[]Lubbun Lambojo

HMINEWS.COM- “Hiduplah seperti lilin!” pesan seorang kakek kepada cucunya. Matanya yang mulai rabun menatap cucunya itu dengan penuh kasih sayang.

“Maksudnya apa, Kek?” tanya cucu itu dengan lugu.

Dengan senyum bijaknya dia berkata, “Kau pernah melihat lilin yang menyala cucuku?” Sang cucu mengangguk pelan kemudian sang kakek melanjutkan,”dia menyala cucuku. Dia membawa terang ke seluruh ruangan. Semua menikmati cahayanya. Semua bisa berjalan di jalan yang benar, tidak saling tabrak. Ruangan menjadi aman dan nyaman atas jasanya….”

“Tapi dia meleleh, Kek”

“Itulah resiko yang mesti dia tanggung. Itu bahayanya. Dan dia rela. Dia tidak keberatan.”

“Tapi dia akhirnya mati kan, Kek”

“Ya, dia mati. Bukankah semua yang hidup juga akan mati. Tapi alangkah bahagianya jika kita mati sesudah membawa terang kepada semua.”

“Apakah ada manusia lilin, Kek?” tanya anak itu dengan antusias. Matanya berbinar ceria. Wajahnya tampak bersih dan lucu. Tak ada noda.

“Maksudmu manusia yang bertindak serupa lilin?” tanya sang kakek dengan senyum bangganya sambil mengusap rambut sang cucu yang halus lembut. Sang cucu mengangguk mengiyakan.

“Ada. Ada cucuku,” kata sang kakek mantap. Kemudian dia menatap langit malam yang penuh bintang bertaburan. Malam yang indah.

“Mereka yang rela berkorban tanpa mengharapkan imbalan adalah manusia yang seperti lilin anakku. Mereka rela melepaskan kesenangan-kesenangan untuk dirinya sendiri. Mereka melupakan kepentingan-kepentingan sendiri. Mereka lebih mementingkan kanan-kirinya. Mereka lebih mendahulukan kebutuhan orang lain ketimbang dirinya sendiri. Dia lebih mengutamakan kepentingan orang banyak daripada kepentingan dirinya sendiri. Mereka yang menempatkan kepentingan umat di atas kepentingan dirinya sendiri dan kerabat.”

“Mereka adalah para nabi. Ya kan, Kek?”

“Ya”

“Mereka adalah para rosul. Betul kan, Kek?”

“Betul”

“Mereka para wali, pasti”

Kakek berdehem mengiyakan.

“Mereka adalah para pahlawan. Benar kan, Kek?”

Kakek mengangguk-angguk setuju. “Itu sebutan orang-orang.”

“Emm… Apakah orang semacam itu sekarang masih ada, Kek?”

Sang kakek terdiam. Cukup lama dia terdiam. Cucunya juga diam. Dia menunggu jawaban.

“Entahlah cucuku. Apakah masih ada manusia berjiwa lilin di muka bumi ini. Kakek juga tidak tahu. Tapi cucuku…” sang kakek menatap mata bening cucunya dengan lekat. Kemudian sang kakek tersenyum. Lalu ia berkata,” Kau bisa menjadi manusia lilin itu. Betul cucuku. Kau!”

“Betulkah saya bisa, Kek?”

Kakek mengangguk mantap. “Ya. Kau bisa!”

Sang cucu terdiam seperti berpikir kemudian dia berkata, “Tapi saya tidak mau seperti lilin, Kek”

Kakek sedikit kaget. Dia keheranan lalu dengan bijak bertanya,”Kenapa? Kenapa cucuku? Apa yang membuatmu tidak mau seperti lilin?”

“Karena setelah lilin terbakar, meleleh, meredup, dan akhirnya mati ruangan akan kembali gelap. Dan orang-orang akan kembali bertabrakan. Orang-orang akan kembali kehilangan cahaya. Apa gunanya, Kek? Percuma! Sia-sia! Betul kan, Kek. Dan orang-orang akan ….” Sang cucu ragu untuk melanjutkan kata-katanya.

“Lanjutkan cucuku! Apa yang kau kuatirkan?”

Sang cucu tidak segera menjawab. Dia menatap mata sang kakek. “Mereka akan melupakan sang lilin. Orang-orang akan melupakan sang lilin. Orang-orang tidak akan mengingat lagi bahwa pernah ada lilin yang menerangi. Karena lilin telah mati. Karena lilin telah meleleh dan musnah.”

Sang kakek manggut-manggut. Dia tersenyum dan mengusap lembut pipi cucunya.

“Jangan kuatir cucuku. Lilin tidak pernah kuatir. Lilin tidak pernah kuatir setelah dia mati ruangan akan kembali gelap. Dia tidak pernah kuatir setelah dia lenyap ruangan akan kembali berantakan. Lilin selalu yakin. Dia selalu yakin, cucuku. Dia yakin bahwa akan ada lilin lain yang akan membawa terang. Akan datang lilin-lilin baru yang membawa cahaya. Dan yang pasti…” sang kakek menatap mata cucunya sambil memegangi pundaknya. “Lilin tidak pernah kuatir dilupakan. Tidak dikenang orang-orang. Bagi lilin itu tidak penting cucuku. Sama sekali tidak penting.”