HMINEWS.COM

 Breaking News

Epistemologi Gosip

August 09
08:34 2010

Opini, HMINEWS.COM- Beberapa waktu yang lalu, ketika acara-acara gosip sedang marak di stasiun-stasiun televisi di Indonesia, banyak teman mahasiswa menulis tentang budaya tingkat rendah yang hanya berorientasi pasar dari acara gosip tersebut, sehingga dengan demikian, acara gosip tersebut tidak layak tonton bagi mahasiswa yang bercirikan intelektualitas.

Opini super singkat ini tidak bermaksud untuk mengulangi apa yang sudah disampaikan oleh teman-teman yang lain. Jujur saja, entah kenapa saya menikmati waktu yang saya habiskan untuk menonton acara gosip. Mungkin karena saya bukanlah mahasiswa dengan tingkat intelektualitas tinggi sehingga bisa melihat pertunjukan kemahatololan—meminjam istilah Adrea Hirata yang sering diulang-ulang di tertralogi Laskar Pelanginya—dan kemubadziran yang berada di balik tayangan gosip. Atau mungkin mekanisme hasrat bawah sadar saya yang menghasrati superioritas—sedangkan dalam realitas keseharian saya termasuk subjek yang inferior—membutuhan semacam legitimasi, minimal pada diri saya sendiri sehingga ketika melihat ‘yang Lain’ (dengan L besar) rumah tangganya berantakan, kena kasus narkoba dan seterusnya, saya bisa merasa superior.

Alih-alih berusaha menunjukkan ketidakjelasan epistemologis dari acara gosip dan dengan demikian ia merupakan budaya rendahan produk absurditas modernitas, argumentasi singkat saya ini ingin menunjukkan bahwa semuanya tidak lebih dari gosip yang tidak jelas asal-usulnya. Ada gosip bernama pemanasan global, ada gosip bernama globalisasi dan kapitalisme global, ada juga yang berjudul demonologi Islam oleh Amerika. Atau jangan-jangan yang namanya Islam itu juga gosip? Tapi entahlah, yang jelas tulisan berjudul ‘epistemologi gosip’ ini juga merupakan gosip yang asal-usul epistemologisnya juga gosip. Sehingga dengan demikian, Anda boleh memercayai kalau tulisan ini hanya gosip dan Anda pun tidak mempercayai kesimpulannya. Tapi wapadalah karena besar kemungkinan kepercayaan Anda itu juga gosip!

Berasal dari kata epiteme dan logos, epistemologi sederhananya berarti teori pengetahuan, atau dalam bahasa saya pengetahuan meta pengetahuan. Di level ini, kita tidak akan membahas tentang apa pengetahuan yang kita punya dan bagaimana memanfaatkannya dalam realitas keseharian kita. Karena kita membahas meta pengetahuan, maka yang dibahas di sini adalah pengetahuan itu sendiri. Misalnya, dari mana pengetahuan itu berasal, melalui apa pengetahuan tentang objek yang di luar diri bisa diketahui, bagaimana hubungan antara diri subjek berpengetahuan dengan objek yang diketahui, dan seterusnya. Pada umumnya, pembahasan tentang epistemologi berpusat pada pertanyaan seputar bagaimana dan melalui medium apa pengetahuan dibangun?

Sejarah pemikiran filsafat menunjukkan pada kita bahwa terdapat dua aliran besar yang berdebat untuk menjawab pertanyaan ini. Aliran pertama menjawab pertanyaan ini dengan empirisme dan yang kedua menjawabnya dengan rasionalisme. Meskipun belakangan terdapat epitemologi alternatif yaitu epistemologi wahyu dan bahasa, saya hanya akan membahas perdebatan rasionalisme dan empirisme karena kita hidup dalam dunia positivis yang setiap klaim kebenaran harus diverifikasikan dengan bukti empiris dan rasional.

Empirisme mempostulatkan satu-satunya sumber kebenaran yang valid dan reliable adalah kebenaran empirik. Oleh karena itu, indra adalah satu-satunya alat sah untuk membangun pengetahuan. Jika mata saya hari ini melihat bunga mawar dalam keadaan masih mengkuncup, kemudian hari berikutnya bunga itu mekar dan lusa bunga itu berguguran, maka memang itulah yang terjadi. Implikasi dari pandangan ini jelas bertabrakan dengan pandangan rasional.

Rasionalisme merumuskan bahwa yang rasionallah yang nyata. Data empirik dari kasus mawar tadi menyiratkan adanya sutau keberubahan, sesuatu yang berubah mensyaratkan adanya hal yang baru, dan hal yang baru adalah sesuatu yang tiba-tiba muncul dari ketiadaan. Sesuatu yang baru inilah yang tidak masuk akal, bagaimana sesuatu tiba-tiba muncul dari ketiadaan? Sesuatu pasti mempunyai asal! Oleh karena itu, indra menipu kita dengan menunjukkan bahwa mawar itu berubah, yang nyata adalah yang rasional.

Dua aliran besar filsafat episteme yang jelas-jelas bertentangan ini anehnya kemudian disatukan dalam tradisi positivisme. Dalam tradisi ini kita mengenal model penelitian cartesian-newtonian di mana suatu penelitian dibangun dari suatu hipotesis rasional yang kemudian diverifikasi melalui data empirik. Tetapi perlu dicatat di sini bahwa rasionalitas hipotesa yang dibuat seorang peneliti akan runtuh ketika data empirik menunjukkan sebaliknya. Artinya pengetahuan positivis dibangun dengan epistemologi empirisme. Dan inilah yang membangun pengetahuan yang sah tentang dunia sehingga dibangunlah oposisi biner realitas/gosip di mana terdapat hierarki bahwa yang pertama adalah lebih unggul dari yang kedua. Atas dasar hierarki inilah kemudian berita-berita di televisi, koran dan internet lebih unggul dari gosip, karena berita itu didasarkan atas data empirik yang valid sehingga bisa dipertanggung jawabkan, berbeda dengan gosip yang hanya merupakan kumpulan praduga atas fakta-fakta parsial yang dihubung-hubungkan dengan imajinasi.

Tetapi masalahnya adalah apakah benar data-data empirik itu menunjukkan pengetahuan yang benar mengenai objek pada dirinya sendiri (das ding an sich)? Apakah objek memang benar-benar berada di luar subjek sehingga pengetahuan atas objek bisa dikonstruksi tanpa konstruksi kaca mata kuda subjek? Apakah media yang menghubungkan antara subjek dengan objek tidak berperan apapun dalam konstruk pengetahuan objek yang dihasilkan subjek? Lalu persoalan yang lebih rumit kemudian, apakah media yang digunakan subjek untuk merepresentasikan pengetahuannya tentang objek adalah media yang benar-benar ‘representatif’?

Jika Anda melihat kaca yang menempel di tembok kamar Anda, apakah yang Anda lihat itu memang benar-benar kaca? Bukankah yang Anda lihat adalah bagian depan kaca dan bukan kaca itu sendiri? Di sini sudut pandang subjek sudah mulai mengkonstruksi pengetahuan tentang objek meskipun contoh ini sangat kasar. Mata saya, yang berfungsi sebagai media yang menghubungkan saya dengan kaca sangat dipengaruhi oleh cahaya sebagai medium lain. Kalau cahayanya terang, maka kulit saya pun tampak lebih putih dari yang sebenarnya, demikian pula sebaliknya. Mohon maaf, meskipun sekali lagi contoh ini terlalu kasar, tapi ini menunjukkan kalau medium yang menghubungkan subjek dengan objek ikut mengkonstruksi bangunan pengetahuan tentang objek. Nah, sekarang kenapa Anda, untuk merepresentasikan penglihatan Anda pada kaca itu, Anda menggunakan kata kaca? Apakah kata kaca itu benar-benar representatif untuk menggambarkan kaca das ding an sich? Bukankah kaca itu bisa dinamakan sebagai alat bunuh diri misalnya? Di sini, media yang digunakan subjek untuk merepresentasikan pengetahuannya tentang objek justru malah menciptakan realitasnya sendiri yang berada di luar objek yang direpresentasikannya.

Tidak ada alasan bagi saya untuk menyusun hierarki berita/gosip karena semuanya hanyalah gosip. Pengetahuan parsial saya tentang kaca yang terlihat oleh mata saya dan fungsinya saya hubung-hubungkan dengan imajinasi saya sehingga saya menamai ‘kaca’ sebagai ‘kaca’. Bahkan kaca pun gosip, apalagi….. Saya dan kita hidup di dunia gosip dan tidak mau mengakuinya karena mekanisme bawah sadar yang selalu ingin menjadi superior (atas objek yang ingin diketahui, dalam konteks ini) sehingga kita membuat hierarki berita/gosip. Marilah kita rayakan kematian realitas dan hidup dalam ironi ketidakjelasan gosip.

Wallahu a’lam bi al-shawab.

GM Nur Lintang Muhammad
Email:     gmnurlintang@yahoo.co.id

About Author

Redaksi

Redaksi

Related Articles

0 Comments

No Comments Yet!

There are no comments at the moment, do you want to add one?

Write a comment

Write a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.