Patrick Rebong

HMINEWS.COM- Seorang anak muda bertanya pada pamannya tentang jenis usaha yang begitu di buka, 6 bulan kemudian langsung kaya raya. sambil senyum penuh pengertian pamannya menjawab “kalau ada sudah Om ambiL duluan.

Bila boleh jujur, demikianlah perilaku manusia kekinian , semuanya mau serba cepat. Takalah sekolah mau lulus cepet-cepat, begitu bekerja buru-buru mau naik pangkat, yang jadi birokrat bermimpi mau jadi konglomerat dalam waktu singkat, padahal bila lulusnya cepat, naik pangkatnya cepat, terkena stroke matinya pun cepat.

Memang tidak elok berbicara kekurangaan orang lain, namun yang jelas alam sebagai guru tua kita bertutur, bila gunungnya tinggi maka jurangnya dalam. Dimana ada kelebihan yang menjulang tinggi disana tersembunyi kekurangan yang mendalam. Sayangnya tidak sedikit orang yang hanya mau puncak gunung, tapi menolak jurang.

Mau kaya selama-lamanya, mau duduk diatas seumur hidup, berdoa agar kecantikan tak terbawa pergi oleh usia, suka di hormati rela mati bila di maki, ternyata tidak ada kehidupan yang berparas serbapositi seperti yang ku idam-iadamkan, karna tak mungkin ada gunung tanpa jurang. Bilapun ada orang seperti itu jangan-jangan namanya TukuL Sembung Tak punya bokong tidak nyambung sekaligus bohong.

Sadar dengan kehidupan seperti inilah, kemudian para bijaksana meninggalkan mimpi hidup berupa muda kaya, tua kelak bahagia. Dlam pengalaman teman-teman ku yang sudah merasa bijak serba benar, mereka sependapat: jikalau Muda adalah waktu belajar dan bekerja. Bagi ku: kalaupun ada porsi doanya sebagian lebih doa anak muda dilatarbelakangi sayup lirik lagu: Maju Tak Gentar Membela Yang Bayar.

Mereka yang muda pasti pernah mempunyai pengalaman seperti ini: Sekarang Umur kita masih kepala dua, tenaga kita masih kencang mata selalu menoleh bila bertemu BMW (bahenoL, Montok, Wele-Weleh) Bila ada pekerjaan ngecet langit pun akan di sanggupi dengan kata “Siap Bang Bisa” Maklum masih muda.

Ada Embah tua bijaksana bercerita, ia dulu mengira dirinya serupa dengan pesawat jet tempur yang lari melesat di langait secara berwibawa, bisa melakukan banyak hal hebat. maklum katannya ia juga saksi sejarah katanya penuh pengalaman. Namun, ketika melewati banyak jauth bangun dalam hidupan serta banyak jatuh sakit, Ia baru menyadari dirinnya hanya sebuah sepeda montor tua. Namum sepedah Montor tua yang bahagia.

Makannya tetua jawa punya pesan indah dan mengugah. Puncak perjalanan kehidupan ketemu ketika seseorang tahu diri .”Kata ini sering saya dengar diwaktu saat mengerutu uang jajan kurang 5 ribu”. Nan juga dengan ilmu tahu diri inilah kemudian sayup2 lirik lagu: Maju tak Gentar Membela Yang Bayar Lenyap. Awalnya di ganti dengan Kemesraan ini janganlah cepat berlalu, Kemudia jadi lagu syukur meski onkos kurang dua ribu.

Disudut gereja tua itu ku sempatkan merenung ,akhirnya memaksa alat pikir untuk mencari jawaban, Di sana telihat ada dua penyembah dan yang di sembah. ketulusan, keiklasan dan di satukan dengan kepasraan, membuat yang dua menjadi satu, setelah lama tengelam dalam kebersatuan bahkan yang satu ini pun ikut menghilang. Maka taksalah ada yang menulis Buku yang isi tulisannya adalah: The Best Teologian is the one that never Talk About God, Teolog terbesar adalah mereka yang tak pernah  berbicara tentang Tuhan, begitulah terjemahannya bila tak salah. Namun perlu di ingat ini bukan karena ateis, apa lagi karena membenci Tuhan, Namun, karena bila masih menyebut nama Tuhan artinya masih dua.

Coba perhatikan apa yang di tulis Ezra Baydan dalam Home in the Muddy Water;” The joy of realationship ultimatlely comes from effortlessly givving our selfe to others, like a white bird in the snow”

Tidak terbayangkan kehidupan bila sampai disini. Meski, baju orang jenis ini bisa baju petugas satpol PP, yang kerjaanya menertibkan ruang kota meski kadang bertindak seperti tak punya otak, atau supir angkutan kota ” angkot” yang setiap hari melintasi jalanan dan tiap hari juga melanggar rambu jalan..sampai pejabat tinggi. Namun, ada yang sama antara mereka,yaitu mereka pasti melepaskan senyuman ketika menyempatkan diri disaat menolong yang lainnya meski terkadang tak kelihatan.

[]Patrick Rebong

Email:patrick.rebong@yahoo.com