HMINEWS.COM- Awal bulan ini, pusat-pusat kebudayaan di Jakarta menampilkan beberapa pertunjukkan yang bernafaskan kebudayaan Tionghoa. Pada tanggal 2-7 Agustus ada Festival Seni Budaya Tionghoa Indonesia di Taman Ismail Marzuki, sementara itu di saat hampir bersamaan yaitu tanggal 7 dan 8 agustus, pertunjukkan teater oleh teater bejana yang membawakan sebuah lakon berjudul Pencoeri Hati karya Kwee Tek Hoay, sebuah karya sastra melayu tionghoa di Gedung Kesenian Jakarta.

Naskah Pentjoeri Hati dibawakan dalam bentuk lenong (lenong adalah seni pertunjukan teater tradisional masyarakat Betawi. Lenong berasal dari nama salah seorang Saudagar China yang bernama Lien Ong, konon, dahulu Lien Ong lah yang sering memanggil dan menggelar pertunjukan teater yang kini disebut Lenong untuk menghibur masyarakat dan khususnya dirinya beserta keluarganya) yang tentunya menyajikan keceriaan terhadap penonton yang datang.

Festival Seni Budaya Tionghoa Indonesia, merupakan rangkaian acara, festival dengan tema “ Memaknai Keberagamai” ini diisi dengan diskusi dan pertunjukkan sastra, pemutaran film, bazar pameran, dan demo melukis kaligrafi.

Selama ini kesusastraan melayu tionghoa diabaikan oleh masyarakat Indonesia. Namun pasca runtuhnya Orde Baru dan diakuinya masyarakat (dan kebudayaan) tionghoa, sastra melayu tionghoa kini mulai dipelajari bahkan tidak sedikit yang meneliti karya-karya sastra Tionghoa.  Sebagai sebuah kebudayaan, kesenian tionghoa merupakan sebuah khasanan dari kekayaan budaya dan tentunya akan memperbanyak pengalaman berkesenian kita. Sungguh menarik ketika menyaksikan berbagai pertunjukkan tersebut yang pada era orde baru nyaris sama sekali tidak bisa kita nikmati. Sebuah kecelakaan sejarah ketika satu kebudayaan dilarang oleh makhluk yang katanya berbudaya. (AM)