Komisaris Jenderal Nanan Soekarna disebut-sebut sebagai Kapolri (foto:detikpertama.com)

HMINEWS.COM- Komisi untuk Orang Hilang dan Tindak Kekerasan (Kontras) menilai calon Kapolri harus terbebas dari kepentingan pengusaha hitam. Bahkan  cukong atau pengusaha hitam itu dikabarkan mau membujuk SBY dan Ibu Negara agar tidak mencalonkan Nanan Soekarna, dengan mendesak agar Imam Soedjarwo yang dicalonkan jadi Kapolri. Ada apa? Benarkah?

“Calon Kapolri harus berani meninggalkan andalan dari sektor bisnis untuk mengamankan jasa bagi cukong,” Koordinator Kontras Haris Azhar kepada wartawan, Minggu (19/9).

Selain itu calon Kapolri juga harus memiliki komitmen menghilangkan praktik “membekingi” bisnis pengusaha.

Jika calon Kapolri tersebut memiliki kedekatan dengan pengusaha hitam maka akan sulit meningkatkan kinerja Polri guna memulihkan citra dan memiliki kepercayaan dari masyarakat.

“Kontras menginginkan kriteria calon Kapolri yang mempunyai integritas dengan tidak memiliki catatan hukum dan penanganan masalah sesuai prosedur. Kemudian aksebilitas untuk mendapatkan kepecayaan dari masyarat, serta memiliki legitimasi,” ujar Haris.

Sebagaimana diketahui Nanan Soekarna dinilai layak menjadi Kapolri karena memiliki rekam jejak yang bersih. Salah satunya saat menjadi Kapolda Kalimantan Barat, Nanan mampu memerangi illegal logging dimana salah satu pembalak liar yang ditindak di sana adalah pengusaha hitam berinisial ‘R’ yang juga memiliki bisnis tambang di Bangka Belitung.

Nanan juga didukung oleh mayoritas angkatan dan kesatuan di internal Polri, karena Nanan memiliki pengalaman panjang di beberapa Kesatuan Polri. Nanan memimpin dua Polda Tipe A, sedangkan Imam hanya memimpin Polda Tipe C yaitu Bangka Belitung.

Di lingkungan eksternal, Nanan dikenal sebagai jenderal yang memiliki kemampuan komunikasi mumpuni. Hal itu dibuktikan saat Nanan pasang badan menghadapi serangan pers dalam kasus Cicak Vs Buaya.

Nanan relatif lebih bisa diterima oleh semua angkatan karena dia lulusan terbaik peraih bintang Adhimakasya di angkatan 78. Sedangkan Imam lulusan angkatan 80, sehingga bisa menimbulkan perpecahan angkatan diatasnya.

Seorang cukong pengusaha hitam disebut-sebut tengah berupaya menjegal Komjen Nanan Soekarna menjadi Kapolri.

“Saya dengar ada cukong yang sedang bermain di balik pemilihan Kapolri, ini harus kita awasi. Karena pengusaha itu punya kepentingan bisnis dengan penguasa,” ujar Direktur Eksekutif SETARA Institute Hendardi kepada INILAH.COM, Minggu (19/9).

Hendardi menegaskan, publik harus mencegah agar pengusaha hitam tidak ikut bermain dalam pemilihan Kapolri. Sebab, cukong tersebut nantinya akan menyetir calon Kapolri yang didukungnya.

“Cukong ini mau melindungi kasus-kasusnya, makanya dia ikut bermain,” ujar Hendardi.

Menurut sumber INILAH.COM di lingkungan Polri, pengusaha tersebut berinisial R dan memiliki bisnis pertambangan dan perkebunan besar di Bangka Belitung (Babel).

“Mr R ini mendanai upaya penjegalan Pak Nanan, dia bilang kemana-mana akan gagalkan langkah Pak Nanan karena dendam pernah ditindak oleh Pak Nanan gara-gara illegal logging,” ungkapnya.

Sebagaimana diketahui Nanan Soekarna dinilai layak menjadi Kapolri karena memiliki rekam jejak yang bersih. Salah satunya saat menjadi Kapolda Kalimantan Barat, Nanan mampu memerangi illegal logging dimana salah satu pembalak liar yang ditindak di sana adalah Mr R.

Nanan juga didukung oleh mayoritas angkatan dan kesatuan di internal Polri, karena Nanan memiliki pengalaman panjang di beberapa Kesatuan Polri.

Di lingkungan eksternal, Nanan dikenal sebagai jenderal yang memiliki kemampuan komunikasi mumpuni. Hal itu dibuktikan saat Nanan pasang badan menghadapi serangan pers dalam kasus Cicak Vs Buaya.

Yang terpenting, Kapolri baru harus melindungi dan mengayomi rakyat dan tunduk kepada kepentingan rakyat, bukan kepada konglopmerat hitam ![]rima/ham