Pdt. Wayne Lavender

Qur’an untuk perdamaian: apa yang bisa kita perbuat

Clifton, Virginia – Saya orang beriman. Saya telah menjadi seorang pastor selama 25 tahun di Gereja Metodis Bersatu. Karena komitmen kuat terhadap ajaran agama sayalah, saya merasa perlu berbuat sesuatu – apa pun – untuk menanggapi kejahatan kebencian yang rencananya dilakukan oleh sebuah gereja Kristen, Dove World Outreach Center, di Gainesville, Florida, pada 11 September 2010.

Meskipun para pejabat pemerintahan kota Gainesville telah menolak memberi izin bagi kegiatan itu, dan menyatakan bahwa membakar buku secara terbuka dilarang di kota ini, Pastor Terry Jones telah berjanji membakar salinan-salinan al-Qur’an di tempat parkir gerejanya pada hari peringatan sembilan tahun peristiwa serangan 11 September.

Apa yang bisa saya lakukan untuk menghadapi kebencian dan kebodohan semacam itu?

Saya percaya bahwa setiap tindakan menciptakan reaksi berlawanan yang sepadan, dan bahwa aksi kebencian, intoleransi dan kebodohan akan menciptakan siklus kebencian, intoleransi dan kebodohan lebih banyak lagi. Karenanya saya mencari cara alternatif, memberi tanggapan yang selaras dengan cinta dan kasih sayang yang diteladankan oleh pendiri agama saya, Yesus Kristus, Sang Pangeran Perdamaian.

Apa aksi simbolik yang bisa saya lakukan untuk bisa membantu meredam kebencian dalam aksi pembakaran al-Qur’an ini, membantu menumbuhkan perdamaian dan pengertian lintas agama?

Saya telah memutuskan bahwa pada 11 September tahun ini, untuk setiap al-Qur’an yang dibakar oleh gereja tersebut atas nama Tuhan, saya akan mengirimkan sebuah al-Qur’an ke sebuah gereja di Amerika Serikat untuk dimasukkan ke dalam perpustakaannya, karena tampaknya pada waktu yang penting dalam sejarah ini, saya hanya bisa memerangi kebencian seperti itu dengan aksi cinta dan kedamaian.

Misinformasi tentang Islam dan pengutipan ayat-ayat al-Qur’an lepas dari konteksnya telah menjadi tren yang mengkhawatirkan di Amerika Serikat. Internet digunakan untuk penyebarluasan kebohongan, pemutarbalikan fakta, bahkan penghinaan, yang merupakan propaganda anti-Muslim dan anti-Islam yang penuh kebencian. Pesan-pesan ini harus dilawan dengan pesan-pesan kebenaran yang akan membawa perdamaian dengan keadilan. Islamofobia lebih baik diatasi dengan mencoba mengetahui dan memahami al-Qur’an.

Apa yang bisa kita lakukan? Saya mengajak Anda membeli sebuah al-Qur’an dan menghadiahkannya ke gereja atau tempat ibadah Anda. Jika kita tidak bisa meningkatkan tolerasi di Amerika Serikat dan di sekitar kita, saya khawatir kita akan menghadapi masa depan yang penuh kekerasan.

Pada 11 September 2010, menanggapi pembakaran al-Qur’anul Karim, saya – selaku seorang pastor agama Kristen – akan memilih menanam benih cinta dan toleransi dengan memberikan al-Qur’an ke gereja-gereja setempat. Semoga langkah ini tidak saja bisa menjadi sikap simbolik perdamaian dan toleransi beragama, tapi juga dibaca dan dipahami bahwa, seperti Kristen, Islam adalah agama yang kompleks, penuh nuansa dan dinamis, yang berakar pada kasih sayang, keadilan dan perdamaian.

Apa yang akan Anda perbuat?

*Pdt. Wayne Lavender, Ph.D. adalah seorang pastor Gereja Metodis Bersatu dan direktur eksekutif Passing the Peace, sebuah organisasi yang mempunyai misi menciptakan sebuah dunia yang penuh kedamaian dan keadilan. Artikel ini ditulis untuk Kantor Berita Common Ground (CGNews).

Sumber: Kantor Berita Common Ground (CGNews), 11 September 2010, www.commongroundnews.org