Is there a God? What is God? Is God Personal or Impersonal? (psychics.co.uk)

HMINEWS.COM- Tuhan yang satu yang tak terjangkau oleh pikiran manusia, tapi dipersepsi berbeda-beda oleh manusia sepanjang sejarah. Tuhan menjadi postulat bagi agama dan menjadi perbincangan penting dalam filsafat serta pencaharian tanpa akhir dalam teosofi atau mistisisme. Masing-masing dengan basis epistemologi dan pendekatan yang berbeda mencoba untuk menjabarkan tentang konsep mereka mengenai Tuhan sebagai Ultimate Reality, Realitas Adikodrati, Causa Prima, dan lain-lain.

Mengenai status ontologis Tuhan dalam konsepsi manusia, paling tidak terklasifikasi dalam dua kategori, yaitu Tuhan yang bersifat personal dan Tuhan yang bersifat a personal atau impersonal sebagai lawan dari pandangan Tuhan personal. Kedua pandangan tersebut cenderung biner dalam memposisikan Tuhan sebagai Ultimate Reality. Olehnya itu, pembahasan mengenai keduanya menjadi sangat penting dalam rangka menelisik lebih jauh mengenai Tuhan dalam konsepsi manusia.

Budi Munawar Rahman mendefenisikan Tuhan personal adalah pandangan yang menyatakan bahwa Tuhan seperti manusia dalam artian memiliki pribadi. Konsep tentang Tuhan personal adalah konsep tentang Tuhan sebagai The Other yang berbeda secara diametral dengan semesta. Dengan demikian posisi Tuhan diposisikan secara vis a vis dengan makhluknya. Tuhan personal adalah Tuhan yang transenden dan cenderung memproyeksikan Tuhan sebagai obyek yang antropomorphis. Konsep tentang Tuhan personal biasanya dianut oleh kalangan agama yang memahami teks-teks teologis secara literer.

Alfred North Whitehead dalam membahas konsep Tuhan personal, membaginya ke dalam dua pandangan, yaitu pandangan agama semitik dan pandangan kaum pantheis. Whitehead mengulas konsepsi Tuhan yang personal dalam pandangan agama semitik, yaitu pandangan tentang Tuhan sebagai pribadij, individu yang personal, yang keberadaanNya merupakan fakta metafisik yang paling mendasar, yang bersifat Esa, yang Mutlak, yang tidak berasal dari sesuatu apa pun, yang memerintah serta mengatur keberadaan ciptaan yang kita sebut sebagai dunia Nyata. Whitehead mengatakan juga bahwa konsep Tuhan personal dalam pandangan agama semitik merupakan hasil rasionalisasi dari dewa-dewa suku dan agama-agama suku yang mendahuluinya. Konsep ini merupakan bentuk ekstrem dari ajaran tentang transendensi.

Sedangkan Tuhan personal dalam pandangan kaum pantheistik, menurut Whitehead adalah konsep Tuhan sebagai pribadi sebagaimana yang dijelaskan dalam konsep agama semitik. Hanya saja bedanya, dalam pandangan kaum pantheistik, dunia nyata dilihat sebagai suatu fase dalam kenyataan utuh berupa pribadi Tuhan sendiri. Dunia bila dipahami terlepas dari Tuhan adalah tidak nyata, dunia hanya menjadi nyata dalam diri Tuhan yang nyata. Dunia nyata memperoleh realitas adanya dalam sebagian deskripsi tentang ke-Siapa-anNya. Tetapi pada dirinya sendiri, dunia nyata hanyalah serangkaian gejala (appearance) yang merupakan fase saja dari keberadaan Tuhan. Menurut Whitehead, inilah bentuk ekstrem dari ajaran tentang monisme.

Menurut Whitehead ada dua hal yang merupakan kesulitan besar yang harus dihadapi oleh konsep semitik tentang Tuhan. Kesulitan pertama adalah konsep semitik memahami Tuhan sebagai Realitas yang di luar rasiobalisasi metafisis. Dan kesulitan kedua adalah terletak pada pembuktiannya, dan satu-satunya kemungkinan adalah dengan menggunakan argumen ontologis sebagai dalil untuk membuktikan keberadaanNya. Dalam pandangan penulis, kedua problema tersebut tidak hanya pada konsep Tuhan dalam agama semitik, melainkan problema dalam seluruh konsepsi yang memandang Tuhan sebagai person.

Selain kedua kelompok tersebut (agama semitik dan pantheis), konsepsi Tuhan personal sudah terlebih dahulu dipersepsi dalam keyakinan agama-agama kuno atau kaum paganis yang kemudian memvisualisasikan Tuhan dalam wujud berhala-berhala sebagai personifikasi Tuhan yang mereka sembah.

Sebagai wacana pembanding, konsep Tuhan yang personal ini menjadi sasaran empuk dari para pengkritik Tuhan. Salah seorang pemikir yang cukup gigih mendekonstruksi konsep Tuhan yang personal adalah Ludwig Van Feurbach.

Feurbach mengkritik konsep Tuhan dengan pendekatan ontologis, Feurbach menyebutkan konsep tentang Tuhan tak lebih dari konsep manusia tentang dirinya sendiri, ia terkenal dengan diktum; “Theology is antropology”.

Menurut Feurbach, kesadaranlah yang menggerakkan manusia untuk mempersepsi dan selanjutnya menilai realitas, lalu ia bertindak berdasarkan persepsi dan penilaian tersebut. Ketika manusia menyelami samudera kesadarannya hingga di titik terdalam, sampailah manusia pada kesadaran dan persepsi tentang kesempurnaan, kecerdasan, keagungan, kesucian, dan segala keluarbiasaan lainnya.

Namun, realitas yang dihadapi oleh manusia berbanding terbalik dengan semua persepsi tersebut. Yang ditemui oleh manusia adalah kelemahan, kenistaan, kebodohan, dan segala hal yang mengantarkannya pada persepsi tentang inferioritas manusia. Namun, kesadaran dan persepsi tentang adanya realitas yang superior (Maha) etrsebut, tak bisa ditolak oleh manusia.

Akhirnya sampailah manusia pada kesimpulan bahwa segala atribut yang Maha tersebut adalah sosok lain yang bukan dirinya dan benar-benar berbeda dengan dirinya. Dari sinilah kemudian kesadaran manusia mempersepsi tentang adanya sosok Tuhan yang benar-benar Maha. Lalu kemudian manusia memasang jarak dan menarik garis demarkasi antara dirinya dan sosok yang diciptakannya tersebut yang ia sebut sebagai Tuhan.

Tuhan Maha Perkasa-manusia maha lemah, Tuhan maha kuasa-manusia maha tak berdaya, Tuhan maha suci-manusia maha nista, Tuhan Maha cerdas-manusia maha bodoh, Tuhan Maha Superior-manusia maha inferior, Tuhan Maha sempurna-manusia tak akan pernah sempurna. Kesimpulannya, menurut Feurbach konsep Tuhan hadir karena kegagalan kesadaran manusia dalam memahami dirinya. Atau Tuhan hanyalah proyeksi pikiran mahusia akibat ketidakmampuan manusia memahami dirinya. Maka Tuhan yang personal adalah hasil dari intelegibilitas yang tertinggi, dan merupakan “hasrat manusia yang terwujud”.

Tuhan Impersonal

Tuhan yang impersonal adalah konsepsi tentang Tuhan yang berkebalikan dari konsep Tuhan yang personal. Tuhan yang impersonal adalah menolak konsep Tuhan yang bersifat pribadi atau antropomorphis. Tuhan yang impersonal banyak ddipahami oleh kaum gnostik atau teosofi. Sedangkan menurut Alfred North Whitehead, konsep Tuhan yang impersonal terdapat dalam pandangan ketuhanan agama-agama Asia Timur.

Konsep agama Asia Timur tentang Tuhan impersonal yang mengatur dunia. Tatanan ini berasal dari dalam dunia sendiri, bukan aturan yang dipaksakan dari luar. Konsep ini menurut Whitehead merupakan bentuk ekstrem dari ajaran tentang imanensi. Konsep Asia Timur dan konsep pantheis berkebalikan satu dengan yang lain.

Dalam konsep Asia Timur, untuk membicarakan Tuhan, kita harus berbicara tentang dunia, sedangkan dalam panteisme, untuk membicarakan dunia, kita harus terlebih dahulu berbicara tentang Tuhan. Sedangkan konsep semitik dan Asia Timur bertentangan secara frontal satu dengan yang lain. Dengan kata lain, dalam konsep Asia Timur yang dimaksud Tuhan adalah kekuatan dunia itu sendiri.

Konsep Tuhan yang impersonal juga diyakini oleh pada umumnya kaum gnostik atau kaum sufi dalam Islam. Tuhan bukanlah sosok yang berbeda secara diametral dengan makhluknya, khususnya manusia. Yaitu Tuhan sebagai entitas yang dekat dan tak terpisah dari makhluknya.

Dalam mengurai konsepsi mengenai Tuhan, maka penjelasan yang bersifat metaforik pun menjadi pilihan untuk mempermudah pembahasan tentang Tuhan yang sejatinya tak terdefenisi dan tak terjangkau. Dan fitrah yang paling sublim dalam diri manusia adalah Tuhan itu sendiri. Dengan demikian, Tuhan adalah manusia dan manusia adalah Tuhan, meski konsepsnya tak seekstrem dengan konsep agama Asia Timur. Suhrawardi menggunakan analogi cahaya dalam “mendeskripsikan Tuhan” yang impersonal dan Mulla Shadra menelisik lebih jauh dengan menyebut Tuhan sebagai Wujud qua wujud atau Wujud Murni

Dengan penuh keyakinan para sufi menganggap bahwa Tuhan adalah realitas yang zahir dan immanen meski pada sisi lain dia bersifat batin dan transenden. Meskipun Tuhan tersembunyi (batin) dan “jauh” (transenden) tidak membuat kaum sufi merasa Tuhan begitu jauh dan tak terjangkau sebagaimana yang dikonsepsi oleh para filosof. Para sufi lebih menekankan pandangan Tuhan begitu “dekat” dan “menyatu” (immanen) dengan makhlukNya.

Hal ini sebagaimana yang diungkapkan oleh Imam Ali bin Abi Thalib, ketika ia ditanya, “mengapa engkau menyembah Tuhan yang tak kau lihat”?. Imam Ali menjawab ; “bagaimana mungkin aku menyembah Tuhan yang tak aku lihat? Aku melihat Tuhan yang aku sembah, tapi aku tidak melihat dengan mata lahirku, melainkan dengan mata batinku”. Dalam keempatan lain Imam Ali bin Abi Thalib mengatakan, “aku melihat Tuhan sebelum, pada saat, dan sesudah melihat sesuatu”.

Tuhan para sufi adalah Tuhan dari setiap keyakinan, dan Tuhan dari semua makhluk. Meskipun realitasNya hanya satu, tapi ia disebut dengan banyak nama. Allah, Tuhan, God, Gott, Khuda, Brahma, Baghwan, semua nama ini adalah namaNya. Namun, sesungguhnya dia berada di luar batasan nama.

Sebagaimana telah dinyatakan sebelumnya, para sufi dan mistikus memandang Tuhan adalah “setiap hal dari segala”. Sufi melihat Tuhan di matahari, api, patung, yang disembah sekte-sekte yang berbeda-beda., dan mereka mengenalNya dalam segala bentuk semesta. Tuhan adalah yang lahir dan yang batin, satu-satunya Wujud, Tuhannya para sufi bukan semata-mata keyakinan religius, tetapi juga cita-cita tertinggi yang dapat dibayangkan dan dijangkau oleh manusia.

Meski yang ditunjuk dan yang dituju sejatinya adalah sosok Tuhan yang sama, namun dipersepsi secara berbeda bahkan bertentangan antara masing-masing kelompok manusia. Konsepsi Tuhan yang personal dan Tuhan yang impersonal merupakan wujud dari perbedaan cara pandang tersebut. Tuhan sebagai sosok yang “berpribadi” atau Tuhan sebagai sosok yang “lepas” dari pencitraan yang bersifat pribadi telah lama menjadi referensi pemikiran teologi dan filsafat ketuhanan dalam sejarah pemikiran manusia.

[] Sabara Putra Borneo