HMINEWS.COM- Center for Information and Development Studies (CIDES) mengusulkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sebagai Bapak Kesejahteraan. Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat itu dinilai telah banyak menggulirkan program-program pro rakyat. Namun PDI Perjuangan dan para aktivis  menilai, hasil kerja di bawah kepemimpinan SBY belum menunjukkan hasil yang optimal, dan dia tak pantas disebut bapak kesejahteraan karena jumlah miskin meluap dan kesenjangan maya-miskin melebar.

Sekjen PDI Perjuangan Tjahjo Kumolo memandang, usulan tersebut sah-sah saja diusulkan oleh kelompok masyarakat. “Tetapi saya kira Bapak SBY belum berkenan menerimanya,” kata Tjahjo, Jumat (13/8/2010), dalam pesan singkatnya kepada pers.

CIDES  menilai, peningkatan kesejahtearan rakyat belum sepenuhnya terealisasi sebagaimana janji kampanye pada pemilihan presiden dan pidato pelantikan presiden periode kedua.

PDI Perjuangan menilai, hasil kerja di bawah kepemimpinan SBY belum menunjukkan hasil yang optimal. “Angka kemiskinan masih cukup tinggi dan angka pengangguran belum menunjukkan perbaikan dan penurunan yang signifikan. Utang negara juga masih cukup tinggi,” ujar Tjahjo yang juga menjabat Ketua Fraksi PDI Perjuangan.

Selain itu, program-program kesejahteraan rakyat yang diluncurkan seperti PNPM dan dana BOS masih menggunakan dana hutang dan belum mendapatkan dana mandiri.

Tjahjo mengusulkan, usul tersebut bisa disampaikan kembali saat berakhirnya jabatan SBY pada 2014 mendatang. “Sambil kita evaluasi kembali keberhasilan Beliau selama 10 tahun pemerintahannya,” kata Tjahjo.

Megawati Soekarnoputri adalah oposisi diam yang memiliki basis sosial di kalangan nasionalis sekuler. Mega sukses melaksanakan pemilu yang demokratis, tertib dan damai tahun 2004, dan SBY yang memenangkan pemilihan presiden tahun 2004 itu. Megawati adalah Ibu Demokrasi dan Oposisi, lantas legasi SBY sebagai apa?

Buya Ahmad Syafii Maarif, Ketua Umum DPP PDI-P Megawati Soekarnoputri, mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Amien Rais, Prof Mochtar Pabottingi dari LIPI, Persatuan Purnawirawan Angkatan Darat (PPAD), dan Diskusi Panel Ahli Harian ‘’Kompas’’ menegaskan bahwa di era kekuasaan SBY-Boed, pemerintahan kacau, reformasi kehilangan fokus dan mati suri, ekonomi makin merisaukan dan kehilangan arah, rakyat tidak sejahtera, neoliberalisme menguat, kemiskinan meluas dan korupsi merajalela serta jurang kaya-miskin melebar pula. Tanggung jawab siapa tertinggi?

Secara terpisah, peneliti senior PSIK Universitas Paramadina Herdi Sahrasad dan Direktur Center for Information and Developmen Studies (CIDES) Ricky Rachmadi menyatakan, legasi dari kepemimpinan Bung Karno telah di kenang sebagai Bapak Kemerdekaan, Pak Harto sebagai Bapak Pembangunan, walaupun pendek usia kekuasaan Pak Habibie di kenang sebagai Bapak Reformasi yang memberikan kebebasan Pers, Megawati Ibu Demokrasi dan Oposisi, Gus Dur Bapak Pluralisme. “Nah bila sampai akhir jabatannya nanti, apa legasi Presiden SBY?” tanya Ricky.

Legasi SBY akan menjadi Bapak Kesejahteraan atau apa? ‘’Jika SBY gagal mewujudkan kesejahteraan, sementara korupsi dan kemiskinan menggila, maka SBY akan dikenang legasinya sebagai presiden kegagalan, peragu, pelemah dan gagal menuntaskan skandal Century secara terang benderang. Atau dia dicap sebagai penguasa yang terdampak Centurygate dan banyak bencana,’’ kata Harys Moti dari Petisi 28 dan Adhie Massardi dari Gerakan Indonesia Bersih.

‘’Boediono bakal dikenang sebagai Bapak Skandal Century, Sri Mulyani adalah Srikandi Skandal Century, Darmin Nasution dan Marsillam Simanjuntak terlibat sebagai aktor dalam kasus ini. Lantas legasi SBY apa?,’’ kata Adhie.

Jika SBY mampu menuntaskan skandal Century, maka SBY akan dilihat sebagai Bapak pelopor antikorupsi.  ‘’ Namun jika SBY gagal mewujudkan kesejahteraan, gagal tuntaskan Century dan korupsi, maka legasi SBY adalah buruk : kegagalan dan transisi berkepanjangan, bapak pencitraan dan penebar pesona hampa, bapak wacana yang sia-sia,’’ kata Darmawan Sinayangsah, seorang peneliti dan bekas aktivis Fisip UI.

‘’Dengan segenap kelebihan dan kekurangannya, Megawati adalah Ibu Demokrasi sekaligus Ibu oposisi. SBY masih mencari bentuk dan mungkin dibayangi kegagalan karena ia lemah dan gamang dalam memimpin perekonomian dan pemberantaankorupsi,  serta tidak didukung civil society karena ia terkesan tak butuh merangkul elite civil society ( masyarakat madani) dalam kabinetnya, dan ia  hanya didukungi elite (parpol) yang oportunis dan miskin visi ,’’ kata Herdi Sahrasad, peneliti senior Pusat Studi Islam dan Kenegaraan (PSIK) Universitas Paramadina, Jakarta.

Secara terpisah, para pengamat melihat SBY-Boed dan rakernas gubernur di Bogor tak ada greget, reformasi seakan kehilangan gaung dan para pemimpin pemerintah daerah umumnya hanya kejar setoran dan uang demi mengembalikan modal pilkada mereka. Reformasi sudah tak disentuh lagi, bahkan dikesampingkan, termasuk reformasi birokrasi dan reformasi budaya. ‘’SBY hanya pemimpin citra dan wacana belaka, yang membuat transisi berkepanjangan, SBY belumberhasil,’’ kata Ray Rangkuti. []rimanews/dni