Terdapat dua aliran besar yang membahas ideologi. Pertama, adalah pandangan ideologi yang beraliran Marxis, dan yang kedua adalah penafsiaran ideologi non-marxis. Aliran pertama, memandang ideologi sebagai sesuatu yang negatif. Menurut Marx, ideologi adalah suprastruktur dari basis relasi produksi. Dalam pandangannya, ideologi membentuk kesadaran palsu yang mengaburkan realitas eksploitasi dalam proses produksi.

Pemikiran Marx tentang ideologi ini kemudian dikembangkan secara canggih oleh Althuser. Ketika Marx membatasi ideologi hanya sebagai ide-ide kelas dominan yang didukung oleh aparat negara yang represif, maka Alhuser meluaskan pengertian ideologi menjadi praktik sehari-hari dari memotong kuku hingga menulis skripsi, yang kesemuanya tidak dapat dijelaskan dasar epistimologisnya. Kepercayaan yang tertanam tanpa disadari itulah yang dinamakan ideologi oleh Althuser. Bagi Althuser, ideologi membawa kita bergerak dalam relasi yang tak nyata namun seolah nyata, menerima yang semu seperti nyata. Sejak dari lahir, demikian kata Bagus Takwin atas pembacaannya terhadap Althuser, manusia dipersiapkan untuk mengabdi kepada jaringan struktur. Subjek ini pertama-tama dipersiapkan untuk menjadi pelengkap struktur keluarga. Ketika masuk ke dalam lingkungan yang lebih luas, struktur yang lebih besar langsung menjaring individu. Ideologi yang membentang sebagai jalinan struktur telah memetakan subjek dalam perannya masing-masing, bekerja melanggengkan struktur melalui reproduksi dari produksi dan relasi produksi. Proses penjaringan individu ini dilakukan oleh Aparatus Ideologis Negara yang terdiri dari berbagai macam institusi sosial dari keluarga sampai pendidikan. Implikasi dari pemikiran Althuser mengenai ideologi ini membawa kita pada pemahaman bahwa subjektivitas adalah sebuah ilusi, kita sepenuhnya dikendalikan oleh struktur yang terus mereproduksi kekuasaannya melalui Aparatus Negara Ideologis. Perubahan sosial pun menjadi mustahil dalam pemikiran semacam ini. Tetapi persoalannya kemudian adalah, kalau memang struktur yang melandasi ideologi adalah relasi produksi, bagaimana mengaitkan gerakan lingkungan hidup misalnya, yang anti kapitalis, ke dalam apa yang dikatakan Althuser sebagai, reproduksi dari kondisi produksi? Saya terus terang tidak dapat menemukan jawaban pertanyaan ini dalam bingkai pemikiran Althuser, oleh karena itu, dalam uraian singkat saya tentang perkembangan ideologi Nasionalisme di Indonesia ini, saya menggunakan pengertian ideologi sebagai bangunan diskursif seperti yang diuraikan oleh Focault.

Jika strukturalisme Althuser memiliki pandangan bahwa kekuasaan terpusat pada satu struktur tertentu, maka menurut Focault, kekuasaan menyebar pada segala level sosial. Kekuasaan ini terbangun dari prakik diskursif yang menghasilkan pengetahuan. Diskursus adalah cara menghasilkan pengetahuan, beserta praktik sosial yang menyertainya, bentuk subjektivitas yang terbentuk darinya, relasi kekuasaan yang ada dalam di balik pengetahuan dan praktik sosial tersebut, serta kesalingberkaitan antara semua aspek ini. Diskursus ini mengkonstruksi, mendefinisikan dan menghasilkan objek pengetahuan dengan cara yang dapat dipahami sambil mengesampingkan bentuk penalaran lain sebagai sesuatu yang tidak dapat dipahami. Focault berpendapat bahwa diskursus mengatur bukan hanya apa yang bisa dikatakan pada kondisi budaya dan sosial tertentu, namun juga siapa yang dapat bicara, kapan, dan di mana. Pengetahuan, hanya dimungkinkan lahir dari paktik diskursif dimana di dalamnya terdapat relasi kuasa, dan pengetahuan itu, karena sifat diskursus yang eksklusif juga berfungsi sebagai pendisiplinan untuk mereproduksi kekuasaan.

Ideologi Islam fundamentalis misalnya, merupakan praktik diskursif yang mendefinisikan, membatasi dan menghasilkan pengetahuan tentang Islam. Pengetahuan ini lahir dari praktik diskursif yang melibatkan relasi kuasa untuk mereproduksi kekuasaan itu sendiri. Proses mereproduksi kekuasaan itu dilakukan dengan pendisiplinan yang meliputi, pengetahuan apa yang diketahui, boleh diketahui, akan diketahui, dan tidak boleh diketahui. Oleh karena itu, pengetahuan lain tentang Islam yang dibangun dari diskursus yang berbeda dikatakan tidak rasional, dan kemudian disesatkan.

Teori-Teori Perkembangan Nasionalisme

Ernst Gellner menghubungkan kemunculan nasionalisme dengan perubahan yang berhubungan dari ekonomi praindustri ke ekonomi industri, dan mengatakan bahwa sebagai bentuk-bentuk organisasi sosial yang menjadi lebih kompleks dan bervariasi, hal ini membutuhkan negara dan daya kerja yang lebih homogen dan kooperatif. Jadi, masyarakat industri menghasilkan kondisi ekonomis untuk kesadaran nasional—yang mengonsolidasi secara politis melalui agensi penyelia serikat bangsa.

Tetapi, perkembangan kemunculan nasionalisme yang dirumuskan oleh Gellner ini tidak bisa diterapkan untuk kasus Indonesia. Nasionalisme di Indonesia punya perkembangan dan dinamikanya sendiri yang unik. Kolonialisme yang mengenalkan pada Indonesia teknik-teknik produksi kapitalis tidak sepenuhnya bisa menjalankan misinya seperti yang dikatakan Karl Marx. Menurut Marx, kolonialisme bermanfaat untuk mempercepat proses transformasi mode produksi feodal pada masyarakat terjajah untuk mempercepat revolusi dunia menuju sosialisme. Pada kenyataannya, misi kolonialisme sebagai misi pemberadaban orang Timur menunaikan misinya dengan setengah hati. Mereka mempertahankan sistem-sistem perbudakan yang didasarkan pada perbedaan ras. Jadi, terminologi kelas dalam pemikiran Marx tidak bisa diterapkan pada subjek kolonial karena di sini, dalam masyarakat sosial, perbedaan sosial tidak ditentukan oleh kelas melainkan ras.

Studi yang berpengaruh untuk menganalisis perkembangan Nasionalisme pada dunia pasca-kolonial adalah studi Bennedict Anderson. Dalam bukunya Imagined Communities, Anderson berpendapat bahwa perkembangan Nasionalisme terkait erat dengan perkembangan kapitalisme cetak. Koran, novel, dan bentuk-bentuk lain komunikasi adalah saluran-saluran untuk menciptakan budaya, kepentingan-kepentingan dan kosa kata-kosa kata bersama. Bentuk-bentuk komunikasi itu dimungkinkan oleh kapitalisme cetak yang telah menciptakan bahasa cetak tertentu yang direproduksi secara mekanis dengan menghilangkan ungkapan sebagian bahasa daerah-daerah dan dengan begitu menciptakan bahasa-bahasa tertentu yang bisa dibakukan yang bisa dipakai untuk mencapai kelompok-kelompok rakyat yang beragam. Hal ini memungkinkan terciptanya suatu komunitas terbayang, di mana sebagian besar orang-orang itu tidak pernah bertemu tetapi mampu disatukan dengan adanya kapitalisme cetak ini. Penyatuan subjek kolonial ini sebagai suatu komunitas terbayang dikuatkan oleh adanya nasib bersama yang membentuk kepentingan bersama.

Genealogi Gerakan Nasionalisme Indonesia

Mantan Presiden RI Soekarno

Nasionalisme Indonesia sebagai bentuk perlawanan tehadap kolonialisme dimulai dengan penerbitan koran Medan Prijaji milik pengusaha pers dan jurnalis pribumi pertama R.M. Tirtoadisoerjo. Sikap radikalnya dituangkan dalam tulisan-tulisan yang banyak menyerang pejabat-pejabat Hindia Belanda serta pengungkapan-pengungkapan skandal-skandal korupsi di lingkungan birokrasi kolonial. Akibatnya, tahun 1912 surat kabar ini dilikuidasi dengan alasan utang dan penipuan, dan Tirtoadisoerjo dibuang ke Ambon.

Di sisi lain, kegagalan Boedi Oetomo sebagai gerakan organisasi perlawanan mengilhami Tirtoadisoerjo ini untuk membentuk organisasi model baru yang berbeda dengan Boedi Oetomo. Boedi Oetomo gagal, menurut Tirtoadisoerjo, karena didominasi oleh kalangan ningrat yang menikmati keintimannya dengan penguasa kolonial kulit putih. Dia mencari bentuk organisasi yang pengikutnya adalah orang-orang yang relatif independen dari penguasa kolonial. Dia menemukan bahwa pedagang adalah golongan yang memenuhi syarat tersebut. Akhirnya, pada tahun 1907, dengan bekeja sama dengan Haji Saman Hudi dan H.O.S. Tjokroaminoto, dia mendirikan organisasi dengan anggota dagang yang kebetulan semuanya beragam Islam. Organisasi itu bernama Sarekat Dagang Islam (SDI). SDI ini kemudian bermetamorfosis menjadi Sarekat Islam yang merupakan organisasi politik radikal dengan mengawinkan semangat kebangkitan ideologi pan-Islamisme internasional sebagai teologi pembebasan dengan ideologi sosialisme radikal dan komunisme lewat bentuk revolusi kaum buruh dan masa rakyat proletar untuk menghancurkan kolonialisme dan kapitalisme global.

Dengan pecahnya SI menjadi SI Merah dan SI Putih, gerakan nasional anti kolonial pun berubah haluan dengan hadirnya organisai-organisasi sekuler yang non-primordial. Hal ini terlihat dengan berdirinya Indische Partij yang didirikan oleh Tjipto Mangunkoesoemo, Douwes Dekker, dan Soewardi Soerjaningrat. Gerakan politik penerusnya seperti Perhimpunan Indonesia (Bung Hatta) dan PNI (Soekarno) mempunyai karakteristik yang sama dengan Indische Partij. Tentang Soekarno ini, ada cerita menarik tentangnya. Pergulatan ideologi politik di Indonesia yang didominasi oleh Islam, Nasionalisme, dan Komunisme ternyata berasal dari satu rumah. Kartosuwiyo (pemimpin DI/TII), Semaun (pendiri SI Merah), dan Soekarno (pendiri PNI) merupakan anak didik H.O.S. Tjokroaminoto. Ironis melihat mereka saling sikut dikemudian hari demi kekuasaan mengingat mereka pernah satu rumah.

Nasionalisme Soekarno merupakan Nasionalisme yang paling populer dan kemudian diresmikan pada masa awal kemerdekaan. Nasionalisme Soekarno ini mengambil platform Marhaenisme dan Sarinahisme sebagai common denominator untuk menyatukan seluruh elemen bangsa melawan kolonialisme. Marhaen adalah seorang petani dan Sarinah adalah pembantu rumah tangga. Marhaenisme adalah salah satu konsepsi subatern yang berbeda dengan konsep proletar yang hanya ada dalam masyarakat kapitalisme lanjut di negara Barat. Kalau proletar adalah orang yang sama sekali tidak mempunyai modal selain tenaganya sehingga dia terpaksa menjualnya pada pemilik modal, maka Marhaen, adalah seorang yang mempunyai modal, seperti tanah dan hewan peliharaan, tetapi mereka tetap menjadi miskin.

Marhaen adalah massa, demikian pula Sarinah. Tetapi, Marhaen telah berubah menjadi ‘Marhaen’, dan Sarinah berwujud menjadi ‘Sarinah’ dalam ideologi Nasionalis yang merepresentasikan Rakyat dan Bangsa (dengan R dan B besar). Bukan sebaliknya, bangsa atau rakyat didefinisikan oleh orang-orang seperti Marhaen yang petani atau Sarinah yang pembantu. Mahaen dengan kata lain di-Marhaen-kan.

Politik representasi subalternitas oleh elit politik seperti yang terlihat di dalam ideologi Nasionalis yang dicetuskan Soekarno ini kemudian menjadikan representasi atas Marhaen ini diresmikan. Soekarno kemudian berurusan dengan Marhaen (sebagai representasi kelompok subaltern) dengan cara memberi pernyataan atasnya, mengabsahkan pandangan-pandangan tentangnya, melukiskannya, mangajarinya, mengaturnya, serta menguasainya. Peresmian ideologi Marhaenisme ini kemudian, pada level selanjutnya, menghasilkan pengetahuan tentang Marhaen yang rasional sambil mengatakan bahwa cara-cara menghasilkan pengetahuan yang lain sebagai tidak rasional dan sesat. Dengan meresmikan pengetahuan tentang Marhaen, maka Marhaenisme telah menjadikan Marhaen sebagai objek sejarah, bukan subjek sejarah. Soekarno-lah yang merupakan subjeknya karena dialah penemunya. Dialah yang kemudian memilih sejarah masa lalunya untuk mendeskripsikan kondisi kekiniannya dan menentukan masa depannya. Dengan merepresentasikan Marhaen, maka Marhaenisme telah membungkamnya dan tidak membiarkan dirinya (Marhaen) sebagai subjek atas dirinya sendiri.

Peresmian ini juga berfungsi sebagai pendisiplinan ideologi Marhaen. Segala hal yang berada di luar diskursus ini dikatakan sebagai gerakan separatis yang mengancam keutuhan bangsa. Gerakan DI/TII, pemberontakan Kahar Mudzakkar, dan gerakan kemerdekaan di Aceh dilabeli gerakan separatis. Hal ini membuktikan diktum Focault bahwa kekuasaan selalu berkorespondensi dengan pengetahuan dimana kekuasaan menghasilkan pengetahuan dan pengetahuan tersebut kemudian berfungsi untuk mereproduksi kekuasaan.

Cara-cara seperti ini terus terulang dalam sejarah perjalanan ideologi Nasionalisme Indonesia. Masa Orde baru merupakan masa di mana fungsi pengetahuan sebagai pendisiplinan tampil dalam wujudnya yang paling telanjang sehingga terlihat dengan jelas. Meskipun Nasionalisme Orde Baru berbeda dengan Nasionalisme Soekarno, tetapi cara-cara pendisiplinan dengan pengetahuan tentang Pancasila sebagai dasar legitimasinya sama dengan yang dilakukan Soekarno, bahkan tampil dengan cara-cara yang sangat kasar. Cara ini juga yang kelak digunakan Megawati dengan representasinya atas apa yang disebutnya wong cilik.

Masalah Representasi; Adakah Jalan Keluar?

Masalah utama Nasionalisme di Indonesia dengan demikian sama dengan masalah utama kolonialisme yang ditentangnya, yakni representasi. Said dalam wawancaranya dengan Diacritics mengatakan;

tindakan merepresentasikan (dan dengan demikian mereduksi) others, hampir selalu melibatkan kekerasan tertentu terhadap subjek yang direpresentasikan, dan juga sebuah kontras antara kekerasan pada tindakan merepresentasikan sesuatu dan eksterior yang tenang dalam representasi itu sendiri, yaitu citra—baik citra verbal, visual, maupun yang lainnya—subjek tersebut. Selalu ada kontras paradoksikal antara permukaan, yang kelihatannya bisa dikendalikan, dan proses yang menghasilkannya, yang mau tidak mau melibatkan kekerasan, dekontekstualisasi, miniaturisasi, dan lain sebagainya hingga derajat tertentu. Tindakan atau proses merepresentasikan sesuatu selalu berimplikasi kekuasaan, akumulasi, pemenjaraan, dan semacam pengasingan atau disorientasi tertentu yang dilakukan oleh pihak yang merepresentasikan.

Jalan keluar satu-satunya dari persoalan Nasionalisme ini adalah dengan membiarkan Marhaen dan Sarinah (kelompok subaltern) berbicara dan merepresentasikan diri mereka sendiri dan dengan demikian menjadi subjek bagi sejarahnya sendiri. Tapi persoalannya kemudian, bisakah subaltern berbicara? []GM Nur Lintang Muhammad