Lailatul Qadr Investasi Istimewa Bagi Ummat (zeninfosys.net)

HMINEWS.COM- Tidak lama lagi kita akan sampai di penghujung bulan Ramadhan, bulan yang penuh berkah, rahmat dan ampunan. Sebuah proses interaksi yang sangat sering (intens) selama sebulan penuh, ditambah pula dengan saling memberi manfaat satu sama laian yang bernilai ibadah, maka kehilangan Ramadhan akan sangat terasa berat, ibarat kehilangan seorang teman baik dan akrab dengan kita.

Jika hal ini yang terjadi pada kita, maka ditinggalkan RAMADHAN tentu sangat berat dan bahkan membawa kesedihan. Walaupun kita akan berpisah dengan RAMADHAN sebagai bulan KITA, yaitu hanya antara ALLAH SWT dengan seorang ummatnya saja, tetapi ALLAH tetap memberikan penawaran terbaikNYA sebelum RAMADHAN berakhir. Salah satu malam yang diistimewakan oleh ALLAH SWT pada hambaNYA, yaitu LAILATUL QADR.  ALLAH SWT berfirman dalam Surat Al-Qadr (The Power)

Sesungguhnya Kami telah menurunkannnya pada malam kemuliaan (Indeed, We sent the Qur’an down during the Night of Decree).

Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? (And what can make you know what is the Night of Decree)?

Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan (The Night of Decree is better than a thousand months).

Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan Tuhannya untuk mengatur segala urusan. (The angels and the Spirit descend therein by permission of their Lord for every matter).

Malam itu kedamaian sampai terbit fajar (Peace it is until the emergence of dawn).

Sebuah riwayat mengatakan tentang latar belakang turunnya surat ini:

Pada suatu hari Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam bercerita kepada para sahabatnya tentang pejuang dari Bani Israil yang bernama Sam’un. Selama 1000 bulan atau delapan puluh tiga tahun ia tidak pernah meletakkan senjata atau beristirahat dari perang Fii Sabilillah. Ia hanya berperang dan berperang demi menegakkan agama Allah tanpa mengenal rasa lelah.

Para sahabat ketika mendengar cerita tersebut, mereka merasa kecil hati dan merasa iri dengan amal ibadah dan perjuangan orang tersebut. Mereka ingin melakukan amal ibadah dan perjuangan yang sedemikian rupa, tapi bagaimana mungkin untuk melakukannya sedang umur kehidupan mereka jarang yang mencapai usia lebih dari enam puluh atau tujuh puluh tahun. Di dalam hadist disebutkan oleh Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam: “Usia ummatku sekitar enam puluh atau tujuh puluh tahun”. karena itulah mereka bersedih dan kecil hati.

Ketika para sahabat sedang berfikir dan merenungkan tentang hal itu, dimana mereka merasa kecil hati karena tidak mungkin berbuat hal yang telah diperbuat oleh orang Bani Israil yang telah disebutkan oleh Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam, maka datanglah malaikat Jibril kepada Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam membawa wahyu dan kabar gembira kepada Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam dan para sahabatnya.

Berkata malaikat Jibril Alaihis Salaam: “Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah menurunkan kepadamu ya Rasulullah surat Al Qadr, dimana di dalamnya terdapat kabar gembira untukmu dan ummatmu, dimana Allah menurunkan malam Lailatul Qadr, dimana orang yang beramal pada malam Lailatul Qadr mendapatkan pahala lebih baik dan lebih besar daridari pada seribu bulan. Maka amal ibadah yang di kerjakan ummatmu pada malam Lailatul Qadr lebih baik dari pada seorang ahli ibadah dari kalangan Bani Israil yang beribadah selama delapan puluh tahun”.

Memasuki hari-hari terakhir Ramadhan dan menyongsong kedatangan malam istimewa itu, kita perlu melakukan kontemplasi, introspeksi spiritual terhadap apa-apa yang telah, belum, dan akan kita lakukan.

Oleh karena itu, tepatlah sebuah pepatah: man zaro’a hashoda (barangsiapa yang menanam akan memetik hasilnya) atau yang dirumuskan dalam formula Return of Investment (ROI). Mengapa kita harus dan bersedia berinvestasi? Hampir semua jawaban selalu mengaitkan dengan keyakinan akan adanya pengembalian yang lebih baik di masa depan, sebagai upaya untuk memenuhi kebutuhan.

Ganjaran amal 1000 bulan yang diperoleh dalam Lailatul Qadr, jika dibandingkan dengan usia rata-rata kita saat ini, berarti kita telah menyebar amalan itu pada bulan-bulan terdahulu tatkala kita lupa beramal. Malah, apabila kita beribadah sekalipun pada bulan-bulan biasa nilai Lailatul Qadr tetap lebih baik dan juga dapat sebagai tabungan amal ibadah kita pada sisa usia yang diberikan ALLAH SWT sebelum kita menghadapi timbangan dihadapanNYA.

Di sinilah pentingnya kesadaran dan kesediaan diri kita untuk melakukan investasi kehidupan, membangun lingkungan dan generasi yang berdimensi kaffah, yaitu insan kamil, insan yang cerdas, santun, dan berkepribadian.

Itulah salah satu makna Ramadhan yaitu sebagai bulan tarbiyah (pendidikan) dan investasi, karena di dalamnya serangkaian janji Allah SWT menjelaskan terhadap berlipat gandanya amalan-amalan wajib dan amalan-amalan sunah. Marilah kita songsong akhir Ramadhan dengan mempersipkan diri menerima kedatangan Lailatul Qadr penuh suka cita, kita siapkan diri ini untuk beribadah dan beramal secara matang.

Memang, ibadah tidak hanya soal hitung-menghitung pahala, tapi mendasarinya dengan itu, bukanlah sesuatu yang salah. Kehidupan yang kita jalani ini sebagai seorang yang  beriman memang diberikan oleh ALLAH SWT dengan sebuah tuntunan (guidelines) dalam mengelolanya, dan didalamnya terdapat berbagai harapan-harapan tentang masa depan yang lebih baik.

Dengan harapan inilah kita memiliki semangat (motivasi) untuk hidup. Apa jadinya kalau kehidupan tidak memiliki harapan, tentulah tidak akan ada perubahan yang berarti dalam diri seseorang, bahkan cenderung menjadi seorang yang frustasi.

Percayalah, apa saja kebaikan yang pernah kita lakukan, merupakan investasi. Pada saatnya insya Allah kita akan memetik buah investasi itu, selama kita tidak merusaknya sendiri dengan cara menyebut-nyebut, riya’, mengungkit-ungkit, dan menyakitkan hati si penerima investasi.

Dalam hal kerusakan amal ini dalam Al Qurán ALLAH SWT berfirman yang artinya: “Hai orang-orang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada ALLAH dan hari kemudian. Maka, perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatu pun dari apa yang mereka usahakan, dan ALLAH tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir” (QS 2:264).

Religious Experience RAMADHAN pahamkan kita arti LAPAR dan SABAR. LAPAR,memberi makna bahwa kita ini sebenarnya tidak punya apa-apa dan mampu merasakan bagaimana orang lain yang tidak punya APA-APA. SABAR mendorong kita untuk tidak mengambil apa yang ada di dunia secara SEMENA-MENA, SESUKA HATI,karena kita tahu ada HAK ORANG LAIN didalamnya. Pasca RAMADHAN, menjadi tanda TRANSFORMATIF yang membuat KESEIMBANGAN kehidupan secara substantif, antara individualitas dan kolektivitas. Semoga. Amin.

YA ALLAH, jika Engkau hanya mengasihi orang-orang yang menaati-Mu, siapa yang akan mengasihi kami yang berlumuran dengan dosa dan maksiat. YA ALLAH, jika Engkau hanya menerima orang-orang yang tekun beramal, maka siapa yang akan menerima orang-orang yang malas.

YA ALLAH, beruntunglah orang-orang yang berpuasa dengan sebenarnya. Berbahagialah    orang-orang yang shalat malam dengan sebaik-baiknya. Selamatlah orang-orang yang beragama dengan tulus. Sedangkan kami adalah hamba-hamba-Mu yang hanya berbuat dosa. Sayangilah kami dengan kasih-Mu. Bebaskan kami dari api neraka dengan ampunan-Mu. Ampunilah dosa-dosa kami dengan kasih-sayang-Mu. Wahai Yang Paling Penyayang dari semua yang Menyayangi.

YA ALLAH,.. tuangkanlah kesabaran atas diri kami, dan kokohkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang orang kafir. YA ALLAH,.. janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah.

YA ALLAH,.. janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang orang yang sebelum kami.

YA ALLAH,.. janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.

Pada akhirnya, kenapa selalu mengucapkan Selamat Datang Ramadhan? Ramadhan tidak kemana-mana. KITA-lah yang selalu menjauh darinya. Kita BERTUALANG dari ketaqwaan pas-pasan, membaik (sedikit) selama Ramadhan, dan lalu terombang-ambing lagi saat MENJAUHINYA. Sedang Ramadhan selalu ada di sana meminta kita untuk terus MENDAKI bukit ketaqwaan. Kitalah yang selalu BUTUH mendatangi Ramadhan.  []Tulus Wijanarko/Defiyan Cori