Cerpen, HMINEWS.COM- Kisah ini terjadi ketika salah satu cabang HMI di salah satu wilayah di Jabodetabek mengadakan Training Latihan Kader II (LK 2). LK 2 merupakan salah satu kegiatan perkaderan yang ada di HMI. Dialektika wacana adalah menu harian bagi para peserta dalam training.  Permasalahan karut marutnya kondisi di negeri ini dibahas dan dianalisis sedemikian rupa oleh peserta. Demikianlah gambaran yang sering kita temui dalam forum-forum LK yang ada di HMI.

Bermula ketika penulis menemani Ketua Umum PB HMI, M. Chozin Amirullah, untuk mengisi salah satu materi dalam forum LK 2 tersebut. Setelah melakukan perjalanan sekitar satu jam lebih  dengan kereta  ekonomi AC, akhirnya kami tiba di lokasi sekitar pukul 21.00 malam. Suasana malam yang dingin dan senyap memberi nuansa yang berbeda dibanding dengan Jakarta yang memang panas di malam hari. untungnya sambutan hangat panitia atas kedatangan kami cukup memberi hawa penetral atas dinginnya malam  di lokasi LK tersebut.

Karena forum  telah dibuka oleh pemandu, akhirnya ketum PB dipersilakan untuk memasuki  ruang untuk mengisi acara. Sedang saya yang memang hanya bertugas menemani ketua, kemudian bercengkrama dengan panitia lain  yang terlihat masih cukup semangat malam itu. Beberapa saat kemudian saya pun masuk ruang, hitung-hitung up grade pengetahuan dari Pak Ketum PB.

Selang  beberapa saat setelah memasuki forum,  terlihat ada seorang laki-laki yang juga ikut nimbrung dengan para panitia. Dengan gaya yang yang meyakinkan dan terkesan so’ akrab, sosok  laki-laki asing tersebut mencoba membaur dengan panitia lain. Karena waktu kedatangan kami dan laki-laki misterius tersebut tidak terlalu berjarak terlalu lama dengan kedatangan Ketum PB HMI, panitiapun menganggap bahwa orang tersebut adalah bagian rombongan PB HMI dari Jakarta. Laki-laki tersebut diterima dengan  tangan terbuka dan tanpa curiga oleh para panitia.

Pukul 12 malam lebih, akhirnya penyampaian materi tuntas dibawakan oleh pak Ketum. Sebenarnnya malam itu kami memutuskan untuk langsung balik ke Jakarta, tapi atas saran panitia kami memutuskan untuk menginap di lokasi LK.

Esok paginya, segera setelah bangun pagi, kami shalat shubuh berjamaah dengan diimami oleh Ketum PB HMI. Tidak semua panitia ataupun peserta ikut sholat berjamaah bersama Pak Ketum PB HMI. Sebagian panitia yang bangun sedikit terlambat ikut shalat berjamaah pada gelombang kedua. Tentu saja imamnya bukan lagi Pak Katum PB HMI, melainkan orang lain.

Jamaah meminta laki-laki misterius tadi malam datangnya hampir bersamaan dengan Pak Ketum PB HMI. Jamaah mengira laki-laki tersebut adalah rombongann Ketum PB HMI, maka pantaslah menjadi imam shalat. Akhirnya terpaksalah laki-laki tadi bersedia menjadi imam. Sebagaimana imam shalat pada umumnya, ia mengawali sholat takbir dan seterusnya.

Memasuki rakaat kedua, kehebohan terjadi.   Ketiak selesai membaca alfatihah dan surat pendek, dalam posisi ruku’ tiba-tiba terdengar suara aneh keluar dari pantat Imam. Duuuut….!!!! sontak  saja salah seorang panitia yang berada di shaft belakang tidak kuat menahan tawa. Saking tidak kuatnya, ia terpaksa membubarkan diri dari barisan dan melanjutkan tertawanya di luar.. kakk ..kkk… “ternyata sang Imam kentut… weleh..weleh…dasar sableng…”.

Sudah tahu kentut kalau kentut itu membatalkan shalat, Sang imam bahkan terlihat semakin khusuk saja  melanjutkan shalatnya. Yang lebih aneh lagi, sebagian para makmun juga terlihat melanjutkan shalatnya bersama Sang Imam. Padahal mereka juga pasti mendengar kentut sang Imam yang menggelegar memecah kesunyian pagi itu. Entah apa yang ada dibenak para jamaah, apa karena mereka menyangka laki-laki misterius ini adalah bagian dari rombongan PB, sehingga mereka sungkan untuk mengingatkan sang imam? Atau karena sebab lainnya.  Paradoks memang, kader HMI yang biasanya dikenal kritis, pagi shubuh itu ternyata bungkam bahkan terkesan taklid buta. Bagaimana tidak, imam kentutpun diikuti?

Selesai shalat, barulah panitia salah bisik-biski dengan kejadian tadi. Mereka saling bertanya, siapa sosok laki-laki yang jadi imam tadi. Dengan pakaian kaos oblong dan jeans, tentu amat kontras dengan pakaian Katum PB HMI yang necis dan pengawalnya yang juga tidak kalah rapih. Kecurigaan semakin menjadi setelah ditahu ternyata laki-laki tersebut tidak pulang bersama rombongan Ketum PB HMI. Ditambah, tidak ada satupun dari panitia yang mengenalnya.

Akhirnya panitia benar-benar meyakini bahwa sosok sang Imam kentut tersebut bukanlah kader HMI. Panitia berkesimpulan bahwa laki-laki tersebut adalah intel yang sedang mengamati kegiatan HMI. Bisa jadi, dia ditugaskan secara khusus karena ada ketua PB HMI yang akan mengisi acara. Kesimpulan tersebut diperkuat oleh adanya motor polisi yang parkir tidak jauh dari dilokasi LK. Wah,.. ada-ada aja, intel koq sholatnya kentut! []Zrin _Tangkalalo dan Anyong Latupono