HMINEWS.COM- Kalau kesenian itu merupakan hasil dari perenungan atas kegelisahan, maka kesenian adalah sesuatu yang transenden, lalu bagimana dengan pelaku seni yang berkarya atas dasar kebutuhan materi, baik itu karena desakan finansial atau didorong oleh sebuah obsesi?

Dalam beberapa pembicaraan, kesenian merupaka hal yang tabu untuk dikaitkan dengan sesuatu yang bersifat kepentingan (pribadi). Kesenian hanya akan ada jika ia terlahir sebagai dirinya sendiri atau kesenian lahir karena seni itu sendiri atau ungkapan dari kegelisahan demi tatanan masyarakat madani. Memang sangat luas jika seni/kesenian sebagai sebuah kata yang harus kita ungkap. Karena kesenian itu sendiri akan sangat banyak pengertiannya dan beragam jenisnya. Apalagi jika pengertian seni adalah segala sesuatu yang indah-indah. Seorang teman pernah berkata; “perempuan adalah karya seni terindah yang pernah tercipta”, disini jelas sekali bahwa karya seni adalah sesuatu yang pernah tercipta. Jadi semua yang pernah ada dan bisa dirasakan adalah karya seni atau kesenian itu sendiri. Sederhananya, Seni adalah Ungkapan perasaan seseorang yang dituangkan kedalam kreasi dalam bentuk gerak, rupa, nada, syair, yang mengandung unsur-unsur keindahan, dan dapat mempengaruhi perasaan orang lain.

Namun disini kita coba persempit makna seni/kesenian. Seni terbagi menjadi tiga; Pertama, Seni visual yaitu hasil karya seni yang dapat dihayati melalui panca indra mata (penglihatan). Kedua, Seni Audio yaitu karya seni yang dapat dihayati melalui panca indra telinga (pendengaran). Terakhir, Audio visual yaitu karya seni yang dapat dihayati sekaligus melalui panca indra mata dan telinga. Pada tataran aplikasinya, seni terbagi dalam empat jenis yaitu Seni Musik, Seni Rupa, Seni Drama, dan Seni tari. Dari keempat jenis itu, sesunguhnya semua berasal dari kegelisahan seseorang yang kemudian dicurahkan dengan tujuan untuk berbagi pengalaman yang diharapkan memberikan sesuatu yang baik untuk para penikmatnya. Mulia memang.

Kemudian sangat dilematis ketika seni berbenturan dengan hajat hidup pelakunya. Totalitas dalam berkesenian tidak serta merta membuat pelaku seni mendapatkan penghidupan yang layak. Berkesenian tidak sama halnya dengan berdagang atau dengan pekerjaan lainnya, dimana konsistensi dan kontinuitas berbanding lurus dengan kesejahteraan. Berkesenian tak ubahnya berfilsafat berkesenian adalah prilaku sufistik, bahkan cenderung profetik. Maka tidak salah juga jika pelaku seni disejajarkan dengan nabi atau pemberi berita yang keduanya bertujuan untuk mengabarkan tentang sebuah idealisme.

Idealisme bersifat transenden, sesuatu yang metafisik, sesuatu yang tak lagi terikat dengan hal-hal yang bersifat duniawi, sesuatu yang berpangkal pada keyakinan dan berujung dengan sesuatu yang bersifat ketuhanan. Seperti kita ketahui, pada awalnya kesenian merupakan ekspresi seseorang untuk persembahan terhadap sesuatu yang mereka yakini sebagai sebuah kekuatan yang maha besar, sebuah pengorbanan atas keyakinan mereka. Sementara pada era kapitalisme saat ini kesenian merupakan komoditi untuk pemenuhan kapital/material. Maka tak aneh jika seseorang berkarya sesuai pesanan. Tidak salah memang selama karya itu bersifat positif bagi kemanusiaan. Persoalan akan hadir jika karya seni lahir dari keterpaksaan, hal inilah yang terjadi sekarang. Orang berbondong-bondong berkesenian demi uang. Sehingga pesan yang disampaikan tak ada. Selain itu, kurangnya pengalaman tentang kehidupan membuat para pelaku seni asal berkarya. Misalnya, dalam seni pertunjukkan atau dalam seni rupa ada tiga jenis karya, realisme, surealisme, dan abstrak. Dari ketiganya itu, sangat minim karya yang bersifat realisme, hal ini bukan karena surealisme atau abstrak bersifat multi tafsir semata, akan tetapi hal ini diambil sebagai jalan untuk menutupi kekurangan pengetahuan atau pengalaman atau daya imajinasi pelaku seni, dengan alasan biar penikmat seni mempunyai pandangan sendiri. Tentu saja tak lebih dari pemenuhan hajat hidup itu.

Dengan demikian, pelaku seni yang seperti itu belum bisa dikategorikan sebagai seorang seniman akan lebih tepat jika kita panggil mereka buruh seni. Tentu saja untuk membuat sebuah karya seni yang murni pemerintah harus turut campur dalam pemenuhan hajat hidup para pelaku seni. Namun, apapun bentuk kreasi mereka, kreatifitasnya harus mendapat penghargaan. (Ayat Muhammad)