Patung Liberty menjadi ikon kota NYC

Daniel Tutt
HMINEWS.COM, Washington, DC – Tahun ini, pada peringatan serangan 11 September, banyak orang Amerika khawatir kekerasan akan terjadi sebagai akibat dari rencana pembakaran al-Qur’an dan kontroversi seputar pusat kebudayaan Islam, Park51, di pinggiran Manhattan. Syukurlah, hari itu berlalu tanpa letupan kerusuhan yang berarti.

Sehari setelah 11 September, saya membantu penyelenggaraan kegiatan antariman perdana di Park51. Kegiatan ini menghimpun 100 mahasiswa dan tokoh masyarakat dari seluruh penjuru New York. Tujuan kegiatan ini adalah menawarkan kesempatan kepada non-Muslim untuk berdialog dengan orang-orang Muslim di sekitar mereka, yang memungkinkan semua peserta menggali beberapa masalah yang lebih dalam seputar kontroversi Park51. Beragam topik didiskusikan, mulai dari peran media, ekstremisme dalam Islam dan agama-agama lain, hingga batas-batas kebebasan beragama.

Meskipun media sering berlebihan mewartakan Park51, dengan terus menyebutnya sebagai ”Masjid Ground Zero”, banyak orang sering tak mau memahami bahwa misi pokok pusat kegiatan ini adalah menawarkan “fasilitas rekreasi dan pendidikan kelas dunia” dan akan menyediakan “sebuah mimbar bagi perbincangan lintas identitas.”

Meski malam itu hujan dan ada penjagaan ketat, kami berkumpul di dalam gedung lama Park51 untuk berdialog selama tiga jam. Acara dimulai dengan pemutaran film Talking Through Walls: How the Struggle to Build a Mosque United a Community (Bicara dari Balik Tembok: Bagaimana Perjuangan Membangun Masjid Mempersatukan Masyarakat), sebuah film dokumenter PBS peraih penghargaan tentang penentangan serupa terhadap pembangunan sebuah pusat kegiatan Islam di daerah pinggiran kota New York pada 2005. Film ini memberikan cermin bagi perdebatan tentang Park51, dan memperlihatkan bagaimana misinformasi, ketidakpercayaan dan kecurigaan terhadap Muslim bisa menciptakan suatu lingkungan xenofobia dan prasangka.

Komunitas Muslim yang digambarkan dalam film tersebut membangun sebuah koalisi antariman yang terdiri atas orang-orang Budha, Katolik Roma dan Yahudi yang termotivasi untuk mendukung komunitas Muslim atas dasar komitmen terhadap nilai-nilai seperti kebebasan dan pluralisme agama.

Setelah berbicara dengan beberapa orang di sana, jelas bahwa banyak orang dalam ruangan itu mendukung pembangunan Park51, sedangkan yang lain ragu, dan banyak lagi yang lain punya banyak pertanyaan: program seperti apa yang ditawarkan Park51 kepada masyarakat? Akankah Park51 mengurangi radikalisme atau malah membantu perkembangannya di kalangan Muslim? Seperti diperlihatkan hasil sebuah jajak pendapat Time Magazine pada Juli 2010, hampir 70 persen orang Amerika menentang pembangunan Park51. Karena emosi seputar pusat kegiatan ini begitu tinggi, saya tidak tahu apakah nantinya akan terjadi ledakan kemarahan, atau perdebatan yang beradab.

Untuk mulai menyimak dialog lebih dalam, kami lebih dulu mengadakan suatu aktivitas pemecah ketegangan. Masing-masing orang dihadapkan dengan orang asing di dekatnya dan berbagi siapa pahlawan pribadi mereka dan arti nama mereka. Interaksi ini dirancang untuk memanusiawikan orang lain dan membangun sikap saling percaya melalui aktivitas menyampaikan informasi yang bersifat pribadi.

Alih-alih mendiskusikan isu-isu alot, kami lebih dulu membangun keakraban.

Kami kemudian dibagi ke dalam beberapa kelompok yang masing-masing terdiri atas lima orang untuk mendiskusikan film Talking Through Walls, dan memberi ruang yang nyaman untuk membicarakan pertanyaan-pertanyaan seperti, “Apa pandangan Anda tentang sebuah pusat kegiatan Islam yang ideal?” atau “Bagaimana Anda ingin diperlakukan oleh suatu masyarakat di mana Anda membangun sebuah pusat keagamaan?”

Di akhir diskusi kelompok kecil, masing-masing kelompok menceritakan apa yang mereka bicarakan. Banyak yang mengungkapkan pandangan bahwa tantangan-tantangan yang dihadapi Amerika – meningkatnya kejahatan kebencian terhadap Muslim, penentangan masjid di belasan kota, dan kurangnya non-Muslim di Amerika mengenal Islam – menawarkan sebuah peluang. Tantangan-tantangan ini bisa memberi kesempatan bagi Muslim Amerika untuk menyampaikan hal yang benar tentang agama mereka kepada orang-orang di sekitar mereka.

Beberapa kelompok mengungkapkan perasaan tak berdaya dan menekankan perlunya kerjasama antariman untuk melawan gelombang prasangka anti-Muslim ini. Yang lain mengungkapkan perlunya pendidikan tentang Islam dan lebih banyaknya kegiatan yang menjalin saling pengertian di New York. Sementara kelompok-kelompok yang lain kesulitan mencari jalan keluar saat waktu yang telah dialokasikan untuk dialog selesai.

Apa yang paling menonjol dalam proses dialog itu adalah bahwa perdebatan tentang pusat kegiatan ini tampak hilang begitu orang-orang mulai saling mengenal dan saling percaya. Dalam waktu tiga jam bertukar pikiran dengan orang-orang asing dari berbagai latar belakang berbeda, kami bisa menanam benih kerjasama antariman tepat di jantung kontroversi Amerika tentang Islam dan kaum Muslim.

Meski kami boleh jadi tidak mengatasi suasana ketegangan dan polarisasi yang kami rasakan sebagai sebuah bangsa, kami telah membangun sebuah model dialog yang diperlukan untuk mengatasinya.

* Daniel Tutt adalah Direktur Proyek 20,000 Dialogues, sebuah prakarsa dialog nasional yang berupaya membangun pemahaman yang lebih baik tentang kaum Muslim. Dia juga anggota 9/11 Unity Walk, kegiatan jalan-jalan damai multi-agama yang diadakan tiap tahun di Washington DC. Untuk lebih lengkapnya kunjungi groundzerodialogue.org. Artikel ini ditulis untuk Kantor Berita Common Ground (CGNews) dan HMINEWS.COM