Pertanyaan yang selalu diajukan setiap kali memperingati hari kemerdekaan adalah “apakah anda sudah merdeka?”. Jawaban dari pertanyaan inipun beragam tergantung kondisi orang yang memberikan jawaban. Ada yang menyatakan sudah merdeka dan banyak yang menyatakan belum merdeka.

Jika pertanyaan ini diajukan kepada orang miskin atau orang yang sering mejadi korban dari kebijakan pemerintah, jawabannya sudah bisa ditebak. Mereka belum merasakan merdeka. “Bagaimana mau merdeka, kalau setiap hari dagangan kita di obrak-abrik oleh petugas dan tempat tinggal digusur juga” atau “Belum, saya belum merdeka sebelum pemerintah memberikan kehidupan yang layak kepada kaum miskin” bahkan “Merdeka dari penjajah sih sudah, tapi merdeka dari jajahan negeri sendiri, ini yang belum”. Mungkin demikianlah jawaban yang mereka berikan.

Dengan jawaban tersebut, bagi orang-orang yang termarjinalkan (mustadhafin), kemerdekaan yang ada saat ini bukan berarti mereka sudah terbebas dari segala penindasan dan kemiskinan. Dalam hal ini relasi kemerdekaan dan kemiskinan menjadi menarik untuk dicermati. Apakah orang yang sudah menyatakan merdeka dari penjajahan kolonialisme juga merdeka dari kemiskinan?

Makna Kemerdekaan Bagi Orang Miskin

Dalam filsafat materi, makna kemerdekaan bersandarkan kepada kebebasan manusia. Dalam presfektif ini, manusia bisa mengekploitasi manusia dengan berbagai cara baik dalam  berbagai bidang kehidupan manusia, termasuk bidang ekonomi dan usaha pemenuhan hajat hidup. Sehingga, pandangan ini akan membawa sekelompok orang yang kebetulan “beruntung” (orang-orang kaya) dari segi ekonomi dan kekuasaan akan memberikan privelege (hak-hak istimewa) yang demikian besar untuk menguasai dan mengendalikan aset-aset negara. Sementara itu pada sisi lain, rakyat kecil (kelompok yang “kurang berutung) atau kaum Dhu’afa (orang-orang yang tertindas) dari segi ekonomi dan sosial, sering dikejar-kejar oleh petugas dan kadangkala mendapatkan perlakuan yang kurang manusiawi hanya karena usahanya dianggap mengotori dan merusak pemandangan kota.

Berdasarkan kondisi yang ironi di atas, nampak bahwa pendekatan yang didambakan oleh setiap orang atau kelompok orang versi filsafat materi tentang memaknai kemerdekaan tersebut semata-mata berorientasi kepada jumlah atau banyaknya harta dan kekuasaan. Artinya, seolah-olah kemerdekaan identik dan berbanding lurus dengan kuantitas.Dari prespektif ini, kemerdekaan yang didambakan oleh orang miskin tidak akan pernah tercapai.  Kemerdekaan akan terus-menerus menjadi milik kaum kapital yang mempunyai modal dalam melakukan eksploitasi terhadap manusia lainnya.

Bagi masyarakat miskin, merdeka adalah mereka bebas dari belenggu kemiskinan dan kemelaratan hidup serta menentukan pilihan hidup terutama dalam hal ekonomi dan hajat hidup lainnya. Dalam kontek ini, pemerintah seharusnya menyediakan fasilitas dalam merangsang masyarakat untuk melakukan usaha-usaha yang bisa membuat masyarakat keluar dari kemiskinan tersebut.

Relasi Kemerdekaan dan Kemiskinan

Mencari hubungan antara kemerdekaan dan kemiskinan mungkin satu hal yang agak dipaksakan. Namun demikian, dua hal ini saling mempunyai keterhubungan. Sepanjang sejarah negara-bangsa (nation state), negara yang hidup dalam kolonialisme merupakan negara yang miskin walau mempunyai sumber daya yang melimpah. Hal ini terjadi karena negara masih berada dalam cengkraman negara penjajah (kolonial), dan kekayaan negara sepenuhnya menjadi milik negara penjajah.

Indonesia, bisa dijadikan contoh kongkrit dalam hal ini. Selama kurun waktu 350 tahun dalam cengkraman kolonialis Belanda, Indonesia yang sebetulnya kaya akan sumber daya alam (SDA) tidak mampu bangkit dari jeratan kemiskinan. Bahkan masyarakat dipaksa untuk bekerja keras untuk menyediakan barang oleh kolonialis untuk membangun negara pejajah.

Pada tataran ini, kekayaan yang dimiliki oleh suatu negara bahkan bisa menjadi bomerang yang membuat negara tersebut akan terus menjadi tujuan eksploitasi negara kapital. Contoh kasus dalam hal ini adalah Irak dan Palestina. Irak dengan segala kekayaan alam yang dimilikinya saat ini menjadi terpuruk akibat perang. Pun demikian dengan Palestina yang tidak pernah berhenti dalam kemelut peperangan dengan tetangganya Israel. Selama perang masih terjadi, sangat sulit untuk sekedar menyakini Palestina akan menjadi negara yang mapan secara ekonomi. Kemerdekaan dalam mengurus negara sendiri dan menentukan kebijakan sendiri serta mengolah kekayaan negara sendiri menjadi penting dalam hal ini. Inilah mengapa setiap negara-bangsa (nation state) dengan segala upaya terlepas dari jajahan negara lain.

Namun, pertanyaannya kemudian adalah ”apakah masyarakat sudah sepenunya terlepas dari penjajahan?” salah satu jawaban diatas mungkin bisa mewakili jawaban-jawaban yang lain. ” “Merdeka dari penjajah sih sudah, tapi merdeka dari jajahan negeri sendiri, ini yang belum”. Inilah persoalan riil yang harus dihadapi oleh masyarakat.

Di usia kemerdekaan yang sudah mencapai 65 tahun, masyarakat belum sepenuhnya bebas dalam melaksanakan aktivitas-aktivitas dalam rangka memenuhi hajat hidupnya dan mencapai kesejahteraan secara ekonomi serta terbebas dari belenggu kemiskinan. Pada tataran inilah relasi kemerdekaan dan kemiskinan menemukan titik temunya. Negara yang merdeka seharusnya mampu mensejahterakan rakyatnya karena tidak ada lagi pemaksaan dari negara penjajah dan negara bebas dalam menentukan kebijakan yang pro rakyatnya sehingga rakyat terbebas dari belenggu kemiskinan yang membelitnya.

Indikator-indikator yang memperlihatkan bahwa rakyat masih banyak yang berada dibawah garis kemiskinan, masih banyaknya penggusuran di sana-sini, pemerintah yang tidak pro rakyat, menunjukkan bahwa negara ini belum sepenuhnya merdeka dari penjajah. Penjajah dari negara asing memang tidak menggunakan alat perang, akan tetapi dengan kebijakan ekonomi dan pinjaman utang. Penjajahan dari negara asing ini membuat negara juga melakukan penjajahan terhadap rakyatnya. Dan siklus ini berakhir dengan kondisi rakyat yang tidak pernah terlepas dari jeratan ekonomi kapitalis yang melakukan pemiskinan struktural, sehingga rakyat sampai akhir hayatnya tetap berada dalam lingkaran kemiskinan.

Oleh Sunardi Panjaitan

Email : ulilalbab_adi@yahoo.co.id