Wahai Pemuda! Luruskan Reformasi atau Teriakan Revolusi

HMINEWS.COM– Sudah berselang beberapa tahun ini, Indonesia tetap pada posisinya yang semula, stagnan, statis. Walaupun banyak diakui oleh berbagai pihak telah mengalami kemajuan yang signifikan, ini tidak berarti Indonesia sudah keluar dari kepompongnya. Bergantinya kepemimpinan di negeri ini tidak membawa dampak sistemis, yang dapat merubah sosio-kultural lebih baik.

Saat ini ada beberapa bahkan banyak pionir-pionir perubahan untuk Indonesia ke depan yang lebih maju, dinamis, dan mandiri. pionir-pionir itulah yang akan membawa Indonesia menjadi negara yang maju, berdikari dan menghargai diferensiasi sosial dalam kelompok sosial besar (baca: negara). perbedaan status, ras, agama, bahkan gender menjadi wacana penting bagi masyarakat Indonesia. Karena  negara ini adalah negara yang plural agama, etnis, ras dan budaya. disinilah letak penting pionir perubahan itu bagi Indonesia tercinta.

Dalam konteks masyarakat mayoritas, pionir ini mendapat berbagai macam julukan di sisi masyarakat, mempunyai rasa akuntabilitas yang tinggi, dan rasa kepemilikan terhadap pengikutnya, sebut saja kiayi di tengah para santrinya, pejabat di tengah konstituennya, tokoh masyarakat, para guru yang mendidik di daerahnya. Kesemuanya memiliki peran yang berarti ketika dihadapkan dengan masalah-masalah sosial. kebanyakan dari mereka menganggap seluruh gejala sosial yang terjadi di masyarakat terjadi secara spontanitas tanpa disengaja. padahal banyak sekali gejala sosial yang terjadi dengan disengaja. yaitu dengan dibuatnya suatu sistem kemasyarakatan, dan pembuatan kelas-kelas sosial di berbagai lini kehidupan ini.

Dari titik inilah, suatu sistem baru terbentuk. dengan kata lain, sistem ini timbul karena adanya rekayasa sosial, sedangkan rekayasa sosial ini tidak akan ada kecuali oleh pioner, pemimpin, tokoh-tokoh itu sendiri. pemimpin yang baik adalah pemimpin yang dapat mengilhami pengikutnya, bukan dengan doktrin, ancaman atau paksaan, dan atau hanya mengacungkan telunjuknya secara berdiam diri di kursi empuknya. Mengilhami berarti, memberikan solusi, membimbing dengan dibuat kesadaran dini akan pentingnya suatu kelangsungan hidup bermasyarakat.

Sudah sering kali ditunjukkan para pemimpin negeri ini, menurut hemat penulis, pemimpin yang mempunyai kriteria tersebut adalah presiden Gusdur. mengingat beliau disamping ‘lihay’ dalam permasalahan agama, juga cerdik dalam membuat strategi politiknya. dan yang paling ditakuti oleh Soeharto adalah sosok Gusdur dalam konteks perpolitikan Indonesia. karena beliau sendiri yang menjadi publik figur dalam wacana keummatan baru-baru ini. dan dalam faktanya, Soeharto dan Gusdur sama-sama mempunyai kapasistas luar biasa dalam kancah perpolitikan di Indonesia.

Dari kedua contoh pemimpin ini, dapat diamati dalam beberapa aspek tentang cara memimpin mereka, diantaranya: Keinginan yang tinggi dalam menahkodai kapal besar Indonesia untuk menjadi bangsa yaang besar di mata dunia. Dinamisasi sistem kenegaraan; memisahkan persoalan negara dengan permasalahan agama (nasionalisme dan sekularisme). Mengembangkan serta melestarikan budaya Indonesia. Membuka gerbang demokrasi yang lebih terbuka (namun ketika periode akhir Soeharto banyak penyelewengan demokrasi dengan maraknya aksi KKN, namun pada akhirnya di buka kembali oleh Gusdur dengan dibebaskannya para napi PKI, disahkannya kongchucu sebagai agama yang sah, dll). Memperkuat jaringan negara, menjalin hubungan dengan negara-negara maju -bahkan Israel sekalipun-. Membuat komunikasi politik yang baik dengan negara-negara tetangga, sehingga menimbulkan kerjasama diantara negara-negara tersebut dalam ekonomi, sosial, budaya, dsb.

Sangat disayangkan sekali jika pondasi-pondasi yang telah dibuat ini dihilangkan secara radikal pada era pasca reformasi sekarang ini. padahal tidak semua yang telah dibuat oleh rejim-rejim terdahulu adalah tidak layak dijadikan contoh, justru dengan melihat contoh-contoh tersebut dapat menjadi ibroh/acuan bagi pergerakan bangsa ini ke depan.

Dengan kata lain, jika Indonesia ingin menambah ratingnya di mata dunia, jangan ‘pangkas habis/reform’ seluruh pondasi-pondasi positif tersebut, sesuaikan dengan kebutuhan bangsa pada konteks kekinian. jika tidak, teriakkan revolusi untuk perubahan yang lebih berarti.

[]Muhammad Insan Kamil, S.S