Tiba-tiba ia teringat temannya, kulitnya pucat, matanya tajam seakan mau menusuk ubun-ubun setiap orang yang ditatapnya. Namun yang paling ia ingat dari temannya itu adalah bahu kanannya. Diatas kulit dari helai tubuhnya itu terdapat sebuah tatto yang menurutnya sangat tidak biasa.

Biasanya orang hanya akan memasang tatto dengan gambar-gambar cantik, gambar perempuan, tokoh ekstrimis, karikatur, sayap malaikat, atau apapun yang menurut logikannya paling tidak sesuatu yang diidolakannya. Suatu saat ketika itu, ia bertanya pada temannya itu. ‘apa yang kamu pikirkan saat membuat tatto itu?’. Temannya hanya menjawab dengan datar ‘tanggal lahirku’. Ia hanya berpikir bahwa temannya itu asal saja menjawab, karena ia pikir ia pun hanya asal betanya.

Saat itu mereka tinggal sekamar di sebuah rumah kontrakkan yang tidak memiliki kamar mandi. Untuk mandi dan keperluan buang hajat harus melalui beberapa kamar lainnya. Tinggal bersama seperti sepasang kekasih sejenis bukanlah aib. Karena memang rata-rata mahasiswa saat itu menyewa kamar untuk dua orang.

Persis dibelakang rumah itu adalah TPU. Hampir setiap hari suara sirine ambulan melintas ditelinganya. Satu polusi suara pikirnya. Sampai suatu hari suara sirine itu benar benar dekat dan sangat bising. Yah , sebuah mobil ambulan datang menghampiri kamar kontrakannya. Ia tahu persis kenapa ambulan berkunjung kekediamannya, temannya yang bertatto itu, mati.

Sejak saat itu setiap ia mendengar suara sirine, ia gemetar, mengecil, ingin lari, takut jika kemudian suara itu menghampiri tempat tingganya lagi, suatu suasana yang paling ingin dihindarinya. Baginya suara sirine bak malaikat pencabut nyawa.

Seperti pagi-pagi sebelumnya, ia ditemani segelas kopi hitam dan menyalakan sebatang rokok. Sebuah ritual yang susah hilang darinya. Sebetulnya ritual itu terpaksa ia lakukan untuk mengusir tekanan beratnya melewati hari. Sudah hampir setengah bungkus rokok kretek ia habiskan, bahkan kopi hitam telah menguap dari tadi. Kopi, temannya pernah menyebutnya sebagai cairan yang sangat tinggi oktannya, cepat kering, seperti bensin. Namun cerita tentang temannya belum juga usai pikirannya masih tertuju pada tatto yang menempel di bahu temannya itu.

Pagi itu matahari nyaris tak mau menunaikan tugasnya, seandainya awan gelap tidak cepat-cepat menyingkir. Sebelum matahari keluar dengan malu-malu, kicauan anak-anak kecil telah memenuhi telinganya. Beberapa anak telah menghiasi sepedanya dengan berbagai aksesoris, ada yang menempelinya dengan kertas minyak, ada pula dengan karton scotlite, tidak sedikit pula yang menempekan kertas kado. Semuanya terlihat begitu ramai ditambah dengan bendera plastik kecil-kecil. Membuat ia semakin merindukan temannya yang kurus dan pucat itu.

Kemudian Ia berdiri dan merenggangkan tubuhnya yang sedari tadi terpaku pada bantalan busa yang telah berwarna cokelat itu. Diperhatikannya satu-persatu orang-orang yang berlalu-lalang di dekat tempat ia berdiri. Dipandanginya pohon jambu yang sudah malas untuk hidup. Kemudian ia melemparkan matanya untuk menyelidiki air pekat dibawah jembatan yang melewati jalan raya. Pagi ini tak seperti biasanya, jalan raya terlihat lengang, walau masih ada satu-dua kendaraan lewat. Tiba-tiba suara ambulan terdengar, tak lama kemudian ambulan itu benar-benar melintas di jalan raya itu. Tidak begitu dekat memang, tapi cukup jelas terlihat. Secepat buroq ia memalingkan matanya kemudian menyangkut pada bendera yang diikat pada sebuah tiang. Sebuah bendera yang berwarna merah dan putih sebuah kombinasi warna dan bentuk yang sama persis dengan gambar tatto yang menempel dibahu temannya. Dengan lirih ia berkata ‘Selamat ulang tahun kawan’. []

Jakarta suram, 17-08-10

(Cerpen Ayat Muhammad)