Korupsi dan Politik Sektarian

HMINEWS.COM- Sekitar tahun 1993 Amien Rais berbicara di depan warga Muhammadiyah di Pontianak, kampung saya. Dia mengabarkan kondisi UII (istilah dia ketika itu), umat Islam Indonesia. Amien berkata kurang lebih begini. Mencermati komposisi kabinet yang terbaru kita bisa bernafas lega. Di masa lalu posisi-posisi penting di bidang perekunomian dikuasai oleh RMS (dikenal sebagai singkatan dari Republik Maluku Selatan), yaitu Radius (Prawiro), Mooy (Adrianus Mooy), Sumarlin. Kini yang berkuasa adalah Afif (Saleh Afif), Marie (Muhammad) dan Fuad (Bawazier), disingkat AMF. Yang bisa juga kita panjangkan menjadi Arab Mengurus Fulus, kata Amien sambil bercanda.

Pada intinya Amien sedang mengabarkan adanya perubahan dalam peta politik nasional. Apa perubahannya? Bahwa orang-orang Islam mulai diberi tempat di posisi strategis, yang selama ini justru dipegang oleh minoritas Kristen. Perubahan itu dianggap sebagai perubahan seorang Soeharto, dari seorang abangan yang dekat dengan kalangan Kristen, menjadi seorang muslim yang saleh.

Di masa-masa itu umat Islam memang dianggap sedang berbulan madu dengan kekuasaan. Dimulai dengan berdirinya ICMI yang kemudian membawa dampak pada komposisi kabinet tadi, juga pergi hajinya Soeharto, sampai ke hal yang tetek bengek seperti pelajaran bahasa Arab di TVRI. Semua ini dianggap sebagai hadiah bagi umat Islam, setelah sekian lama mereka disudutkan dan dipinggirkan oleh pemerintah Orde Baru.

Masih dalam periode yang sama. Suatu ketika, sebagai aktivis Jamaah Shalahuddin UGM saya pernah pergi menjemput Lukman Harun ke bandara. Sepanjang perjalanan kami berbincang santai. Salah satu ungkapan Lukman adalah kritik terhadap para mahasiswa. Kalian para mahasiswa sibuk meributkan kolusi keluarga Soeharto. Ingat, kalau anak-anak Soeharto kaya, mereka membangun mesjid. Nah, kalau Cina-cina itu, mereka membangun gereja!

Di lain kali ada pula seorang cendekiawan yang bercerita bagaimana religiusnya seorang Tomy Soeharto.

Begitulah. Saya melihat orang-orang begitu gampang memaafkan perilaku korup, termasuk yang sudah menggurita seperti yang dilakukan oleh Soeharto dan keluarganya. Soeharto bisa dimaafkan hanya karena dia terlihat lebih dekat ke kelompok Islam.

Karena kesal dengan itu semua, saya mengejek Amien Rais ketika dia mulai menggulirkan isu suksesi. Tahun 1994 dalam sebuah diskusi di Gelanggang Mahasiswa UGM saya terang-terangan menyebut Amien Rais sebagai pahlawan kesiangan, karena sebelum itu Muhammadiyah menyatakan dukungan terhadap pencalonan kembali Soeharto. Amien ketika itu adalah salah seorang Ketua PP Muhammadiyah.

Apa yang membuat mereka jadi demikian pemaaf? Sektarianisme. Maaf kalau istilah ini tidak tepat. Saya tidak akan rumit-rumit dengan istilah. Sederhananya, sejauh kelompok saya diuntungkan, atau sedikit lebih diuntungkan, maka saya akan mendukung (Soeharto). Tidak peduli apakah kekuasaan Soeharto itu korup atau tidak.

Sejauh pengamatan saya, itu berlaku di setiap kalangan. Sedikit orang yang mau mengambil resiko melawan Soeharto. Yang banyak adalah yang bertarung di tingkat bawah, berebut kuasa di bawah kaki Soeharto.

Soeharto mengambil keuntungan dari pola fikir itu. Dia ciptakan hantu-hantu di bawahnya. Salah satunya adalah L.B. Moerdani. Orang Islam percaya bahwa Moerdani itu orang kuat, yang siap menggulingkan Soeharto kalau ada kesempatan. Dan dia Kristen. Artinya, kalau Soeharto tidak didukung, bisa-bisa dia dijatuhkan oleh Moerdani, dan Indonesia akan dipimpin oleh seorang Kristen.

Di berbagai tingkat pola fikirnya demikian. Seorang kepala daerah didukung hanya karena dia beragama Islam. Selebihnya bisa diabaikan. Seorang teman dekat saya, juru bicara sebuah organisasi Islam pernah memuji Sutioso, hanya karena Sutiyoso menutup lokalisasi Kramat Tunggak.

Tentu bukan orang tak sadar bahwa Soeharto itu korup. Sebagian mereka hanya berpuas dengan menjadi sub-ordinat di bawah Soeharto. Sebagian lain menikmati posisi sebagai bagian dari kekuasaan dengan memberi pembenaran atas kelakuan Soeharto dan kroninya. Lukman Harun, misalnya, terakhir tercatat sebagai anggota DPR dari Golkar hasil pemilu 1999. Kerabat dekatnya Din Syamsudin yang sekarang Ketua Umum PP Muhammadiyah adalah salah seorang pengurus Golkar, dan pernah jadi Dirjen di salah satu departemen.

Jadi, kalau kita bertanya, mengapa korupsi demikian meraja lela, itu karena kita membiarkannya. Dan selama pola fikir kita masih sektarian seperti para pemimpin yang saya sebut tadi, maka korupsi tak akan bisa diberantas. Lebih tegas lagi hendak saya katakan bahwa musuh orang Islam Indonesia bukanlah orang Kristen, Hindu, Budha, tapi orang korup!

Kang Hasan

h.abdurakhman@gmail.com