulang sesuatu sesuai kecocokan sosial dimana ia eksis.

Dalam massa memang terdapat relasi klas. Namun yang menjadi persoalan adalah bahwa relasi-relasi tersebut menjadi pasif dan impoten daya ledaknya karena tidak adanya kesadaran yang menentukan eksistensinya. Kesadaran tersebut tentulah kesadaran klas. Namun kesadaran ini tak akan pernah bisa hadir jika ia hanya terus menerus dibangun dari sesuatu yang berasal dari luar. Ia mestilah membangun kekuatannya dari frustasi-frustasi hidup harian yang berasal dari dalam dirinya sendiri bukan bergantung pada kejadian-kejadian diluar dirinya. Klas mengkondisikan dirinya sendirinya dan tidak membiarkan dirinya didikte oleh sesuatu yang berasal dari luar. Itu sebabnya klas terorganisir secara non hirarkis dan ini berarti menegasikan semua kebohongan bahwa sebuah klas mestilah dipimpin.

Persoalannya dalam analisa kaum kiri, klas diletakkan sebagai objek dan sebaliknya bukan sebagai subjek. Membiarkan diri dan tindakannya ditentukan oleh sesuatu di luar dirinya. Sehingga kemudian memang terjadi degradasi akan tingkat radikalisasi pemahaman dan tindakan klas menjadi gerakan pasang surut yang pada akhirnya membuat keputusasaan yang akut. Kesalahan pendefinisian ini juga yang menjadi sebab tergerus mundurnya pemahaman perjuangan klas ke dalam ruang legal seperti pemilu, partai dan parlementariat yang semu. Jangan heran jika kemudian kita akan banyak menemukan banyak aktifis kaum kiri dan organisasi-organisasi dibawah kontrolnya seperti partai, serikat buruh, serikat pelajar ini yang menjadi pengkhianat terhadap perjuangan klas itu sendiri. Ketumpulan akibat ketidakmampuan mendefinisikan secara tepat pengertian klas membuat kaum kiri menjadi orang-orang yang dendam pada kemiskinan. Mari mulai menghitung ada berapa banyak mantan aktifis dan partai yang pada akhirnya mengingkari semua yang mereka katakan?

Karena memang organisasi yang hirarkis adalah bentuk sederhana dari masyarakat hirarkis di mana kehidupan kita yang membosankan ini sedang berlangsung. Ketidakmengertian mereka untuk mempraktekkan sebuah metode administrasi yang berbasiskan konsensus dan kesetaraan membuat lahirnya metode-metode instan seperti organisasi hirarkis yang kaku dan mengerikan seperti mesin. Mereka berkelit dengan berbagai kedangkalan berpikir dan melihat secara radikal bagaimana masyarakat bergerak.

Akan sangat terlihat bahwa kaum kiri dan semua organisasinya adalah bentuk ketidakseriusan untuk melakukan perjuangan klas. Perjuangan klas sendiri bukan bagi mereka tidaklah ditujukan untuk menghancurkan keberadaan klas-klas yang antagonistik tersebut secara bersamaan. Melainkan secara licik mereka mengkanalisasi kebohongan yang mereka sebuah sebagai perjuangan klas untuk melahirkan gerombolan penguasa baru dan tak menyentuh fundamen paling dasar prasyarat dari cita-cita masyarakat tanpa klas. Sehingga yang terjadi hanyalah mutasi dari kapitalisme borjuis menjadi kapitalisme negara. Jika dalam kapitalisme borjuis, privatisasi menjadi hak istimewa para pemodal maka dalam kapitalisme negara, privatisasi menjadi hak tunggal dari negara yang disetir oleh para birokrat partai. Apakah HIV tak mematikan seperti kolestrol yang menyebabkan serangan jantung?

Membangun kesadaran klas yang sejati bagi kaum kiri selalu dipandang sebagai perjuangan nomor dua karena analisa mereka yang memandang bahwa waktu yang dibutuhkan akan sangat lama. Lalu mereka memberikan kebohongan bahwa klas proletar belum cukup memiliki kemampuan untuk menjalankan otonominya sehingga perlu ada waktu peralihan dalam bentuk kediktatoran yang sejatinya bukanlah hasil dari perjuangan klas itu sendiri. Dalam banyak fakta sejarah, betapa ketika terbuka kemungkinan untuk meluaskan perjuangan klas ke dalam perang klas yang radikal selalu saja kaum kiri dan bentuk organisasinya selalu menikam dari belakang dan memukul mundur lagi capaian-capaian kesadaran klas tersebut. Jangan percaya kalau keadaan di Soviet ketika Lenin memimpin jauh lebih baik dari Hitler di Jerman, Bush di Amerika atau Soeharto selama 32 tahun di Indonesia.

Ini sebabnya jika dimengerti dengan benar, maka akan terlihat bahwa karakter perjuangan klas memiliki keunikan-keunikan yang mampu bertindak lebih dari sekedar jembatan, yaitu menghancurkan batas-batas yang memisahkan satu kelompok proletar dari kelompok proletar yang lain. Sejatinya perjuangan klas itu sendiri yang menyatukan proletariat yang termutilasi dalam bagian-bagian dalam lapangan pembantaian kapitalisme. Dan bukan sebaliknya seperti yang didongengkan oleh kaum kiri bahwa proletariat disatukan oleh kepemimpinan elit dan organisasi massa untuk perjuangan klas. Perjuangan klas itu sendiri akan berakhir ketika klas-klas yang antagonistik tersebut hancur dan melenyap dalam perang klas yang radikal. Ini sebabnya kesadaran klas melintasi batas-batas nasional dan tidak seperti gelombang massa yang terjebak dalam batas-batas yang diciptakan untuk melemahkan solidaritas internasional menuju perang sosial klas.

***

jika kau di tunjukkan satu arah jalan

dan kemudian malah kau tersesat

sementara banyak pilihan yang tersedia

maka jangan ragu untuk berbalik

dan tinju hidung orang itu sampai berdarah

lalu tentukan rute milikmu sendiri

(Anti Massa – Last Chapter, puisi Andre GB on September 2010)

Pada akhirnya memang saya tetap menyanggupi permintaan kawan tersebut untuk menulis. Tulisan ini hasilnya. Namun berbeda seperti pesanan mie instan kadaluarsa yang ia inginkan, karena saya memang bukan mesin yang dijalankan dengan tombol-tombol. Tulisan ini secara sadar adalah pembelokan dari tujuan yang diidamkan oleh kawan tersebut, yakni sebuah propaganda untuk mempertahankan ilusi massa. Ini adalah sebuah batu kecil yang dilepaskan dari ketapel sederhana untuk memulai penghancuran kaca-kaca istana para penguasa ataupun mereka yang berharap dapat berkuasa.

Pasti akan banyak mereka para domba-domba yang berlogika dengan pantat yang telinganya panas atau merasa terusik dengan tulisan singkat ini. Tak mengapa dan tak akan saya khawatirkan. Lagipula saya adalah seorang pecundang yang tak mau untuk menundukkan egonya di hadapan pemikiran seseorang yang telah meninggal dan kemudian harus disakralkan. Semua isme memang pada akhirnya adalah kemunafikan yang harus ditolak dan dihancurkan sebelum terlambat.

Bahkan jika nanti pintu-pintu tersebut masih tertutup, kita harus berani untuk mendobrak dan menghancurkannya. Karena jangan sampai jika suatu waktu nanti, ketika lagi-lagi kita terjebak pada keterlanjuran menyerahkan hidup kita kepada para birokrat partai tersebut, kita malah akan menyesalinya. Menyalahkan ketidakmampuan diri sendiri untuk merebut kesempatan ketika terbuka peluang untuk mengibarkan kemerdekaan diri dan komune. Lalu ketika kita dengan depresi mencoba mempertanyakan kembali kepada mereka, mungkin para birokrat tersebut hanya akan memberikan kita jawaban: “Salah gue? Salah temen-temen gue?”

In the name of me, long live insurection!

(Pementasan selesai. Layar di tutup. Lampu mati. Penonton pulang kecewa.)

Andre GB

Email : antikuasa@gmail.com