HMINEWS.COM- Tuan-tuan, kami bukanlah binatang yang bisa tuan jinakkan dengan aturan-aturan setan yang tuan buat sekehendak hati tuan. Kami ini manusia yang punya akal dan hati. Kami bisa memilih sendiri mana yang benar dan baik bagi kami. Tidak perlu tuan ajari dengan hukum dan pentung polisi. Jangan pernah mencoba untuk menggurui kami dengan pikiran-pikiran yang tuan bilang beradab dan modern itu. Kami lebih mengenal bau tanah dan sudut-sudut di desa kami.

Apa lagi?! Tuan ingin membicarakan kenakalan kami? Baik. Kejahatan yang kami lakukan hanya muncul karena kekuasaan yang tuan-tuan miliki. Harap tuan catat, kejahatan hanya muncul ketika ada kekuasaan yang melahirkan aturan dan pentungan !!! Tidakkah tuan belajar dari kisah adam dan hawa ?! Meraka hanya memetik buah larangan ketika setan menggodanya. Kita ini pada dasarnya hanif tuan. Hanya setan berupa kekuasaan yang membuat kami meninggalkan kehanifan kami. Demikian pula dengan tuan. Apakah tuan akan melenyapkan setan sejarah itu dengan pasukan yang dibentuk oleh setan?

Tuan mendakwahkan diri tuan sebagai penyelamat peradaban, sebagai pengatur dari masyarakat bar-bar yang bahkan tidak mengerti kebaikan untuk diri sendiri. Apakah tuan tidak sadar bahwa kekuasaan yang tuan miliki untuk mengatur dan menghukum kami yang bar-bar ini adalah sumber dari kebar-baran itu sendiri? Tuan hanya merepetisi sejarah kebodohon sejak zaman adam. Bahkan keledaipun tidak akan tersuruk pada lubang yang sama.

Mungkin tuan bisa berkilah kalau negara ini adalah negara demokrasi, tempat di mana kekuasaan tertinggi berada di tangan kami dan kami adalah penentu nasib dan masa depan kami sendiri. Kami-pun bebas bersaing mendapat keuntungan tanpa campur tangan negara. Tuan, otak kami tidak sebodoh dan sedungu yang tuan kira. Tolong, perlakukan kami sebagai manusia dan bukan sebagai anjing.

Demokrasi yang tuan sebut hanya bisa kami rayakan lima tahun sekali. Lima tahun sekali kami berpura-pura larut dalam pesta artifisial yang tuan persiapkan dengan megah. Kami tahu bahwa status kami hanyalah penggembira karena aktor utama hanyalah tuan-tuan pemodal dan mantan tentara. Tapi kami tetap berpura-pura bertepuk tangan meski tidak pernah kami diberi tempat untuk ikut bermain. Peluru dan kokang yang dibawa anjing tuan terlalu menakutkan bagi perut lapar kami. Demokrasi bagi kami hanyalah tai !!!

Dan apakah yang tuan sebut persaingan bebas itu? Tuan, bahkan anak kecil pun tahu kalau permainan catur disebut persaingan bebas karena kedua pemain punya jumlah bidak, benteng, kuda, mentri dan, ster yang sama. Tapi tuan, dalam permainan catur bernama globalisasi ini, kami hanya punya lima bidak sedangkan tuan-tuan kulit putih itu punya lima ster dan empat benteng. Persaingan bebas mana yang tuan maksudkan?!

Cukup sudah dengan omong kosong membosankan ini !!! Sekarang kami ingin menuntut.. Kami ingin kembali kepada hakikat hanif kami dengan menghapus setan sejarah bernama kekuasaan yang memaksa kami melakukan kejahatan.

Kekuasaan pertama adalah negara. Kami tidak pernah mengenal negara tuan. Nasionalisme bagi kami hanya bayangan yang tidak jelas bagaimana wujud serta bentuknya. Dia adalah omong kosong pria kulit putih bernama Gellner yang mengimpikan komunitas berdasarkan rasionalitas pembagian kerja industrial. Puih !!! Kami tidak berhubungan dengan tetangga kami hanya karena prinsip keuntungan dan kerugian tuan. Kami hanya ingin mengenal dan bersapa. Dan apa pula rasionalitas pembagian kerja itu? Apakah itu berarti bahwa sebagian besar dari kami seumur hidupnya akan tetap menjadi kuli yang khawatir akan makan apa esok hari? Sementara tuan-tuan asyik dengan caddy-caddy cantik yang setiap saat bisa tuan tiduri? Tuan, Indonesia sudah gagal. Buat apa dipertahankan?!

Tuan, kami hanya mengenal desa. Unit terkecil yang bisa kami diami, kami kenal, dan kami resapi makna setiap jengkalnya. Tidak ada batasan teritorial pada desa. Kami hanya mengenal patok, ukuran tidak jelas yang menjadi batas desa kami dengan desa tetangga. Kami sadar bahwa alam tidak pernah mengenal batas tanah melainkan batas rantai makanan. Dan batas-batas itu yang kami patuhi. Bukan batas teritorial berdasarkan kepimilikan tanah yang hanya akan mengundang darah. Kami tidak menginginkan nama besar dan kejayaan ruang kuasa global. Kami sadar bahwa menara tinggi-menara tinggi selalu disangga oleh darah dari lecutan komrador-komprador lokal.

Kekuasaan yang kedua adalah alat. Tuan, alat-alat yang tuan promosikan akan mempermudah hidup kami justru malah semakin mempersulit diri kami. Kami sudah terbiasa bertahun lamanya menggunakan cangkul dan bajak untuk bersapa dengan tanah di desa kami. Tapi tuan mengenalkan kami dengan traktor dan istilah mengolah dan menguasai tanah untuk perut yang lebih kenyang. Tuan, alam punya batasan sendiri yang harus dipatuhi. Traktor-traktor itu membuat tanah di desa kami kelelahan memproduksi padi. Dia merusak rantai makanan yang menjadi sumber kelestarian desa kami.

Di sisi lain, kami pun menjadi sangat bergantung pada kebaikan hati tuan-tuan berkulit putih ketika traktor itu rusak. Ini adalah bentuk kekuasaan yang paling kejam dan menindas. Kami ingin alat-alat yang bisa kami produksi dan perbaiki sendiri.

Kami sadar bahwa cangkul dan bajak tidak akan memproduksi sebanyak traktor-traktor yang tuan perkenalkan. Kami juga sadar bahwa cangkul dan bajak akan membiarkan kami kelaparan di tengah kemarau panjang. Tapi biarlah kami tetap menggunakan cangkul dan bajak. Cangkul dan bajak tidak akan membiarkan tanah di desa kami kelelahan menumbuhkan padi, saat cucu kami menggantikan ayahnya mencangkul dan membajak. Dan kelaparan pun sudah biasa kami jalani. Kelaparan mengingatkan kami akan untuk tidak tergoda pada keangkuhan yang melupakan batasan kami sebagai manusia yang bergantung pada alam.

Tuan, kami sudah muak dengan sabda kemajuan yang tuan dengungkan tiap hari di televisi. Kami menghitung hari tidak dengan perhitungan tanggal dan kemungkinan akumulasi modal yang biasa tuan lakukan. Bagi kami, hari ini adalah perulangan dari hari kemarin karena kami menghitung hari dengan musim. Pepatah hari ini harus lebih baik dari hari kemarin bagi kami bermakna sebagai semakin kayanya penghayatan kami akan tugas kami di muka bumi. Bahwa kami adalah makhluk terbatas yang tidak punya kemungkinan lain selain menghamba pada misteri kekuatan hidup dan alam yang biasa tuan sebut dengan kata tuhan. Bahwa satu-satunya kemungkinan bagi penghambaan itu adalah dengan turut berpartisipasi dalam harmoni alam, bukan dengan mengubah apalagi merusaknya demi kepentingan diri.

Tuan, biarkan kami mendiami bumi tanpa perlu menguasai. Ini harga mati !!!

GM Nur Lintang Muhammad

Mahasiswa UMY

Email : gmnurlintang@yahoo.co.id