http://t0.gstatic.com/images?q=tbn:oSVsIh44LVj_ZM:http://www.swaberita.com/wp-content/uploads/2009/08/mudik-01.jpg&t=1

Menjelang Idul Fitri tiba, umat muslim selalu dihadapkan dengan tradisi tahunan, yaitu Mudik Lebaran. Tradisi mudik lebaran biasanya ditandai dengan fenomena “pulang kampung”. Utamanya, bagi mereka yang hidup di perantauan dengan meninggalkan tempat kerja, usaha, rumah, atau kantor untuk berbagi kebahagiaan bersama sanak famili menuju kampung halaman.

Mudik Lebaran juga merupakan momentum untuk dapat bersilaturahmi dengan keluarga dan masyarakat setelah sekian lama tidak bertemu. Sebuah tujuan yang sangat mulia dan memiliki nilai ukhuwah yang sangat tinggi.

Untuk menunaikan tujuan mulia tersebut, para pemudik kadang tidak lagi peduli harus berjubel di dalam kendaraan umum atau mengantre panjang untuk mendapatkan tiket kereta atau kendaraan umum, baik darat, laut maupun udara, bahkan tidak jarang menghadapi risiko penipuan atau pencopetan selama perjalanan pulang.

Namun, semua “kesengsaraan” itu sepertinya tak pernah menyurutkan niat mereka untuk mudik ke kampung asal. Malah, kaum pemudik itu justru menunggu momentum penting itu. Bagi mereka semua itu menjadi tak berarti jika dibandingkan dengan kenikmatan bersilaturahmi dan melepas rindu bersama keluarga di kampung halaman.

Tradisi pulang kampung atau mudik ini juga selalu melekat dengan momentum Ramadhan, dan Idul Fitri. Karena memang, Mudik, Ramadhan, dan Idul Fitri adalah satu rangkaian dalam satu gerbong ritual-budaya (Islam). Sayangnya, sebagaimana mudik, Idul Fitri dan Ramadhan seringkali hanya bermakna sebagai rutinitas ritual saja. Kurang ada nuansa keprihatinan terhadap kaum papa lebih-lebih di era modern saat ini.

Mudik, seakan telah menjadi ritus budaya, yang sedemikian mentradisi dalam masyarakat kita. Fenomena mudik berkait-kelindan dengan perayaan Idul Fitri, atau akrab disebut Lebaran. Dari segi ritus budaya, mudik biasanya ditandai dua hal. Pertama, mudik menjadi “kebutuhan primer” tahunan masyarakat urban. Kedua, walaupun memiliki korelasi waktu dengan Idul Fitri yang nota bene ritual Islam, mudik juga melibatkan hampir seluruh lapisan masyarakat, termasuk non-Muslim.

Tradisi mudik dijadikan sebagai wahana klangenan atau “jembatan nostalgia” dengan masa lalu. Pemudik yang rata-rata berasal dari desa, diajak bercengkerama dengan romantisme alam pedesaan, yang di dalam konsep antropologi dikenal dengan sebutan close coorporate community.

Pemudik merindukan nilai-nilai kebersamaan alamiah yang jarang lagi mereka temui di kota, karena ketatnya persaingan memburu “status”. Di sinilah ada benang merah yang dapat ditarik, mengapa keinginan pemudik untuk mengenang “sejarah” dirinya barang sejenak selalu dilakukan beriringan dengan perayaan Idul Fitri.

Dalam hal ini, maka Idul Fitri sebagai The push factor mudik, sebenarnya memiliki titik temu dengan mudik. Praktis sebelas bulan lamanya manusia disibukkan dengan segala aktivitas yang bisa memalingkan dirinya dari potensi keilahian.

Sejak zaman azali, Al-Quran telah menceritakan adanya tawar-menawar metafisis (mitsaq) yang mengisyaratkan bahwa manusia menurut fitrahnya adalah beragama (Q.s al-A’raaf:172). Tapi seiring perjalanan waktu, suara Tuhan sayup-sayup tersisihkan oleh seabrek agenda kegiatan kita.

Untuk lebih memahami makna Idul Fitri secara benar, ada baiknya kita mengkaji kembali apa sebenarnya makna ‘Idul Fitri. Dalam Islam, kita punya dua istilah ‘id. ada Idul Fitri ada Idul Adha. ‘Id berasal dari bahasa Arab dari akar kata ‘ada yang artinya “kembali”.  Secara etimologis, Idul Fitri berarti “kembali berbuka.”

Perlu adanya pelurusan pemahaman kita tentang al-fitr. Selama ini, Idul Fitri diartikan “kembali ke fitrah.” Sebenarnya yang tepat adalah “kembali berbuka.” Fitr berbeda dengan fitrah. Fitrah memakai ta’ marbutah, sedangkan al-fitr dalam kata Idul Fitri tidak memakai ta’ marbutah.

Tetapi apapun namanya istilah Idul Fitri buat kita adalah “mengungkapkan suatu kegembiraan setelah kurang lebih satu bulan kita yang beragama Islam berpuasa di siang hari dan kembali seperti biasa makan, minum dan berhubungan seks di siang hari.”

Tapi bagi kita yang penting adalah Idul Fitri berarti “kembali ke kampung halaman rohani.” Dengan demikian, yang harus mudik itu sesungguhnya bukan dalam arti biologis. Coba kita lihat akhir-akhir ini mudik lebaran bukan main luar biasa, sampai “merepotkan” semua pihak. Padahal yang urgen adalah melakukan “mudik spiritual atau mudik rohani.”
Coba betapa besar “ongkos” yang harus kita bayar. Mudik yang mengiringi Idul Fitri menjadi semacam suatu pesta ritual tahunan yang sangat konsumtif. Bayangkan kalau akumulasi modal atau keuntungan atau gaji yang diperoleh selama satu tahun bekerja di kota tiba-tiba harus habis dalam satu minggu karena mudik biologis ke kampungnya itu. Substansi dari Idul Fitri adalah “pulang ke kampung halaman rohaninya.” Artinya kembali ke hati nurani. Ini yang sangat penting kita garisbawahi.

Selain itu, momentum Idul fitri harus menjadi langkah awal kita dalam mengimplementasikan segala latihan dari ibadah-ibadah yang telah dilakukan selama Ramadhan. Langkah awal ini harus dimanfaatkan sebagai ujung tombak kehidupan yang lebih baik, di mana pencerahan hati, kekuatan iman yang telah dikumpulkan selama ramadhan membuahkan keistiqomahan di jalan Allah pada hari hari berikutnya.

Idul Fitri juga merupakan kemenangan. Tapi bukan kemenangan untuk setiap muslim, melainkan kemenangan untuk muslim yang sungguh-sungguh menjalankan ibadah shaum di bulan Ramadhan. Kemenangan di sini tidak sepatutnya diartikan sebagai pembebasan. Bebas kembali menebar hawa nafsu, bebas makan minum setiap saat, bebas menggunakan harta yang dimiliki. bukan itu arti di balik kemenangan.

Karena sesungguhnya kemenangan bukanlah kebebasan. Kemenangan adalah pembebasan diri dari tunduknya hati selain kepada Allah. Idul fitri merupakan kemenangan yang harus diisi dengan segenap cara yang suci, agar kemenangan tersebut tidak kandas di tengah jalan.[]Rif