Atma Winata Nawawi

Oleh : Atma Winata Nawawi

HMINEWS.COM- Dalam setiap pertandingan kita mau menang, lalu siapa yang mau kalah? Prajurit berperang untuk menang, pengusaha berbisnis untuk menang, atlit bertanding untuk menang, dan tentu saja politikus berkampanye juga untuk menang. Tidak ada yang berusaha untuk kalah karena kekalahan bukanlah hal yang menyenangkan bagi semua orang.

Kemenangan adalah sesuatu yang penting bagi kebanyakan orang. Begitu pentingnya, sampai-sampai banyak yang bersedia melanggar batas-batas norma, etika, dan hukum bila perlu. Yang menarik adalah, setelah sebuah kemenangan diraih ternyata bukan kemenangan itulah yang dicari. Dalam kisah yang difilmkan tentang usaha Nixon untuk menjadi Presiden Amerika Serikat, sang ibu diwawancarai. Salah seorang pewawancara bertanya, mengapa seorang politikus mau mengahabiskan seumur hidupnya untuk memperjuangkan sebuah jabatan yang hanya berlangsung 4 tahun? Lalu sang ibu menjawab secara mengejutkan, “Karena masa selama 4 tahun itu sama seperti seumur hidup lamanya.” Benarkah?

Empat tahun adalah empat tahun, empat kali 365 hari atau 1461 hari (termasuk tahun kabisat). Empat tahun tidak menjadi lebih lama atau lebih singkat hanya karena seseorang menjadi Presiden atau Pengemis. Tentu saja yang berbeda adalah nilai dari empat tahun tersebut. Empat tahun menjadi sangat mahal ketika empat tahun itu harus ditukarkan dengan seumur hidup untuk mencapai tujuannya. Tapi yang lebih menyedihkan lagi adalah apa yang akan terjadi setelah empat tahun yang berharga itu akhirnya berakhir. Hari-hari terakhir menjelang selesainya masa empat tahun terakhir menjadi hari-hari yang terasa berat. Detik demi detik menjadi demikian mahal dan menyayat. Setelah itu, semuanya menjadi kenangan. Kenangan yang baik apabila seseorang melaluinya dengan baik, dan kenangan yang menyedihkan bila seseorang melaluinya dengan buruk. Padahal, kemenangan yang baik tersebut bisa saja diraih tanpa kemenangan yang diperebutkan sebelumnya. Sebut saja, Al Gore, kekalahannya dalam Pemilu presiden Amerika Serikat tahun 2000 tidak menjadikannya dikenang buruk oleh masyarakat Amerika Serikat dan dunia. Sebaliknya, Al Gore akan dikenang sebagai salah satu tokoh penting yang berkontribusi besar terhadap Amerika Serikat dan dunia. Sementara, lawannya George W. Bush justru akan dikenang sebagai pecundang tidak hanya di negaranya, tapi diseluruh dunia, ia menutup masa jabatannya dengan Krisis Keuangan yang hebat di Amerika Serikat yang kini menjadi Pe-Er utama bagi Presiden selanjutnya, Barrack Obama.

Jika demikian, mengapa banyak orang mempertaruhkan segala sesuatu yang dimilikinya (bahkan yang tidak dimilikinya) untuk sebuah kemenangan. Manusia seringkali terkena efek halo, yaitu sebuah pandangan yang membiaskan pandangan kita terhadap sesuatu yang sesungguhnya. Persis seperti serangan laron yang menghampiri lampu di waktu senja. Dari jauh, ribuan hewan ini datang untuk mengahmpiri keindahan cahaya. Namun tragis, setibanya disana mereka hanya mengantar nyawa. Karena itu untuk menghindari upaya yang sia-sia seperti ini, kita perlu memaknai dan menyikapi kemenangan secara benar.

Apakah makna sesungguhnya dari kemenangan? Banyak orang mengatakan bahwa kemenangan adalah hasil terbaik yang diraih, tapi menurut penulis, kemenangan adalah proses atau cara. Masih ingat kasus Ben Johnson dalam Olimpiade di Seoul tahun 1988? Ia dinyatakan sebagai peraih mendali emas dan sekaligus pemecah rekor dunia untuk kategori lari paling bergengsi yaitu sprint 100 meter. Sebelum perhelatan olahraga empat tahun itu berakhir, Ben Johnson harus kehilangan mendalinya karena ia terbukti menggunakan doping. Apakah ia seorang pemenang? Pesaingnya Carl Lewis, memang tidak pernah menjadi yang tercepat di ajang tersebut. Ia juga tidak pernah naik podium sebagai nomor satu. Yang menarik ia segera menyalami Ben Johnson begitu melihat catatan waktu Ben Johnson adalah yang terbaik dan bahkan memecahkan rekor. Bahkan, bila Carl Lewis tidak dinyatakan sebagai peraih mendali emas manggatikan Ben Johnson, ia tetap layak disebut sebagai pemenang. Dalam kejuaraan Piala Asia 2007 yang lalu di Jakarta, Tim Nasional Indonesia berhasil mengalahkan Oman pada pertandingan pertama dengan skor 2-1. Banyak orang yang kemudian memuji penampilan Tim Indonesia dan bergembira karena tim nasional kita memenangkan pertandingan tersebut. Salah satu pembaca tabloid olahraga kemudian berkomentar, ia akan tetap bergembira meskipun Timnas Indonesia kalah dalam pertandingan tersebut karena Timnas Indonesia telah memberikan perlawanan yang gigih dan membanggakan. Baginya, kemenangan bukanlah masalah hasil tapi cara. Sebuah pemikiran yang sangat bijak, karena pada dua pertandingan berikutnya melawan Saudi Arabia, yang kemudian menjadi juara, dan Korea Selatan Timnas kita menderita kekalahan. Tapi tentu saja tidak mengurangi kebanggan kita terhadap mereka bukan?

Kemenangan sesungguhnnya hanyalah masalah memilih perspektif atau sudut pandang yang benar. Dalam lomba lari marathon yang diadakan di New York tahun 1986, Gianni Poli menyelesaikan jarak sejauh 42 KM tersebut dengan catatan waktu dua jam sebelas menit enam detik. Sementara itu, Bob Willen, mencapai garis finish dengan catatan waktu lebih dari empat hari. Siapakah dari kedua pelari tersebut yang layak disebut sebagai pemenang? Jika ukurannya siapa yang tercepat mencapai garis finish, maka Gianni Polli layak dijadikan pemenang dan ia memang dinobatkan sebagai juara.

Akan tetapi, Bob Willen juga layak disebut sebagai pemenang karena ia adalah seorang veteran perang yang kehilangan sepasang kakinya. Bob Willen kemudian dinobatkan sebagai satu-satunya orang cacat yang bisa menyelesaikan lomba lari Marathon dalam Guiness Book of Record . kemenangan hanyalah masalah perspektif. Perspektif yang berbeda akan menghasilkan pemenang yang berbeda. Sayangnya, kita seringkali tidak bisa menerima lebih dari satu pemenang karena kita tidak biasa menggunakan lebih dari satu perspektif. Kita juga terjebak dalam kebiasaan mengkultuskan individu, yaitu mengagungkan satu yang dianggap sebagai pemenang meskipun bukan pemenang yang sesungguhnya.

Selain perlu memaknai kemenangan secara benar, kita juga perlu menyikapi kemenangan dengan benar. Banyak pemenang yang larut dalam kemenangannya dan setelah itu, ia tidak pernah kembali menjadi pemenang. Mengapa? Karena ia merasa bahwa dirinya sudah menang padahal ia baru memenangkan satu kali atau sebagian. Setelah itu, ia kehilangan motivasi untuk meraih kemenangan selanjutnya atau kemenangan berikutnya. Perayaan kemenangan yang berlebihan juga membangkitkan semangat yang lebih kuat dalam diri pesaing untuk berbuat lebih baik pada pertarungan berikutnya. Akibatnya, ia menjadi lawan yang lebih tangguh sementara sang pemenang tidak melakukan persiapan sebaik pada waktu ia menang sebelumnya. Karena itu, tidak mengherankan bila di dunia ini lebih sedikit orang yang bisa bertahan sebagai pemenang daripada orang yang berhasil merebut sebuah kemenangan.

Menyikapi kemenangan secara bijak juga akan menurunkan beban kita untuk meraih kemenangan selanjutnya dan sekaligus mengurangi motivasi lawan kita untuk berusaha lebih keras. Karena itu, pada saat kemenangan sudah diraih, sangatlah penting untuk bersikap low profile. Penulis sangat jarang menemukan pemenang yang mau mengucapkan selamat kepada lawannya. Setelah ia dinyatakan sebagai pemenang, ia segera merayakan kemenangan dengan berbagai cara. Sang lawan bahkan dianggap tidak pernah ada. Hal ini tentu saja menyakitkan bagi sang lawan terlebih lagi sangat berbahaya bagi pemenang itu sendiri. Ia akan menjadi takabur dan kehilangan respek terhadap lawannya yang tentu saja akan membuat ia lengah dalam pertarungan selanjutnya. Sesungguhnya pemenang seperti ini telah mengawali kekalahannya tepat setelah ia dinyatakan sebagai pemenang.

Petinju Chris John barangkali adalah satu dari sedikit contoh yang selalu menghormati lawannya baik sebelum maupun setelah pertandingan. Karena itu, tidak mengherankan bila ia bisa mempertahankan gelarnya sampai sembilan kali secara beruntun. Chris John selalu menghentikan sejenak perayaan kemenangannya untuk kemudian mengucapkan selamat kepada lawannya. Apapun hasil yang diraih oleh pihak yang kalah, ia tetap layak diberi penghargaan. Dengan cara itulah kita meraih rasa hormat dari lawan kita. Sehingga pada pertarungan selanjutnya, lawan kita akan berada pada start mental yang lebih rendah dari yang seharusnya. Percaya diri tentu saja tetapi menganggap remeh lawan sebelum dan sesudah kemenangan diraih adalah hal yang sangat buruk dan membahayakan.

Semoga kebesaran jiwa seperti ini bisa kita temukan dalam Pemilu Kepala Daerah 2010 ini, kita mengharapkan agar Calon Kepala Daerah yang terpilih mengucapkan selamat kepada kandidat lainnya yang belum terpilih, “Selamat, anda telah menjadi lawan yang membuat saya berusaha lebih baik.” Lalu kemudian sang lawan membalas, “Selamat juga, anda memang layak tampil sebagai pemenang. Semoga amanah ini bisa anda pertahankan sampai berakhirnya masa jabatan anda.”

Kemenangan memang sesuatu yang baik dan berharga. Kita harus memperjuangkannya sekuat tenaga tentu saja, tetapi lebih penting lagi menemukan alasan yang tepat kenapa kita harus menang. Serta jauh lebih penting lagi, memaknai kemenangan yang telah kita raih. Penulis yakin, bila setiap kita menemukan alasan yang tepat untuk menang dan memaknai serta menyikapi sebuah kemenangan secara baik, maka kemajuan bangsa dan Negara yang kita cita-citakan akan lebih cepat terwujud. Semoga.

Atma Winata Nawawi

Mahasiswa Jurusan Arsitektur Lansekap, Universitas Trisakti.

Menjabat sebagai Presiden Mahasiswa MM-Usakti Periode 2008/2009, kini aktif di Pemuda Indonesia Mandiri (PENDIRI).