Juliette Schmidt

Ramadhan di Berbagai Penjuru Dunia: Maroko, Pakistan dan Amerika Serikat

Toronto, Kanada, HMINEWS.COM-  – Bekerja bersama dengan rekan-rekan kerja yang berasal dari berbagai negara dan multi agama di Search for Common Ground (SFCG), sebuah organisasi non-profit yang menangani konflik, saya menjadi tahu kalau suasana Ramadan tidak saja dirasakan oleh teman-teman yang berpuasa dan meluangkan waktu lebih banyak untuk kegiatan spiritual, tapi juga oleh yang lain, yang mengikuti rapat-rapat lintas zona waktu yang dijadwalkan di sekitar waktu berbuka, dan mencoba lebih memahami teman-teman yang bekerja seharian tanpa makan dan minum.

Tentu Ramadan tidaklah cuma soal berpuasa sepanjang hari dan berbuka saat matahari terbenam. Bagi banyak orang, Ramadan adalah perjalanan sebulan penuh menuju pencerahan spiritual dan latihan berdisiplin dan rendah hati. Di bulan ini kaum Muslim menahan diri dari bergosip, berkata kotor, amarah, berhubungan seks (saat berpuasa) dan berpikir negatif, sembari tetap menjalankan rutinitas sehari-hari mereka.

Perjalanan itu berbeda tidak saja antara satu orang dengan orang lainnya, tapi juga antara satu negara dengan negara lainnya. Sebagian merasa khawatir apakah mereka bisa memenuhi standar tinggi mereka sendiri dalam berpuasa dan bekerja, sementara yang lain merasakan suasana yang lebih tenang dan khusyuk. Dan di seluruh dunia, aspek spiritual dan kultural Ramadan terbaur dalam cara yang berbeda-beda.

Di Islamabad, Rashad Bukhari, penasihat untuk program kami di Pakistan sekaligus redaktur bahasa Urdu Kantor Berita Common Ground, menerangkan: “Dengan dimulainya Ramzan (begitu bulan ini dikenal di Pakistan), hidup berubah dalam semalam. Tidak saja ada pergeseran kebiasaan makan dan rutinitas harian orang-orang, tapi juga ada perubahan suasana. Orang-orang merasa lebih sadar akan hubungan mereka dengan Tuhan dan manusia lainnya dengan seringnya mereka melakukan salat, berdoa dan bersedekah.”

Bagi banyak orang, Ramadan adalah pengalaman spiritual dan kultural sekaligus. “Keluarga saya bangun jam 3 pagi,” papar Bukhari. “Istri saya menyiapkan paratha (martabak lapis khas Asia Selatan sejenis roti prata atau roti canai), telur dadar, semangkok yoghurt dan santapan lain untuk sehri (sahur) agar kami punya cukup tenaga hingga waktu berbuka, yang hampir selalu menyajikan makanan-makanan lezat seperti pakora (semacam bakwan yang dibuat dengan tepung buncis), samosa (semacam lumpia manis), dahi bhalley (hidangan yoghurt dengan roti celup dan bawang), dan chaat (rujak buah pedas ala Asia Selatan).”

Dan ada suasana sibuk di mana-mana: “Pasar-pasar buka sebelum subuh dan penuh orang saat jelang waktu berbuka. Masjid-masjid penuh saat waktu salat. Sayangnya, Ramzan tahun ini tiba tak lama setelah terjadinya banjir terparah dalam sejarah Pakistan,” tukas Bukhari. “Suasana kegembiraan yang biasanya terjadi kini diselimuti oleh kesedihan karena kematian dan kehilangan. Semangat Ramzan di Pakistan saat ini adalah – dan memang seharusnya – untuk menolong mereka yang amat membutuhkan makanan dan tempat tinggal.”

Alae Eddin Serrar, manajer program di Maroko yang tinggal di Rabat, menggambarkan bagaimana “Ramadan berlangsung di tengah musim kering yang panas tahun ini. Toh, sama seperti biasanya, Ramadan membawa semangat kedamaian, rahmat dan kebahagiaan. Selama sebulan, Ramadan membawa kaum Muslim di seluruh Maroko ke suasana hening dan spiritualitas.”

Serrar menambahkan, “Bagi kebanyakan orang Maroko, bulan suci ini adalah kesempatan untuk menyucikan diri mereka melalui pengendalian nafsu, untuk memperkuat jiwa mereka dengan menyegarkan hubungan mereka dengan Tuhan dan mengevaluasi diri agar bisa menjadi manusia yang lebih baik.”

Ramadan adalah saat menengok ke luar dan ke dalam diri kita. “Ramadan adalah waktunya orang-orang mengunjungi keluarga mereka dan sama-sama berbagi makanan lezat,” lanjut Serrar. “Makanan khas, seperti harira (sup tomat dan miju-miju khas Maroko), chebekia (roti goreng oles madu) dan sellou (gula-gula dari kacang almond dan biji wijen), adalah sajian yang populer di bulan suci ini. Banyak orang menghabiskan waktu malam mereka di luar rumah, berjumpa teman di kafe, atau menonton acara-acara baru di televisi. Anak-anak khususnya senang dengan baju-baju baru untuk Idul Fitri, hari raya yang menandai akhir Ramadan.”

Dan di Amerika Serikat, di mana restoran tetap buka seperti biasa dan kebanyakan warganya tidak berpuasa, Leena El-Ali, Direktur Program Hubungan Muslim-Barat dan Bidang Timur Tengah dan Afrika Utara, menyatakan, “Lucu kalau mengingat pikiran betapa beratnya bagi saya yang jauh dari ‘kampung halaman’ untuk menjalani Ramadan di negeri orang, di Washington dan, dulu, London (tak seperti di Lebanon).”

Nyatanya, ia merasa bahwa, “selama 21 tahun hidup di Barat, saya justru bisa menyadari makna Ramadan yang dalam: pertama, lewat keteladanan orang-orang Barat mualaf yang saya temui, yang tampak lebih menghayati tujuan ibadah-ibadah dalam Islam; dan lewat ‘kesendirian’ menjalani hidup di masyarakat yang mayoritas non-Muslim, sehingga tumbuhlah kesadaran diri akan tujuan hidup di tengah tidak adanya sistem sosial yang secara alamiah membantu orang-orang yang berada dalam jangkauannya.”

“Di negara non-Muslim di mana kebebasan beragama dijamin, tidak ada permakluman bagi orang Muslim: inilah lingkungan yang secara tersirat menyentil kita untuk menjalankan jihad akbar – melawan hawa nafsu – yang melebihi segala perjuangan lahiriah yang mungkin kita jumpai.”

###

* Juliette Schmidt adalah Wakil Direktur Mitra Kemanusiaan, Search for Common Ground. Artikel kedua dari seri tentang suasana Ramadan di berbagai belahan dunia minggu depan akan menyuguhkan pandangan dari Lebanon dan Indonesia.