Endi Biaro

Ruhut Sitompul kembali berkicau. Kali ini tentang usulan Amandemen Konstitusi. Tentang pasal yang membatasi periode jabatan Presiden. Sesungguhnya desas-desus tentang perkara ini sudah berhembus jauh-jauh hari. Tetapi, “meledak” karena Ruhut.

Tak ada pelajaran penting apa pun bila diskusi mengarah kepada Amandemen. Karena, jika itu dilakukan, demokrasi kita tumpas terlalu cepat. Jauh lebih elok mengulik isu Ruhut itu dari aspek lain. Semisal dari sisi komunikasi politik (pencitraan politik).

Salah satu pihak yang potensial menjadi korban politik pencitraan kelas tinggi adalah ini: para pelakunya sendiri. Jauh-jauhlah berharap bahwa Ruhut Sitompul adalah salah satu orang yang sadar akan ancaman ini. Mengingat tokoh pemeran Poltak ini hanya tahu satu hal: hedonisme politik!

Hedonisme adalah praktek bersenang-senang secara liar tanpa peduli nasib orang lain. Filsafat hedonisme tak kenal baik dan buruk kecuali mencandu kepuasan sedalam-dalamnya. Sementara hedonisme politik adalah praktek menguras habis, memanfaatkan, memanipulasi, dan mencampakkan kepatutan, hanya demi mencapai ekstase (kesenangan) tanpa batas. Dan, politisi Partai Demokrat yang kerap berulah minor ini secara sempurna menjadi politisi hedonis, baik dalam perilaku, gaya hidup, maupun kejahatan politik sekaligus.

Apa yang Dilakukan Ruhut?

Ia menguras habis kebencian publik dan antipati terhadap arogansinya justru untuk kesenangan pribadi –dan mungkin juga dinikmati beberapa kolega dekatnya. Tokoh Poltak dalam tayangan Sinetron Teleivisi ini selalu sukses menghisap energi negatif masyarakat (rasa jengkel, muak, enek), untuk kemudian dipermain-mainkan sekehendak hati. Misalnya diarahkan untuk mengalihkan perhatian. Misalnya diarahkan untuk mengabaikan sesuatu yang jauh lebih penting dicerca atau dicaci publik. Tetapi, yang paling keji, Ruhut menghisap energi negatif masyarakat untuk kemudian ia muntahkan ke lawan-lawan politiknya.

Tetapi, jauh lebih menggilas nalar sehat kita adalah bahwa “tokoh” Ruhut ini kemudian menjadi peliharaan penguasa. Ia sungguh bermanfaat demi menyempurnakan agenda pencitraan para penguasa. Ruhut kerap menjadi “the trigger” –pelatuk isu yang kemudian dibungkus dengan jawaban-jawaban plastis (sangat lentur dan plin-plan). Ruhut juga enjoy melakukan “test the water”, menguji suasana dan mood politik bangsa ini. Ruhut, terkadang juga berposisi sebagai “the ice breaker”, pemecah kebekuan politik yang kadang muncul.

Tak mungkin penguasa besar dan partai besar diam bila tak menangguk untung dari kadernya ini. Sekurangnya, mereka merasa perlu memiliki orang-orang seperti Ruhut. Terlebih poros politik bangsa ini lebih sering bergolak dengan mengandalkan “okol” daripada “akal”.

Bagian awal artikel ini menyebut bahwa setiap orang berpeluang menjadi korban atas politik pencitraan yang dimainkan. Dalam tafsiran matematika politik gaya Ruhut adalah surplus untuk (partai) pengausa. Tetapi, dalam tafsiran rasionalitas politik gaya Ruhut menyimpan sejumlah risiko.

Pertama, Ruhut berada dalam perahu besar yang selalu mulus melenggang. Mereka nyaris tak ada lawan seimbang. Ini menggiring pihak-pihak itu menjadi “gigantis”. Menjadi merasa besar, tambun, dan hilang kreativitas –jangan tanya soal sensitivitas, partai besar ini bahkan tak pernah bicara soal teror tabung gas!

Kedua, Ruhut dan perahu besarnya (termasuk Pak Nahkoda yang selalu dicitrakan bijaksana),  karena terlalu senang dengan rangkaian kemenangan, “digilai” jutaan fans, mereka menjadi narsis! Ingat, perilaku narsis bukan hanya senang dengan “ketampanan” diri sendiri, melainkan juga senang “menyakiti para pecintanya”. Sama persis dengan legenda Narcisus yang dikutuk oleh pemujanya –yang bernama Echo. Konon, Dewi Echo yang mengejar-ngejar Narcisus menjadi dendam karena selalu diabaikan.

Dua penyakit ini, narsis dan gigantis, yang kelak akan dinikmati para penguasa dan partai penguasa yang terlanjur mabuk pencitraan. Mereka menjadi tak bisa melihat sebuah proses yang normal dan dinamik. Segalanya harus by setting dan by design.

Lawan politik, kritik politik, dan musuh politik dipersilahkan hadir. Asalkan melalui rekayasa pencitraan. Akhirnya, yang muncul adalah seolah-olah lawan politik, seolah-olah kritik politik, padahal semuanya semu.

Terakhir, perilaku Ruhut  diam-diam mengirimkan pesan tentang segara matinya gagasan politik orisinal di negeri ini.

Gagasan mengamandemen konstitusi, seperti disampaikannya, seharusnya bisa berlangsung wajar dan orisinal –jika saja disampaikan oleh orang lain. Tetapi, di tangan Ruhut, gagasan ini mati, karena orang terlanjur apriori. Publik terlanjur jengah. Gagasan Ruhut bukan orisinal, tidak cerdas, dan manipulatif. Inilah yang kemudian membuat banyak pihak meradang.

Semua yang diperlihatkan Ruhut dan para elit penguasa republik ini adalah hedonisme politik tanpa batas. Mereka bersenang-senang di atas kemarahan rakyat. Mereka tanpa henti mempermainkan opini, persepsi, dan memori publik. Akal sehat dicampakkan. Tugas kita, tentu saja, menjaga agar rasio tetap jernih. Itu saja.

* Tulisan ini juga pernah di muat di media Detik.Com pada Rabu, 25/08/2010

Endi Biaro
Balaraja Tangerang Banten
rendi_biaro@yahoo.co.id

Ruhut Sitompul kembali berkicau. Kali ini tentang usulan Amandemen Konstitusi. Tentang pasal yang membatasi periode jabatan Presiden. Sesungguhnya desas-desus tentang perkara ini sudah berhembus jauh-jauh hari. Tetapi, “meledak” karena Ruhut.

Tak ada pelajaran penting apa pun bila diskusi mengarah kepada Amandemen. Karena, jika itu dilakukan, demokrasi kita tumpas terlalu cepat. Jauh lebih elok mengulik isu Ruhut itu dari aspek lain. Semisal dari sisi komunikasi politik (pencitraan politik).

Salah satu pihak yang potensial menjadi korban politik pencitraan kelas tinggi adalah ini: para pelakunya sendiri. Jauh-jauhlah berharap bahwa Ruhut Sitompul adalah salah satu orang yang sadar akan ancaman ini. Mengingat tokoh pemeran Poltak ini hanya tahu satu hal: hedonisme politik!

Hedonisme adalah praktek bersenang-senang secara liar tanpa peduli nasib orang lain. Filsafat hedonisme tak kenal baik dan buruk kecuali mencandu kepuasan sedalam-dalamnya. Sementara hedonisme politik adalah praktek menguras habis, memanfaatkan, memanipulasi, dan mencampakkan kepatutan, hanya demi mencapai ekstase (kesenangan) tanpa batas. Dan, politisi Partai Demokrat yang kerap berulah minor ini secara sempurna menjadi politisi hedonis, baik dalam perilaku, gaya hidup, maupun kejahatan politik sekaligus.

Apa yang Dilakukan Ruhut?

Ia menguras habis kebencian publik dan antipati terhadap arogansinya justru untuk kesenangan pribadi –dan mungkin juga dinikmati beberapa kolega dekatnya. Tokoh Poltak dalam tayangan Sinetron Teleivisi ini selalu sukses menghisap energi negatif masyarakat (rasa jengkel, muak, enek), untuk kemudian dipermain-mainkan sekehendak hati. Misalnya diarahkan untuk mengalihkan perhatian. Misalnya diarahkan untuk mengabaikan sesuatu yang jauh lebih penting dicerca atau dicaci publik. Tetapi, yang paling keji, Ruhut menghisap energi negatif masyarakat untuk kemudian ia muntahkan ke lawan-lawan politiknya.

Tetapi, jauh lebih menggilas nalar sehat kita adalah bahwa “tokoh” Ruhut ini kemudian menjadi peliharaan penguasa. Ia sungguh bermanfaat demi menyempurnakan agenda pencitraan para penguasa. Ruhut kerap menjadi “the trigger” –pelatuk isu yang kemudian dibungkus dengan jawaban-jawaban plastis (sangat lentur dan plin-plan). Ruhut juga enjoy melakukan “test the water”, menguji suasana dan mood politik bangsa ini. Ruhut, terkadang juga berposisi sebagai “the ice breaker”, pemecah kebekuan politik yang kadang muncul.

Tak mungkin penguasa besar dan partai besar diam bila tak menangguk untung dari kadernya ini. Sekurangnya, mereka merasa perlu memiliki orang-orang seperti Ruhut. Terlebih poros politik bangsa ini lebih sering bergolak dengan mengandalkan “okol” daripada “akal”.

Bagian awal artikel ini menyebut bahwa setiap orang berpeluang menjadi korban atas politik pencitraan yang dimainkan. Dalam tafsiran matematika politik gaya Ruhut adalah surplus untuk (partai) pengausa. Tetapi, dalam tafsiran rasionalitas politik gaya Ruhut menyimpan sejumlah risiko.

Pertama, Ruhut berada dalam perahu besar yang selalu mulus melenggang. Mereka nyaris tak ada lawan seimbang. Ini menggiring pihak-pihak itu menjadi “gigantis”. Menjadi merasa besar, tambun, dan hilang kreativitas –jangan tanya soal sensitivitas, partai besar ini bahkan tak pernah bicara soal teror tabung gas!

Kedua, Ruhut dan perahu besarnya (termasuk Pak Nahkoda yang selalu dicitrakan bijaksana),  karena terlalu senang dengan rangkaian kemenangan, “digilai” jutaan fans, mereka menjadi narsis! Ingat, perilaku narsis bukan hanya senang dengan “ketampanan” diri sendiri, melainkan juga senang “menyakiti para pecintanya”. Sama persis dengan legenda Narcisus yang dikutuk oleh pemujanya –yang bernama Echo. Konon, Dewi Echo yang mengejar-ngejar Narcisus menjadi dendam karena selalu diabaikan.

Dua penyakit ini, narsis dan gigantis, yang kelak akan dinikmati para penguasa dan partai penguasa yang terlanjur mabuk pencitraan. Mereka menjadi tak bisa melihat sebuah proses yang normal dan dinamik. Segalanya harus by setting dan by design.

Lawan politik, kritik politik, dan musuh politik dipersilahkan hadir. Asalkan melalui rekayasa pencitraan. Akhirnya, yang muncul adalah seolah-olah lawan politik, seolah-olah kritik politik, padahal semuanya semu.

Terakhir, perilaku Ruhut  diam-diam mengirimkan pesan tentang segara matinya gagasan politik orisinal di negeri ini.

Gagasan mengamandemen konstitusi, seperti disampaikannya, seharusnya bisa berlangsung wajar dan orisinal –jika saja disampaikan oleh orang lain. Tetapi, di tangan Ruhut, gagasan ini mati, karena orang terlanjur apriori. Publik terlanjur jengah. Gagasan Ruhut bukan orisinal, tidak cerdas, dan manipulatif. Inilah yang kemudian membuat banyak pihak meradang.

Semua yang diperlihatkan Ruhut dan para elit penguasa republik ini adalah hedonisme politik tanpa batas. Mereka bersenang-senang di atas kemarahan rakyat. Mereka tanpa henti mempermainkan opini, persepsi, dan memori publik. Akal sehat dicampakkan. Tugas kita, tentu saja, menjaga agar rasio tetap jernih. Itu saja.

Endi Biaro
Balaraja Tangerang Banten
rendi_biaro@yahoo.co.id