Kudeta oleh Teroris atau Densus 88?

HMINEWS.COM- Kepala Polri Jenderal Bambang Hendarso menyatakan tujuan akhir dari para teroris “Al Qaeda Aceh” adalah menjatuhkan wibawa pemerintah dan pada akhirnya mengambil alih kekuasaan negara Sebagaimana dikutip viva news.com (http://nasional.vivanews.com/news/read/179401-kapolri-tujuan-akhir-teroris-ambil-kekuasaan)

Wartawan yang mendengar pernyataan itu semestinya bertanya: berapa kekuatan militer para teroris itu dan seberapa hebat ketrampilan mereka bertempur sehingga punya potensi mengambil-alih kekuasaan? Pranata pertahanan dan politik seperti apa yang akan mereka gelar setelah berhasil mengambil-alih kekuasaan kelak? Hari ini saya  membaca Harian Jawa Pos yang memuat perkiraan jumlah teroris “Al Qaeda Aceh” versi polisi.

Mengutip sumber anonim di kepolisian, jumlah mereka sekitar 100 orang. Atau satu kompi pasukan! (http://www.jawapos.co.id/halaman/index.php?act=detail&nid=157138) Bahkan jika kita percaya mereka teroris semua seperti dikatakan polisi, jumlah itu sangat kecil jika dikaitkan dengan kemampuan mengambil-alih kekuasaan. Apalagi mempertahankan kekuasaan yang telah diambil.

Jumlah personil Polri kini sebanyak 386.408 personil; termasuk di dalamnya satu jenderal, empat Komjen, 27 Inspektur jenderal, 85 Brigadir Jenderal, 577 Kombes, 901 AKBP, 1.151 Kompol, dan 2.561 perwira pertama. Jika kita menghitung personil Brimob saja (polisi bersenjatakan alat tempur), jumlah mereka 32.000 atau 320 kompi. Kita belum bicara jumlah personil TNI.

Juga belum menimbang ketrampilan militer para “teroris”, serta persenjataan mereka. Abu Tholut, pemimpin kelompok itu, menurut sumber Jawa Pos tadi sangat berpengalaman. Apa pengalamannya? “Bergerilya di Poso.” Teman-teman di Poso atau yang pernah meliput konflik Poso dari bawah akan ketawa mendengarnya. Propaganda… Propaganda…. Salah satu cara menangguk simpati publik untuk mendukung “perang melawan teror”, termasuk metodenya yang serampangan, adalah membesar-besarkan ancaman teroris.

Meniru Presiden Amerika Serikat George Bush, itulah yang sedang dilakukan Kapolri. Ini teknik propaganda yang jamak dan seringkali cukup berhasil, yang diturunkan dari Paul Joseph Goebbels, penasehat Nazi Jerman: “If you tell a lie big enough and keep repeating it, people will eventually come to believe it.” Tidak hanya publik, wartawan pun nampaknya demikian mudah disihir propaganda.[]Farid Gaban