(foto :metrosiantar)

HMINEWS.COM- Ahmad Gazali pemilik rumah yang digerebek tim Densus 88 Mabes Polri, Minggu (19/9) sekitar pukul 19.30 WIB di Jalan Bahagia Gang Sehat Ujung, Kecamatan Datuk Bandar Timur, Kota Tanjung Balai, dikenal warga sebagai orang yang membuka praktik pengobatan alternatif dan guru mengaji. Kepada para murid ngajinya, Gazali sering menunjukkan dan mengajarkan cara perakitan bom dan berbagai jenis senjata api.

Kepala Lingkungan VII, Kelurahan Bunga Tanjung, Junaidi mengatakan, sepengetahuannya selama ini Ahmad Gazali menyewa rumah milik Gonggom Siahaan dan itu sudah berlangsung selama empat tahun. Selain membuka praktik pengobatan alternatif dan bekam, Gazali juga mengajar mengaji di Mushalla AL Rahman. Sedangkan pergaulan Gazali dengan para tetangga biasa saja tak ada yang mencolok dari tingkah laku Gazali.

“Selama tinggal di sini, perilaku atau kegiatan sehari-harinya tidak ada mengundang kecurigaan di tengah-tengah masyarakat atau tetangganya. Kita tidak mengetahui jika ia ada tamu dan sudah berapa lama tamunya tinggal di rumahnya. Sebab Gazali atau tamunya tidak ada melapor ke kita,” ujarnya.

Sementara Gonggom mengatakan, Gazali menyewa rumahnya tanggal 18 Agustus 2006.

“Saya tidak mengenal secara baik atau sering berjumpa dengan Gazali. Saya mengenal Gazali waktu pertama kali ia dan keluarganya mau menyewa rumah saya. Setelah itu saya baru bertemu dia jika mau bayar uang sewa rumah,” ujarnya.

Salah seorang warga yang tidak mau ditulis namanya mengatakan, jika Gazali mengajar anak-anak menggaji, Gazali selalu menggunakan laptop. Di sela-sela mengajar anak-anak menggaji, Gazali juga memperlihatkan berbagai jenis senjata api atau cara merakit bom yang ada dilaptopnya.

“Saya terkejut ketika anak saya mengatakan bahwa Gazali mengajar mengaji menggunakan laptop, dan di sela-sela mengajar mengaji, Gazali memperlihatkan jenis-jenis senjata dan cara merakit bom yang ada di laptopnya,” ujarnya.

Beberapa tahun lalu, Gazali juga pernah mengatakan kepada masyarkat setelah selesai Salat di Mushalla Al Rahman, bahwa tidak penting berhubungan dengan para tetangga atau sesama manusia, yang lebih penting atau lebih bagus selalu berhubungan langsung sama Allah.

Dengan perkataan Gazali tersebut membuat warga keberatan dan hal ini sudah pernah diadukan warga ke Departemen Agama, Kota Tanjung Balai. Namun persoalan itu selesai begitu saja.

“Kita selaku warga tidak mengetahui apakah Gazali terlibat suatu jaringan teroris atau tidak mau pun terlibat jaringan perampokan Bank CIMB Niaga di Medan. Karena warga tidak menaruh curiga atas perilakunya sehari-harinya. Sebab Gazali merupakan orang yang kurang bersilatuhrami dengan tetangga,” ujar warga yang mewanti-wanti agar namanya dirahasiakan.

Ani salahsatu tetangga Gazali mengatakan, Gazali dan istrinya Kartini bersama tiga anaknya datang dan tinggal di rumah yang digerebek tim Densus 88 pada sekitar bulan Agustus 2006 lalu. Sepengetahuannya, Gazali merupakan warga dari Tegal. Sebelum hari raya Idul Fitri, istri AG melahirkan anak keempatnya. Anak Gazali satu perempuan dan tiga lelaki.

Informasi lain yang diterima, drama penggrebekan yang dilakukan tim Densus 88 Mabes Polri berlangsung selama hampir 2 jam, Minggu (19/9). Warga sekitar rumah yang digrebek selama ini tak menyangka tempat itu dijadikan persembunyian teroris mau pun pelaku perampokan Bank CIMB Niaga Medan.

Teriakan “Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar! masih teriang di telinga Elly (38) warga yang berada persis di belakang rumah tersebut. Teriakan yang terdengar dari dalam rumah tersebut dibarengi suara tembakan sebanyak tiga kali.

Perempuan yang sedang berada di depan rumahnya itu langsung terkejut mendengar suara tembakan berulang kali dari dalam rumah yang dihuni ustazd Gazali tersebut. Spontan dirinya langsung bangkit dari tempat duduk dan keluar rumah menuju arah suara tembakan. Saat akan bergerak menuju arah rumah ustadz Gazali, dirinya dikejutkan munculnya dua orang  lelaki yang mengenakan kemeja lengan panjang. Dua orang lelaki itu berlari dengan cara berpisah dari samping rumahnya.

Tak berapa lama, muncul seorang perempuan mengenakan Jilbab yang juga ikut berlari setelah terdengar tembakan. Perempuan berbaju panjang warna hitam itu langsung berlari tanpa mengenakan alas kaki.

“Mulanyo aku sangko anak-anak yang soringbaganja digrebek polisi bang, waktu mandongar tembakan itu. Bah ruponyo muncul perempuan yang pake jilbab ikut berlari jugo kutengok,” ujar Elly dengan logat Melayu nya yang masih kental.

Setelah itu muncul beberapa orang lelaki berpakaian rapi mengenakan pakaian rompi warna hitam. “Sudah masuk saja ke dalam rumah bu!, nggak ada apa-apa kok,” ujar salah seorang di antaranya sembari berlari membawa senjata api.

Karena penasaran, perempuan itu langsung memanggil Imah tetangga lainnya yang berada tidak jauh dari lokasi penggerebekan. Mereka langsung melihat arah rumah Gazali dengan cara mengintip dari celah dinding rumahnya.

Saat melihat arah rumah Gazali tiba-tba listrik yang berada dalam rumah tersebut mati. Padamnya listrik dalam rumah tersebut diiringi dengan suara pekikan dari beberapa orang perempuan yang berada di luar rumah.

Tak berapa lama, setelah terdengar suara tembakan tersebut warga langsung berkerumun di lokasi kejadian. Warga langsung melihat puluhan lelaki menenteng senjata api dan mengenakan rompi anti peluru berkumpul di lokasi kejadian.

Elly menceritakan penggrebekan yang berlangsung sekira pukul 19.30 WIB itu tampak cukup sepi dan lenggang. Pasalnya, saat itu usai azan Magrib seluruh warga sekitar berada dalam rumah masing-masing. Awalnya, dirinya sempat melihat beberapa orang lelaki berjalan mengendap dari balik rumah warga. Para lelaki yang belakangan diketahui petugas Densus 88 AT Mabes Polri itu langsung mengepung rumah kediaman Gazali.

Dan setelah mengepung rumah tersebut, tampak beberapa orang perempuan berada di luar rumah. Sedangkan, anak-anak dan bayi yang masih berusia 1,5 bulan dari dalam rumah itu tampak disuruh keluar. “Aku sompat manyuruh bapak-bapak itu mangojar orang yang berlari dari samping rumahku. Makanya langsung ditembak. Tapi kuraso tak konak waktu ditembak, takut juga awak kalau memang teroris,” ujarnya.

Perempuan dan anak-anak itu tampaknya sengaja dievakuasi petugas Densus 88 menuju rumah tetangga yang berada di depannya.

“Memang waktu itu anak-anak dan perempuan disuruh keluar sama bapak-bapak yang datang itu. Mereka disuruh ke rumah yang berada di depannya,” ujar Ida warga lainnya.

Usai terdengar suara tembakan, dari kejauhan dirinya melihat Gazali dengan seorang lelaki yang diduga Alex keluar dari dalam rumah sembari mengangkat tangan. Keduanya langsung diperintahkan petugas untuk tiarap di lantai teras rumah. “Tiarap!, tiarap!, cepat,” ucap Ida menirukan perkataan petugas Densu 88 kepada Gazali saat itu.

Tak berapa lama, setelah hampir 2 jama meluncur satu unit mobil patroli Polresta Tanjung Balai dan satu unit mobil ambulance RS Dr Mansyur berwarna hijau. Mobil ambulance itu langsung mengangkut dua jenazah lelaki dari dalam rumah.

Sedangkan, pemilik rumah Gazali dan istri beserta penghuni lainnya langsung dibawa dengan mobil jenis terios dan Kijang Innova. Sedangkan, petugas kepolisian Polresta Tanjung Balai bersenjata lengkap siaga di sekitar lokasi kejadian.

Selang beberapa jam, lokasi rumah yang digerebak itu langsung dipadati warga yang berhamburan di sekitar lokasi. Warga hanya menyaksikan polisi memasang garis police line melingkar di depan rumah ustadz Gazali tersebut.

Warga yang memadati lokasi rumah itu hampir menutup jalan masuk menuju arah lokasi kejadian. Bahkan, sakin padatnya kendaraan roda dua tak bisa lewat menuju lokasi karena sepanjang jalan banyak kendaraan parkir.

“Ado teroris ditangkap, ado teroris ditangkap,” teriak beberapa warga di sepanjang jalan menuju lokasi kejadian. Kabar kejadian itu langsung menyebar di seluruh Kota Tanjung Balai. Bukan hanya, warga Kota Tanjung Balai yang geger setelah kejadian penggerebekan itu, seluruh daerah di sekitarnya juga gempar.

Puluhan jurnalis mulai dari cetak dan elektronik tampak berkumpul di lokasi melakukan peliputan. Bahkan salah satu stasiun televisi swasta langsung melakukan live di sekitar lokasi kejadian yang menasional tersebut.

Selain dikenal sering menerima tamu yang tak dikenal, warga juga menilai pelajaran  ilmu agama yang diajarkan Gazali sedikit radikal atau keras. Beberapa orang  warga yang  menitipkan anaknya untuk diberikan pelajaran agama merasa sedikit aneh.

Diduga, dalam memberikan pelajaran ustadz itu sering menegaskan dan memberi ‘doktriin’ yang sedikit berpahamaan keras. Beberapa orang murid yang diajarkan oleh ustadz  tampak berubah dan selalu  patuh kepada dirinya daripada orang tua.

Hal itu diungkapkan, salah seorang warga sekitar yang menyuruh anaknya berhenti mengajar mengajai dengan Gazali.

“Masak ustadz Gazali itu bilang sama anak aku kalau orang tua kamu tak mau disuruh sembahyang boleh ditunjangkan,” aku takut mendengarnya ujar warga yang minta namanya dirahasiakan.

Warga Dengar 5 Kali Suara Letusan

Saat tim Detasemen Khusus (Densus) 88 Mabes Polri, melakukan penggerebekan di rumah salahseorang warga yakni rumah milik Ahmad Gazali, di Jalan Bahagia Gang Sehat Ujung, Kelurahan Bunga Tanjung, Kecamatan Datuk Bandar Timur, Kota Tanjung Balai, Minggu (19/9) malam sekitar pukul 19.30 WIB, warga mengaku mendengar terjadi sekitar 4 atau empat kali suara ledakan yang diduga merupakan suara tembakan. Namun warga tidak mengetahui siapa yang pertama mengeluarkan tembakan, apakah tim Densus 88 atau para tersangka.

Tetangga Gazali, yakni Ani (45) mengatakan, sesaat sebelum penggerebekan yang dilakukan tim Densus 88 di rumah Gazali pukul 18.45 WIB, terlebih dahulu tim Densus 88 menutup beberapa ruas jalan yang menuju jalan keluar maupun jalan masuk ke rumah Gazali. Selanjutnya tim Densus 88 bergerak untuk menggerebek rumah Gazali.

“Selanjutnya kita tidak tau lagi dan hanya terdengar suara tembakkan sekitar lima atau enam kali. Selang beberapa jam, suara tembakkan, selanjutnya Densus 88 keluar dan membawa dua orang dari dalam rumah Gazali dan membawa dua mayat yang tewas ditembak penggerebekan itu,” ucapnya.[]jpnn/metrosiantar/ham