HMINEWS.COM- Kalau dengar kata Puasa, tentu untuk sebagian orang akan tersenyum, dan sebagian lain akan mengerutkan dahi dan malah sebagian yang lain malah akan cuek saja. Karena memang Puasa hanya untuk orang-orang yang percaya kepada-Nya. Puasa (bahasa Arab: صوم) secara bahasanya boleh diartikan sebagai menahan diri. Dari istilah syara’ berarti menahan diri daripada makan dan minum untuk suatu jangka waktu tertentu.

Puasa dalam artian menahan diri untuk tidak makan dan minum, serta segala perbuatan yang bisa membatalkan puasa, mulai dari terbit fajar sampai terbenam matahari. Dalam ajaran Islam Puasa tidak hanya menahan lapar dan haus, namun juga harus bisa menahan diri daripada berbohong, mengeluarkan kata-kata kotor atau sia-sia, serta bertengkar. Karena puasa merupakan media pelatihan untuk kesabaran, kejujuran, dan kepekaan sosial. Secara tidak langsung amalan puasa akan mengembalikan essence manusia, murni-fitrah. Tidak cuma ketika dalam pelaksaanan Puasa saja, tapi juga diharapkan sikap murni itu akan tetap terjaga hari-hari berikutnya.

Puasa dikenal oleh seluruh umat beragama, dan merupakan ritual keagamaan ratusan tahun yang dianggap sangat efektif untuk menekan keinginan(nafsu) duniawi manusia. Puasa memiliki makna yang sama, tapi tentu saja di dalam pelaksanaanya memiliki perberbedaan, namun intinyanya adalah belajar untuk bersabar dan menempatkan diri. Pangeran Sidharta Gautama ketika ia mengalami kebingungan amat sangat di dalam pikirannya mengenai essence manusia, ia melarikan diri dari istana dan meninggalkan istri dan anaknya yang baru lahir. Sidharta menempuh jalan bertapa untuk melepaskan segala keresahan, dengan berpuasa terus menerus dan menyendiri. Sidharta melawan pertarungan ide dalam pikirannya. Nafsu merubah wujud ke dalam bentuk devil, wanita-wanita cantik tak berbusana, dan pasukan monster menyeramkan. Ujung dari pencarian makna hidupnya adalah kesengsaraan dan Reinkarnasi. Bagi umat Nasrani, mereka melaksanakan Puasa pada hari-hari tertentu saja, guna menghormati momentum. Bagi umat Yahudi, mereka menjalankan apa yang biasa dilakukan para nabi sebelum Isa dan Muhammad. Bagi yang menjalani tradisi Kebatinan, mereka melakukannya untuk tujuan dan ketentuan tertentu untuk memenuhi persyaratan.

Dalam ajaran agama Islam, Baginda Nabi Muhammad selalu saja menganjurkan manusia untuk berpuasa. Selain Puasa di bulan Ramadhan, Beliau juga selalu saja menjalankan Puasa Senin-Kamis, Rajab, Syawal, dll. Karena memang dalam Puasa manusia akan merasakan kedekatan kepada Tuhan dan ketenangan jiwa. Perubahan-perubahan tertentu juga akan ikut terjadi, baik itu psikologis maupun biologis. Psikologis; manusia berpuasa akan lebih tenang dan terjaga. Dalam tutur kata dan jalan berpikir, dalam keputusan menggunakan hati nurani yang bersih. Biologis; manusia berpuasa akan lebih terlatih kedisplinan, sehat jasmani dan rohani. Sistem tubuh akan membuang racun secara efektif, disebabkan sistem pencernaan diberikan waktu yang cukup untuk mengolah dan mendistribusikan secara efektif ke seluruh tubuh. Seperti halnya Puasa disebutkan bisa membuat orang menjadi lemah fisik itu tidak terbukti, contohnya perang Badar terjadi di bulan ramadhan, ditengah padang pasir panas dengan jumlah pasukan yang sangat berbanding jauh, meskipun berpuasa tentara Islam bisa menang mutlak. Dan juga jangan lupa, negara Republik Indonesia pun di proklamirkan pada hari jumat pagi di dalam bulan Ramadhan. Jadi tidak ada alasan untuk tidak berpuasa, kecuali memang sangat sakit dan sangat lemah, dan berhadast besar.

Ketika aku kanak-kanak, Puasa merupakan bulan penuh kebersamaan dan kebahagiaan. Meskipun aku tidak tahu pasti arti Puasa, aku tetap menjalankannya. Kunikmati waktu sahur yang romantis bersama keluarga meski kantuk masih menempeli pelupuk mata. Dilanjutkan menikmati waktu Imsyak dan sholat shubuh nan syahdu. Pada siang hari, menghitung waktu demi waktu berlalu, bermain sepanjang hari tanpa merasakan deraan lapar dan dahaga di siang hari yang terik dalam musim kemarau panjang. Pada waktu berbuka, keluarga kumpul di ruang makan, keceriaan canda tawa pecah begitu saja, meluruhkan segalanya, sambil menikmati manisnya Kurma Nabi, dan Kolak Pisang bercampur kolang-kaling ditutup teh manis hangat dan senyuman. Setelah berbuka kami berangkat ke Mushala bersama-sama untuk melakasanakan ibadah Sholat maghrib, dilanjutkan dengan kekhusu’an tarawih-witir dan ditutup oleh keriuhan bedug sesudahnya. Sebelum berangkat tidur, kusempatkan menikmati kemerduan Tadarus tengah malam yang menggentarkan…Oh My God, that’s so precious memory! Even you give me mountains of diamond, I would not dare to give that romantic moment for you…

Ketika aku belia, Puasa itu cukup menyebalkan. Usia remaja memungkinkan manusia untuk berontak dari aturan-aturan. Kadang-kadang ketika aku malas berpuasa, dengan mengendap-endap aku masuk ke dapur, mengambil segelas air dan secomot kue sisa berbuka kemarin sore, dan tentu saja rasa bersalah tetap saja muncul di hati, namun ego mengalahkan segalanya. Kalau ingat waktu itu, aku jadi malu sendiri, kenapa bisa menjadi sebegitu bodohnya…ha ha ha.

Ketika aku berkeluarga, Puasa menjadi begitu berarti. Menjadi media pembelajaran amat sangat efektif. Mengasah kesadaran, kepekaan, dan kedekatan. Ketika permasalahan hidup semakin sulit, ditambah lagi penyakit hati dan badan yang semakin parah. Kusempatkan melaksanakan Puasa selama dua bulan penuh. Kurasakan dalam Puasa, Tuhan terasa amat sangat dekat, begitu intim. Maka, kudekati Dia dalam kekosongan…kubujuk Dia dalam tangisan…kurayu Dia dalam kesunyian…kupuja Dia dalam kesyahduan…kuminta dari-Nya hadiah kesabaran.

Puasa…Aku sambut engkau wahai kekasih…***

Ucok Saragih
42-09 Forley St
Queens, New York 12:22 PM