Apa dan Mengapa hijab? (Hijab dalam Teropong Mitologi, Teologi, dan idologi(foto :fadlie.blogdetik.com)

HMINEWS.COM- “Jilbab (hijab) hanyalah selembar kain”, kata seorang politisi “partai islam”. “Hijab adalah produk historis kultural Arab”, teriak kaum liberalis. “Hijab hanyalah simbol semata, yang terpenting adalah pakaian takwanya”, tutur kaum dekonstruksionis.  “Hijab adalah konstruk masyarakat patriarki yang melambangkan keterkungkungan dan pemasungan perempuan”, seru kaum feminis. “Hijab adalah perlambang tradisi masa lalu yang telah usang dan ketinggalan zaman”, khotbah kaum modernis. “Wahai perempuan, tanggalkanlah hijabmu, gantilah dengan kosmetik yang akan mempercantik dirimu”, rayu kaum kapitalis.

“Hijab adalah hukum Allah yang wajib dikenakan oleh kaum perempuan untuk menutup aurat”, fatwa kaum fundamentalis. “Hijab adalah perlambang kesalehan dan asketisme para pengantin Tuhan”, ujar kaum Katolik. “Hijab adalah manifes kerendahhatian kaum perempuan”, papar kaum Hindu. “Hijab adalah perbnedaharaan yang memancarkan keteduhan dan keindahan Tuhan”, nasehat kaum sufi. “Dibalik makna hijab ada pesan perlawanan dan misi pembebasan kaum perempuan”, propaganda para ideolog.

Hijab –jilbab- selembar kain yang menuai beragam pemaknaan hingga kontroversi. “Selembar kain” yang unik antara warisan tradisi dan syariat Ilahi. Pembebasan dan pemasungan, keterbukaan dan ketertutupan, bahkan kepasrahan atau perlawanan. Hijab, senantiasa dilekatkan dengan kedirian perempuan, baik perempuan secara noun maupun perempuan dalam pemaknaan adjecive (ke-perempuan-an atau feminitas). Apa dan mengapa sebenarnya hijab?, jawabnya, mari kita dedah bersama hijab dalam teropong mitologi, teologi, dan ideologi.

Pakaian dan Petandanya

Fungsi asasi dari pakaian mencakup fungsi biologis dan psikologis. Secara biologis pakaian berfungsi untuk melindungi tubuh dari berbagai faktor eksternal yang mungkin akan merusak tubuh. Secara psikologis pakaian diperuntukkan untuk menutup rasa malu sebagai entitas abstrak yang melekat pada bagian-bagian tubuh tertentu.

Fungsi pakaian ini kemudian meluas merambah pada beberapa konteks. Secara kultural, berpakaian adalah simbol manusia yang beradab dan berbudaya. Secara etik, berpakaian adalah manifestasi dari tata nilai kesopanan. Secara sosiologis, pakaian adalah lambang gengsi dan status sosial. Dan secara estetis, pakaian adalah mode yang semakin menambah keindahan pemakaianya.

Dalam sudut pandang semiotika sosial, pakaian adalah penanda (simbol) yang merepresentasikan petanda-petanda identitas kolektif dari paradigma, tata nilai, dan prilaku pemakaianya.  Pakaian merupakan penanda non verbal dari pemakaianya yang menandai pilihan sosial pemakainya, dengan demikian pakaian merupakan lambang identitas sosial dari pemakaianya.

Seseorang yang berseragam hijau loreng merupakan tanda akan identitas dia sebagai seorang tentara, seseorang yang berpakaian modis atau perlente dengan dasi sebagai aksesorisnya melambangkan orang yang modern.Selain itu, pakaian merupakan simbol afiliasi pemakainya pada paradigma, tata nilai, dan laku hidup yang disepakati secara kolektif oleh kelompok sosial tertentu.

Dengan demikian pakaian bermakna afiliatif, seseorang yang mengenakan pakaian yang mencirikan identitas kelompok sosial tertentu, bermakna afiliasi orang tersebut pada berbagai aspek yang terkait dan tercakup dalam identitas kelompok sosial tersebut.

Secara ontologis, pakaian bisa bermakna profan atau sakral, tergantung pada pemaknaan yang dilekatkan pada pakaian tersebut.

Hijab (jilbab) merupakan pakaian yang disyariatkan dalam Islam dan menjadi kewajiban bagi kaum muslimah untuk memakaianya. Dengan demikian memakai jilbab bagi seorang muslimah merupakan penanda identitas sekaligus peneguh akan afliasi pemakainya pada keseluruhan paradigma, tata nilai, dan laku hidup yang diatur dalam ajaran Islam. Hijab bermakna profan sekaligus sakral –tanpa membinerkan keduanya- yang ditujukan untuk menutup aurat dan pakaian ketakwaan.

Hijab dalam Selubung Mitologis

Secara kultural maupun religi relasi gender, dalam hal ini posisi perempuan sering diatribusikan dengan berbagai mitos-mitos dalam setting sosial-kultural yang menempatkan perempuan pada posisi subordinat dan inferior di bawah kaum lelaki. “Perempuan adalah setengah manusia”, kata Plato yang juga diamini oleh Aristoteles. “Perempuan adalah jelmaan Iblis”, dalam pandangan Arab jahiliyah. Perempuan adalah harta atau kawula yang dimiliki oleh kaum pria, oleh karenanya, ia tak punya hak dan kebebasan untuk menentukan nasibnya sendiri.

Agama dipandang oleh sebagaian kalangan sebagai hasil dari produk historisitas dan kultural masyarakat patriarki. Sehingga ajaran agama dan interpretasinya lebih cenderung paternalistik dan mensubordinasikan perempuan, baik dalam ranah paradigma, tata nilai, hingga laku sosial. Dalam sebagian keyakinan agama Ibrahimic –Yahudi, Kristen, dan Islam- penciptaan perempuan berasal dari tulang rusuk laki-laki. Sehingga perempuan dianggap sebagai “bagian yang hilang” dari kaum lelaki yang harus dicari. Perempuan adalah “milik yang terpisah” sehingga harus dilindungi dan dikuasai.

Dari konstruk mitologis ini, melahirkan persepsi relasi dikotomik subjek-objek yang superior-inferior antara kaum lelaki dan perempuan. Lelaki aktif-perempuan pasif, lelaki pencari-perempuan dicari, lelaki pelindung-perempuan dilindungi, lelaki superior-perempuan inferior, lelaki penguasa-perempuan dikuasai. Di samping itu, dalam mitologi agama Ibrahimic, diyakini bahwa yang menyebabkan kejatuhan manusia dari taman Eden adalah karena Siti Hawa yang tergoda oleh bujuk rayu Iblis lalu menggoda Adam untuk makan buah terlarang.

Hal ini menyebabkan manusia harus menanggung dosa warisan akibat kelalaian dan godaan perempuan. Lalu lahirlah persepsi tentang perempuan sebagai makhluk penggoda yang membahayakan kaum lelaki.

Ditarik dari konstruk mitologis ini, hijab kemudian dipandang sebagai hukuman atas kelalaian perempuan yang telah menciptakan noda pada tubuh manusia –dalam hal ini kaum lelaki- karena memakan buah terlarang.

Perempuan yang penggoda harus dihukum dengan menutupi tubuhnya agar laki-laki terhindar dari segala godaannya. Berkaitan dengan mitos tulang rusuk, hijab dipahami sebagai perwujudan dari mitos paternalistik tersebut dan melambangkan pemasungan –dengan dalih perlindungan-, eksploitasi –dengan dalih bimbingan-, pemenjaraan –dengan dalih penjagaan- kaum laki-laki atas perempuan. Dengan demikian secara mitologis, hijab dilekatkan pada mitos-mitos religi yang bercorak paternalistik sebagai simbol superioritas laki-laki atas perempuan.

Keindahan Jamali dibalik Selembar Kain

Seandainya Aku disuruh memilih terlahir sebagai apa,

Maka, aku akan memilih untuk terlahir sebagai seorang perempuan

(Ibnu ‘Arabi)

Salah satu bagian dari pembahasan Tauhid adalah pembahasan mengenai Asma (Nama) dan SifatNya. Kesempurnaan Tuhan termanifestasi dalam Asma dan SifatNya. Allah mempunyai Nama dan Sifat yang agung, yang dari sinilah gradasi makhluk tercipta. Dari sekian banyak Asma dan SifatNya, pemikir muslim mengkategorisasikan Sifat dan AsmaNya ke dalam dua kategori utama, yaitu sifat Jalaliyah dan sifat Jamaliyah. Sifat Jalaliyah Allah terdiri atas Sifat-sifat yang memanifestasikan sisi keperkasaan (maskulinitas) Allah, sedangkan Sifat Jamaliyah merupakan Sifat-sifat yang mencerminkan sisi keindahan (feminitas) Allah.

Kedua aspek Sifat Allah tersebut bergradasi ke alam kosmik, dan menjadikan tatanan semesta ciptaanNya bergerak secara seimbang dan harmonis Manusia sebagai makhluk yang mencerminkan puncak kesempurnaan kreasi Ilahiyah, secara potensial memanifestasikan kedua kategori Sifat Allah tersebut secara paripurna. Hanya saja, jika laki-laki lebih dominan menyerap dan mengaktualkan sisi Jalaliyah sedangkan perempuan lebih dominan pada sisi JamaliyahNya. Itulah sebabnya, laki-laki diberikan tanggung jawab memainkan peran dalam hal perlindungan dan penjagaan sedangkan perempuan memainkan peranan pada ranah yang berhubungan dengan kasih, sayang, dan pengasuhan.

Dualitas Sifat Allah tersebut mencerminkan ciri dualisme sisi kosmik yang harmonis dan saling melengkapi. Perempuan dengan “ke-perempuan-annya” (perempuan sebagai adjective) yang mencerminkan dan mewujudkan sisi Jamaliyah Tuhan, menunjukkan pengakuan Allah akan keagungan perempuan pada ranah metafisis. Surga (jannah) sebagai perwujudan kenikmatan dan keindahan adi-duniawi dideskripsikan dengan simbol-simbol feminitas, menunjukkan bahwa aspek-aspek ke-perempuan-an merupakan manifes keagungan Ilahiyah yang ultim.

Karena perempuan secara adjective merupakan manifestasi dari Jamaliyah Tuhan, maka hijab merupakan prasyarat keterjagaan keindahan yang lekat pada kedirian perempuan tersebut. Keindahan Ilahiyah adalah keindahan yang suci, agung, dan sakral, oleh karenanya penjagaan atas kesucian, keagungan, dan sakralitas tersebut merupakan misi suci setiap perempuan. Dengan menjaga keindahannya agar tak terjamah, maka perempuan telah melaksanakan misi kekhalifahannya sebagai manifes Jamaliyah Ilahi.

Dari pangkuan wanitalah, laki-laki menapak tangga menuju langit

(Imam Khomeini qs)

Pesan Pembebasan dari Balik Selembar kain

Bagi kaum Hindu, hijab adalah simbol ketawdhuan perempuan

Dalam ajaran Katolik, hijab adalah perlambang kesalehan perempuan

Tapi Islam, melampaui keduanya,

Karena hijab adalah perwujudan ketawadhuan, perlambang kesalehan,

Dan simbol pembebasan perempuan

Hijab secara ideologis, mencerminkan pandangan ideologi Islam dalam kaitannya dengan perempuan. Keagungan perempuan pada ranah metafika (teologis) Islam meniscayakan kemuliaannya pada lokus sosiologis.

Perempuan memanifestasikan keindahan Tuhan, yang bergradasi pada alam materi yang menampilkan perempuan sebagai sosok yang cantik, menarik, bahkan terlihat erotik. Dalam ranah sosial Islam menggariskan hijab sebagai pranata sosial yang penting dalam hal pemuliaan perempuan pada ranah sosiologis, sebagaimana digariskan dalam surah An-Nuur:31. Dibalik selembar kain yang menutup tubuh dan pandangan yang diperintahkan untuk tertunduk, tersimpan pesan pembebasan perempuan dari politisasi dan ekspolitasi kuasa hasrat kaum Adam yang akan menjerumuskan perempuan pada titik nadir kehancurannya.

Hijab, yang sering dipandang sebagai simbol pemasungan dan penjara bagi perempuan, pada dasarnya merupakan perwujudan pemuliaan perempuan pada ruang sosial. Dengan hijab, perempuan dengan mudah dapat tampil pada ruang-ruang publik yang terbebas dari jebakan dan jerat-jerat hasrat dan lebih dari itu dengan hijab ia akan dipandang sebagai ia yang subjek, dan bukan sebagai objek.

Secara ideologis, hijab merupakan penanda non verbal akan pilihan afirmasi dan negasi yang tegas seorang muslimah pada tata nilai sosial. Hijab merupakan benteng yang menjaga kaum perempuan dari serangan bujuk rayu eksploitasi berkedok emansipasi.

Selembar kain tersebut merupakan senjata ampuh yang meluluhlantahkan hasrat kuasa, dominasi, aneksasi dan hegemoni kaum materialis, kapitalis, dan hedonis. Selembar kain itu adalah penanda afirmasi seorang perempuan pada tata nilai ideologi Islam yang memanusiakan dan membebaskan serta penanda perlawanan atas atas nilai-nilai yang mendehumanisasikan, memenjarakan, dan melenakan kaum perempuan.

Khatimah: Hijab dan Keagungan Perempuan

Kami (para imam) adalah hujjah bagi keberadaan semesta,

Tapi, Fatimah adalah hujjah bagi keberadaan kami

(Imam Ja’far al-Shadiq as)

Secara teologis, Islam mengagungkan sisi feminitas sebagai manifes tertinggi Ilahiyah dan secara sosiologis, Islam menempatkan perempuan sebagai pilar peneguh masyarakat. Hijab merupakan manifes dan cerminan kedirian perempuan yang menunjukkan keagungan dan kemuliaannya. Islam dengan pranata hijabnya telah melapangkan jalan bagi pembebasan dan kebebasan perempuan dari jeratan dan jebakan eksploitasi, aneksasi, dominasi, dan hegemoni. Hijab merupakan media pembebas bagi perempuan dan jalan bagi dirinya untuk menjadi “dirinya” yang sesungguhnya.

Di balik selembar kain itu,

Tercermin ketegaran Asiyah.

Di balik selembar kain itu,

Tampak kesucian Maryam

Di balik selembar kain itu,

Terlihat keagungan Khadijah

Di balik selembar kain itu,

Terpancar pesona kemuliaan Zahra

Susurilah dengan baik tiap lorong kehidupan

Dan tapakilah tangga-tangga langit

Karena dari pangkuanmulah, laki-laki menapak tangga menuju langit

Dan, akhirnya Jadilah kau  seorang Santa

By: Sabara Nuruddin al-Raniri, S.HI, M. Fil.I