Solilokui Untuk Munir

“Munir kok dijadikan tokoh, kayak nggak ada yang lain saja.”

Mengenang Alm.Munir

Engkau tahu Cak, siapakah yang mungkin mengeluarkan kata-kata macam itu? Gerutuan itu melompat dari alat ucap para petinggi serdadu setelah dari meja redekasi kami mendaulatmu menjadi “Man of The Year 1998” Majalah UMMAT. Waktu itu awal tahun 1999.

Kita tahu, demikianlah tentara. Seluruh eksistensinya tergantung pada sebutir timah panas, dan bukan pada kemanusiaan. Maka, sebuah penobatan yang mencederai “agama” mereka itu, akan mereka taruh di seberang garis berlawanan.

Aku tak akan pernah melupakan malam itu, Cak–kali pertama aku bertemu muka denganmu. Saat itu, di sebuah koridor kampus, dimana siang tadi sejumlah bunga bangsa gugur diterjang peluru, sisa darah masih berceceran di depan gedung, dan sungguh menggetarkan, tak ada bau amis di sana.

Tetapi kita terpana, sekaleng selongsong peluru tajam berhasil dikumpulkan para mahasiswa dari halaman kampus mereka!

Para serdadu itu, yang mengendap-endap di ketinggian jalan layang, mungkin juga diatap-atap bangunan tinggi, rupanya telah memutuskan membasmi anak-anak yang hanya ingin merawat hati nurani itu dengan berondongan peluru tajam. Kita tahu, demikianlah tentara. Kebanggaan mereka hanya tergantung pada sebutir peluru.

Saat itu aku mencoba menyelami ke kedalaman matamu–menakar keprihatinanmu. Sebenarnya sikapku itu sesuatu yang sia-sia, karena keringat dan ketulusanmu telah menemani mereka yang dihilangkan, malam dan siangmu milik mereka yang terampas, senyum dan tangismu bersanding dalam doa-doa mereka yang ditindas.

Lalu aku tahu engkau tak pernah beranjak dari posisi itu ketika kekuasaan berganti, keculasan datang dan pergi, dan tentara masih menggantungkan harga dirinya pada sebutir peluru. “Kalau takut pada teror”, katamu suatu saat, “itulah saatnya kemenangan sang penereror.”

Cak, aku tahu engkau bukan tak memiliki rasa takut. Tetapi koyak-moyak sebuah negeri butuh lebih dari sekadar takluk pada ketakutan. Sungguh tidak ada waktu untuk membeku di bilik kamar.

Dan engkau menolak takluk, hingga Sang Maha Kekasih menjemputmu demikian indah.

Cak, maafkan aku belum sempat menunaikan janji menemuimu–meski aku yakin engkau tak pernah menagih.

Selamat jalan, Cak, temanilah kami menjalani hari-hari yang penuh teror ini.

[] Tulus Wijanarko

Email : tuluswijanarko@yahoo.com

Catatan: Tulisan ini dibuat 7 September 2004–sesaat setelah mendengar kabar kematiannya.