Andrés Mourenza

Memperbaiki Keretakan Hubungan Israel-Turki

Istanbul, Turki – Pemerintah Israel baru-baru ini menyatakan kesediaannya bekerja sama dengan tim investigasi PBB terhadap serangan ke Armada Pembebasan yang menewaskan delapan orang Turki dan seorang warganegara AS keturunan Turki. Namun, penegasan Ankara bahwa Israel harus mengakui perannya sebagai provokator dalam kejadian itu, dan pendirian Perdana Menteri Israel, Benyamin Netanyahu, yang menegaskan bahwa Israel memang terpaksa mengambil tindakan keras dalam kejadian armada kapal itu, telah semakin memperburuk hubungan di antara kedua sekutu utama Amerika Serikat di Timur Tengah itu.

Orang Turki semakin kesal dengan operasi Israel di Gaza dan Lebanon dalam beberapa tahun belakangan, yang telah mengganggu upaya-upaya Turki mendorong perdamaian di kawasan. Upaya itu termasuk revitalisasi proyek zona industri Erez di Israel – sebuah proyek yang akan memberi ratusan penduduk Gaza lapangan kerja – dan upaya-upaya para diplomat Turki untuk mendorong dialog antara pejabat Israel dan Syria.

Sementara, orang Israel dan beberapa kelompok dalam pemerintah Amerika Serikat dan Uni Eropa risau karena pemerintahan Perdana Menteri Turki, Recep Tayyip Erdogan, semakin akrab dengan kalangan konservatif Timur Tengah lantaran semakin seringnya kontak dengan pemerintah Iran dan Syria. Hal ini, ditambah dengan akar Islam politik dari pemerintahan Partai Keadilan dan Pembangungan (AKP) di Turki sekarang, telah menyebabkan kalangan sayap kanan dalam pemerintah Israel mencurigai bahwa motif Turki dalam memberikan bantuan rakyat Gaza lebih bersifat politis daripada kemanusiaan, sehingga malah menambah keretakan di antara kedua negara.

Dalam kondisi hubungan Israel-Turki sekarang, beberapa langkah perlu diambil untuk membantu menjalin kembali interaksi positif di antara masyarakat dan pemerintah kedua negara – dan memperbaiki iklim politik di Timur Tengah.

Langkah pertama menjalin kembali hubungan baik adalah pemerintah Israel meminta maaf lebih dulu kepada Turki atas insiden armada kapal itu. Pasca penyerangan itu, nasionalisme Turki tak bisa diabaikan, dan orang-orang Turki tak akan bisa segera melupakan kematian saudara sebangsa mereka dan serangan ke sebuah kapal yang membawa bendera Turki. Turki tak akan mengirim kembali duta besarnya ke Israel jika tidak ada permintaan maaf. Tanpa pengakuan dari pihak Israel, solidaritas kebangsaan di kedua negara bisa menghalangi keinginan masing-masing untuk memperbarui hubungan diplomasi.

Sementara itu, Netanyahu harus mempertimbangkan untuk mengakhiri blokade jalur Gaza, tidak hanya karena alasan kemanusiaan, tapi juga keuntungan dari kebijakan tersebut bagi membaiknya hubungan di kawasan maupun di tingkat global. Mengizinkan bantuan ke Gaza akan mengurangi kebencian terhadap Israel, tidak saja dalam opini publik orang Turki, tapi juga negara-negara tetangga Israel yang mayoritas penduduknya Muslim.

Di pihak Turki, Erdogan dan anggota kabinetnya harus dengan lapang hati menerima langkah ini dan menyatakan normalnya kembali hubungan kedua negara, sehingga retorika anti-Israel tidak makin berkembang, serta fokus kembali pada mediasi proses perdamaian dan proyek pembangunan yang membantu rakyat Palestina. Kedua pihak harus ingat akan kebutuhan jangka panjang untuk dialog yang berlanjutan. Ini amat penting bagi masa depan seluruh kawasan. Peran Ankara dalam mediasi Israel-Syria, misalnya, sangatlah menjanjikan dalam soal penyelesaian sengketa seputar Dataran Tinggi Golan.

Seperti dikatakan Presiden Syria Bashar al-Assad dalam kunjungannya ke Spanyol Juli lalu, Syria ingin melihat hubungan Turki-Israel membaik karena Turki memainkan peran yang paling vital dalam melanjutkan proses perdamaian Timur Tengah.

Pada saat yang sama, para pengusaha Turki yang berinvestasi di Israel juga mendesak pemerintah Turki untuk menyelesaikan krisis yang kini terjadi.

Baik Syria maupun Israel jangan sampai kehilangan Turki sebagai perantara perdamaian, karena kepentingan Turki menjadi sebuah kekuatan baru di kawasan, tergantung pada diplomasi yang sehat dengan Israel.

Uni Eropa mempunyai peran pula. Setiap kali Brussels menolak masuknya Turki ke Uni Eropa – pada 1989, 1997 dan mungkin sekali lagi dalam perundingan yang tengah berjalan – Ankara akan mengalihkan perhatian ke Timur, yang tidak diharapkan oleh Barat karena alasan-alasan geopolitik. Pendirian yang tegas dan inklusif Uni Eropa menyangkut masuknya Turki akan sangat membantu hubungan Turki-Israel, karena itu bisa menenangkan ketakutan Israel akan Turki yang lebih “menghadap timur”.

Turki masih menjadi perantara yang disegani untuk berbagai perselisihan di kawasan. Namun, tanpa menyelesaikan masalahnya dengan Israel, peran Ankara sebagai mediator mungkin akan melemah dalam beberapa konflik yang paling penting dan mendesak di sana.

* Andrés Mourenza adalah koordinator Eurasian Hub (www.eurasianhub.org) dan jurnalis Spanyol yang tinggal di Istanbul sejak 2005. Ia menulis untuk kantor berita Spanyol, EFE (www.efe.com) dan El Periodico de Catalunya (www.elperiodico.com). Artikel ini ditulis untuk Kantor Berita Common Ground (CGNews).