Ardi Winangun Pengamat Hubungan Internasional dan Pengurus Presidium Nasional Masika ICMI

Oleh : Ardi Winangun

HMINEWS.COM- Brasil di bawah Presiden Luiz Inacio Lula da Silva dari waktu ke waktu mampu meningkatkan perannya sebagai kekuatan baru dunia. Brasil menjadi kekuatan baru tidak hanya di kawasan Amerika Latin namun juga di dunia. Politik luar negeri Brasil yang dikelola oleh Lula da Silva mampu menempatkan Brasil sebagai kekuatan penyeimbangan dunia. Hadirnya Brasil di pentas politik dunia akan menjadi rem bagi kecongkakan Barat yang selama ini terlalu ikut campur urusan dalam negeri negara lain dengan sikap ketidakadilannya.

Sikap yang ditunjukan Brasil sebagai kekuatan baru ini adalah ketika ia mencoba menjadi penengah ketika tetangganya, Kolombia dan Venezuela, dilanda ketegangan diantara mereka. Ketegangan dipicu adanya tuduhan dari pemerintah Kolombia bahwa Venezuela melindungi 1.500 pemberontak Kolombia yang bersembunyi di wilayah Venezuela.

Sebagai sekutu Amerika Serikat, tentu Kolombia dengan mudahnya bisa saja menyerang Venezuela. Provokasi Amerika terhadap sekutunya ini bisa memunculkan perang diantara mereka. Bahkan Venezuela yang berada di bawah kekuasaan Hugo Chaves akan menghentikan ekspor minyak ke Amerika Serikat apabila diserang oleh Kolombia. Chaves ‘menyerang’ Amerika dengan menghentikan ekspor minyaknya karena Amerika pastinya akan mendukung operasi militer Kolombia. Amerika sangat bernafsu menyerang Venezuela dengan tangan Kolombia sebab selama ini politik yang dikembangkan Chaves adalah anti kapitalisme dan anti Amerika Serikat.

Entah karena desakan Lula da Silva atau kesadaran dari Presiden Venezuela Hugo Chaves dan Presiden Kolombia Juan Manuel Santos akhirnya Venezuela-Kolombia bersepakat untuk mengakhiri ketegangan diantara mereka. Sebagai tetangga dan sesama negara yang berada di kawasan Amerika Latin, serta sebagai pendiri sekaligus anggota dari Latin American Integration Association (Laia/Aladi), Brasil tentu tidak ingin perang itu berkecamuk.

Langkah Brasil ini mendorong perdamaian antara Kolombia dan Venezuela ini mempunyai dua langkah yang penuh arti. Pertama, menciptakan kawasan Amerika Latin sebagai kawasan yang damai. Kedua, menghentikan sikap kecongkakan Amerika Serikat di Amerika Latin sebagai pihak pengadudomba dan yang mengambil keuntungan dari konflik yang terjadi.

Brasil menghentikan kecongkakan Amerika Serikat sebelumnya juga pernah dilakukan di kawasan Timur Tengah. Pada Mei 2010, di Teheran, Lula da Silva, bersama dengan PM Turki Turki Recep Erdogan dan Presiden Iran Mahmud Ahmadinejad mensepakati pertukaran bahan uranium Iran ke Turki, begitu sebaliknya, dari Turki ke Iran.

Kesepakatan itu otomatis akan ‘melawan’ kesepakatan sebelumnya, yakni Iran harus mengirim uraniumnya ke Rusia dan Perancis, dan selanjutnya Rusia dan Perancis akan mengirimkan kembali ke Iran. Dengan kesepakatan itu, maka Iran dengan di-back up oleh Brasil dan Turki akan melaksanakan kesepakatan yang  baru, dan mengacuhkan kesepakatan lama.

Adanya kesepakatan tiga negara tersebut, Brasil-Turki-Iran, membuat Presiden Amerika Serikat Barack Obama menjadi berang. Dalam pembicaraan telepon dengan Erdogan, Obama mengatakan pembahasan rancangan sanksi baru terhadap Iran di forum DK PBB akan terus berlanjut walau ada kesepakatan segitiga itu.

Mengapa Brasil di bawah Lula da Silva mampu menjadi penengah dan penyeimbangan terhadap kecongkakan Amerika Serikat? Pertama, Lula da Silva berlatar belakang ideologi kiri (Neososialis). Di Amerika Latin, saat ini banyak tokoh-tokoh yang berhaluan kiri, dari yang radikal sampai moderat, terpilih menjadi kepala negara atau kepala pemerintahan. Banyaknya tokoh kiri menjadi pemimpin membuat Amerika Latin bergerak ke kiri (baru). Kiri yang dimaksud di sini bisa dibaca bebas sebagai pemerintahan sosialis-marxis yang radikal seperti Venezuela, Bolivia, Ekuador, Cuba, ataupun sosialis-demokrat yang moderat semisal Brasil dan Cile. Sementara Kolombia lebih mengarah kepada kapitalisme.

Dengan fakta  tersebut dan semakin ke kirinya kawasan Amerika Latin, maka Lula da Silva mencoba menggalang dengan kekuatan lain untuk meredam kecongkakan Amerika Serikat. Langkah yang diambil Lula da Silva itu misalnya mendukung program nuklir damai Iran. Sebelum Lula da Silva berkunjung ke Teheran, Ahmadinejad telah melakukan lawatan ke Brasil. Dalam lawatan itu, Ahmadinejad mengatakan, tata dunia baru harus segera dibangun di muka bumi. Keinginan itu disambut baik oleh da Silva. Sikap hangat da Silva itu secara implisit mendukung program nuklir Iran. Apa yang dilakukan Brasil bagi Amerika Serikat sebagai suatu sikap yang tidak pada tempatnya. Amerika Serikat pun mencurigai Brasil.

Iran adalah salah satu negara yang getol untuk membangun tata dunia baru, sehingga negara itu sering melakukan kontak dengan negara-negara yang potensial untuk diajak kerjasama untuk membangun satu kekuatan yang bisa menandingi Amerika Serikat. Negara yang mempunyai potensi itu adalah negara-negara di kawasan Amerika Latin dan bekas negara-negara yang berhaluan sosialis-komunis.

Brasil ingin menjadi penengah atau penyeimbang sebab negara itu memiliki pengalaman sebagai anggota tidak tetap Dewan Keamanan PPB, terakhir menjadi anggota tidak tetap dewan keamanan pada tahun 2004-2005 dan tahun 2007-2009. Tercatat Brasil menjadi anggota tidak tetap dewan keamanan sebanyak 9 kali.

Kedua, Brasil di kawasan Amerika Latin merupakan negara yang paling luas. Selain itu berbagai kekayaan sumber daya alam, dari hasil hutan dan pertambangan sangat melimpah. Perusahaan minyak milik Brasil, Petrobras, salah satu perusahaan minyak terkenal di dunia. Petrobras pada tahun 2005 memiliki aset dan usaha di 16 negara di seluruh dunia. Pada tahun 2005 Financial Times, menyatakan Petrobras sebagai salah satu dari 500 perusahaan terbesar di dunia.

Di bawah Lula da Silva Brasil menentang privatisasi perusahaan negara seperti Petrobras dan bank-bank yang milik negara. Privatisasi di negar-negara sosialis merupakan sebuah trend yang tidak menarik, sebab akan memberikan keuntungan bagi para pemilik yang baru yang rata-rata pihak asing, bukan kepada rakyat atau konsumen.

Meski berhaluan sosialis, namun Lula da Silva mampu membawa perdagangan Brasil meningkat. Lula da Silva mampu mengubah angka-angka defisit menjadi surplus sejak 2003. Dua tahun setelah memimpin Brasil, pada 2004, Brasil surplus mencapai 29 milyar US$ karena peningkatan substansial pada permintaan dunia atas produk Brazil.

Mantapnya kekuatan ekonomi Brasil inilah yang mampu mengangkat negara itu sebagai kekuatan baru yang mampu mempengaruhi peta politik dunia. Brasil di Amerika Lati seperti China dan India di Asia sebab perekonomian tumbuh pesat sehingga mampu menjadi sangat berpengaruh di kawasannya dan dunia.

Ketiga, diplomasi sepakbola. Sebagai negara yang sangat mumpuni dalam olahraga sepakbola, Brasil mampu menyebarluaskan pengaruhnya. Sebagai juara Piala Dunia hingga lima kali, Brasil merupakan negara yang sangat popular. Popularitas Brasil dalam sepakbola inilah yang menjadikan apa yang disuarakan oleh Brasil mempunyai kekuatan tersendiri.

Salah satu diplomasi bola yang dilakukan Brasil adalah ketika Lula da Silva berkunjung ke Indonesia, ia mengadakan pertemuan dengan pimpinan MPR, Ketua MPR saat itu dijabat oleh Hidayat Nurwahid. Setelah ngobrol mengenai perkembangan politik dunia, akhirnya Hidayat Nurwahid mengatakan bahwa pemain-pemain sepakbola Brasil sangat popular di Indonesia. Lula da Silva pun menjawab bahwa dirinya juga pemain sepakbola namun bukan yang profesional.

Ardi Winangun

Pengamat Hubungan Internasional dan Pengurus Presidium Nasional Masika ICMI