HMINEWS.COM- Drama perusakan citra Islam kembali ditampilkan oleh pihak penguasa melalui institusi Kepolisian, dalam hal ini oleh Detasemen 88. Setelah mereka melakukan penangkapan dan pembunuhan ditempat terhadap orang-orang yang disangka teroris tanpa ada proses hukum yang jelas, tanggal 9 Agustus 2010 lalu, Detasemen 88 kembali menangkap Ustadz Abu Bakar Ba’asyir untuk yang kelima kalinya.

Sebagaimana biasanya, proses penangkapan dipertontonkan melalui media televisi (terutama TVone) kepada khalayak ramai. Masyarakat kembali dipertontonkan kepada kepongahan dan arogansi institusi negara yang bernama POLRI tersebut atas umat Muslim yang tidak berdaya. Secara kasat mata, masyarakat tahu, betapa proses penangkapan tersebut didramatisir sedemikian rupa sehingga mengesankan bahwa Ustadz Abu adalah sosok teroris besar. Bahkan, terhadap seorang ustadz yang usianya sudah melebihi 70 tahun tersebut, Kepolisian bertindak sangat pongah, belum lagi tindakan mereka di jalan-jalan terhadap rakyat biasa.

Masyarakat umum sebenarnya sudah mengetahui, betapa Kepolisian adalah salah satu institusi paling korup di negeri ini. Aksi-aksi sok ‘heroik’ mereka dalam menangkap dan membinasakan anak-anak muda Islam (yang mereka sebut sebagai teroris) barangkali adalah bagian dari cara Kepolisian untuk mencari muka agar masyarakat simpatik. Namun sesungguhnya masyarakat juga sudah tahu bahwa sesungguhnya mereka tidak bekerja mewakili bangsa Indonesia. Detasemen 88 adalah lembaga Kepolisian yang dibentuk atas pesanan dari Amerika. Sebagai lembaga boneka Amerika, sudah tentu mereka mendapat kucuran dana operasional yang tidak sedikit dan harus sukses membasmi apa yang mereka sebut sebagai ‘teroris’.

Patut disayangkan, masih ada bagian dari bangsa ini yang masih suka menghamba pada bangsa asing sebagaimana zaman kompeni dulu. Dan lembaga tersebut adalah institusi negara (Kepolisian) yang mustinya punya tugas utama melindungi masyarakatnya. Lebih sayang lagi, penghambaan ini juga diperkuat oleh pimpinan tertinggi bangsa ini (presiden).

Oleh karena ini, atas penangkapan terhadap Ustadz Abu Bakar Ba’asyir oleh Detasemen 88, Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI) melalui press release yang diterima redaksi HMINEWS.COM kamis (12/8/10), menyatakan sangat menolak dan mengutuk penangkapan tersebut. PB HMI meminta agar Ustadz Abu segera dilepaskan ke tengah masyarakat dan dibebaskan dari segala tuntutan.

PB HMI dengan ini meminta agar Detasemen 88 dibubarkan, karena hanya menjadi kaki tangan bangsa asing yang sedang melakukan perusakan terhadap Islam dan bangsa Indonesia. Kepada seluruh jajaran penguasa Indonesia, terutama Presdiden, agar tidak menjadi hamba bangsa asing. Bekerjalah dan mengabdilah untuk bangsa sendiri, kata M.Chozin, Ketua Umum PB HMI. []ham