Illustrasi

HMINEWS.COM- Sejak awal iblis adalah tergolong makhluk yang paling rajin ibadahnya, paling taat kepada Allah dan merasa paling mulia. Wajar kalau iblis adalah diantara makhluk yang sempat menghuni surga.

Namun saat diciptakan Nabi Adam as. dan Allah memerintahkan semua makhluk untuk ‘sujud’ padanya, semua makhluk menaatinya, kecuali iblis. Iblis berargumentasi: “Engkau jadikan aku dari api dan Engkau jadikan Adam dari tanah.” Pendek kata, iblis gealous, dendam pada Adam dan merasa diri lebih mulia.

Karena Allah murka, maka iblis diusir dari surga dan di hari akhir nanti vonisnya sudah jelas, yakni menjadi penghuni neraka. Namun iblis masih berusaha menegosiasi kepada Allah: “Ok, kalau aku boleh mengajukan permintaan terakhir, izinkan aku menggoda anak cucu Adam untuk menjadi pengikutku dan menjadi temanku di neraka kelak.” Allah pun mengabulkan permintaan iblis.

Begitulah cikal bakal mengapa iblis menjadi hantu yang terus-menerus mengintai manusia untuk dijebak dan diperdaya menjadi temannya di neraka kelak. Paling tidak, menurut Ibn Qayyim Al Jawziyyah (Islam Aktual, Jalaluddin Rakhmat), salah satu ulama besar, ada tujuh strategi iblis menjebak manusia.

Pertama, iblis menawarkan kekufuran, mengajak orang untuk menolak agama, eksistensi Tuhan, risalah para Rasul, dan kebenaran Kitab Suci. Agama diajarkan sebagai keterbelakangan dan agnotisisme dianggap sebagai pertanda kemajuan. Lihat, bukankah bangsa-bangsa yang modern tidak peduli pada agama. Dengan meninggalkan iman Kristen, orang-orang Barat melejit dalam sains dan teknologi.

Manusia modern adalah manusia yang rasional, sekuler dan individual, sedangkan agama menyebabkan manusia irasional, dogmatis dan diperbudak. “Tuhan sudah mati,” kata Friedrich Nietzsche. Dengan menyerahkan diri Anda kepada aturan agama, maka Anda tidak otentik lagi, demikian filosof-filosof eksistensialis berujar.

Agama adalah neurosis universal, kata Sigmund Freud. Akhirnya, agama tak lebih dari sekadar candu yang diberikan oleh kaum borjuis untuk meninabobokan kaum proletar, kata Karl Marx.

Boleh jadi yang diragukan adalah kerasulan. seorang mahasiswa, seorang dosen, seorang wartawan menyatakan bahwa dirinya tidak ingin melakukan shalat. “Soalnya, saya ingin beragama menurut cara saya sendiri. Mengapa saya harus diatur oleh Nabi Muhammad,” katanya. Mereka tak yakin akan perlunya utusan Allah, dengan bangga dia menunjuk Newton sebagai contoh. Katanya, Newton sembahyang di gereja, ketika semua orang meninggalkan gereja. Dia ingin beragama tanpa harus diatur oleh doktrin-doktrin gereja. Itulah jebakan rasional iblis untuk meninggalkan agama.

Bila jebakan pertama gagal, iblis merancang jebakan kedua. Anda tetap beragama dan meyakini kerasulan, tetapi Anda ditawari bid’ah. Dalam definisi Ibn Qayyim, bid’ah adalah segala hal yang bertentangan dengan sunnah Rasulullah saw, baik dalam ibadah maupun diluar ibadah.

Nabi mengajarkan sikap saling menghormati ketika terjadi silang pendapat. Ini sunah, kita sering memutlakan pendapat kita dan mengkafirkan orang yang tidak sefaham dengan kita. Ini bid’ah. Termasuk bid’ah adalah memperbudak istri, karena menurut Aisyah, Rasulullah berkhidmat kepada istri-istrinya, juga dalam berbisnis, karena Nabi mengajarkan sikap amanah, juga malas mencari ilmu, karena Nabi memuji para pencari ilmu.

Bila Anda berhasil menolak semua bid’ah itu, iblis menjebak Anda dengan jebakan ketiga, yaitu lewat dosa-dosa besar, alkaba’ir. Anda ditawari zina, korupsi, merampas hak orang lain, atau durhaka kepada orangtua. Iblis akan menyebut zina sebagai sistem pergaulan masa kini, korupsi sebagai keterampilan mengatur angka, merampok sebagai membantu rakyat kecil, dan durhaka kepada orangtua sebagai nasihat baik seorang anak.

Biasanya dosa-dosa besar itu diajarkan secara berangsur-angsur juga. Karena itu, al-Quran tidak hanya melarang zina tapi juga bahkan melarang mendekatinya, suatu sikap antisipatif sekaligus preventif. Anda mula-mula disuguhi kenyamanan berduaan dengan bukan muhrim, kemudian sentuhan-sentuhan kecil, lalu mencari tempat sepi, dan seterusnya. Korupsi akan dimulai dari komisi, upeti, sampai pada pemalsuan dan mark up anggaran.

Katalanlah Anda tidak mau melakukan dosa besar, iblis akan datang dengan jebakan keempat, menawarkan dosa-dosa kecil. Dengan halus ia berkata: Berbuat dosa itu manusiawi. Anda malaikat kalau tidak pernah berbuat dosa. Lagi pula, bukankah Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang. Allah ampuni dosa-dosa kecil, selama Anda meninggalkan dosa-dosa besar.

Yang dilupakan oleh iblis dan orang-orang yang rawan iblis adalah sabda Nabi: “Jangan meremehkan dosa, karena dosa-dosa kecil akan menjadi besar bila orang menghimpunnya.” Ali bin Abi Thalib berkata, “Dosa paling besar adalah dosa yang dianggap kecil oleh pelakunya.”

Jebakan kelima didesain iblis bila Anda juga berhasil menghindarkan dosa-dosa kecil. Iblis akan menyibukkan Anda untuk melakukan hal-hal yang mubah sehingga Anda melalaikan berbagai kewajiban Anda. Senam pagi itu mubah, boleh-boleh saja. Tetapi bila senam pagi menyebabkan Anda tidak dapat melayani masyarakat, padahal tugas Anda adalah sebagai PNS, maka Anda jatuh pada jebakan iblis. Begitu pula ibu-ibu yang aktif di luar, sehingga rumah tangganya terlantar, atau mahasiswa asyik main catur sehingga lupa mengerjakan tugas-tugas perkuliahan.

Jebakan keenam lebih canggih lagi. Iblis menawarkan Anda dengan ibadah-ibadah yang utama, tetapi melalaikan Anda dari hal-hal yang lebih utama. Kedengarannya sulit. Berzikir itu utama. Bila Anda sibuk berzikir, membersihkan diri atau tafakur di sudut rumah Anda, lalu Anda mengabaikan masalah-masalah sosial, maka Anda melupakan hal yang lebih utama. Kita jatuh pada jebakan keenam, ketika kita meributkan perbedaan kecil dalam ibadah dan melupakan kualitas ekonomi kita, juga ketika kita mengeraskan talqin dan melupakan orang lain yang terganggu.

Jebakan ketujuh yang paling canggih, khususnya untuk orang-orang takwa. Iblis akan mengerahkan bala tentaranya, jin dan manusia untuk menyakitinya. Orang saleh itu akan difitnah, dicaci maki, diganggu dengan lisan atau tindakan kebenaran ajarannya akan disebut dusta, kebersihan pribadinya akan dianggap skandal, dan nasihatnya akan diperlakukan sebagai tindakan subversif atau meresahkan masyarakat.

Nasihat Ibn Qayyim ini benar adanya, ia mengingatkan kita pada firman Allah: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu turuti langkah-langkah setan. Dan siapa yang menuruti langkah-langkah setan, sesungguhnya setan itu menyuruh mengerjakan perbuatan keji dan kesalahan. Dan kalau tiada kemurahan Allah dan kasih sayang-Nya kepadamu, maka untuk selamanya tiada seorang pun diantara kamu yang bersih (suci), tetapi Allah menyucikan orang-orang yang disukai-Nya, dan Allah itu Maha Mendengar dan Mengetahui.” [QS an-Nuur (24):21]

Begitulah sekilas tentang iblis dan antek-anteknya yang senantiasa mencari kader-kader yang bisa dijerumuskan ke neraka. Semoga kita termasuk orang yang mampu mengatasi jebakan-jebakan manis iblis, setan, dedemit, dan bala tentaranya. Puasa adalah salah satu perisai paling ampuh guna menghadapi jebakan-jebakan iblis…!

djony edward

djonyedward@yahoo.com