HMINEWS.COM- Dalam hitungan hari kita akan melaksanakan ibadah puasa. Hari yang istimewa. Bukan karena kita akan menikmati kurma, kolak, dan aneka makanan dan minuman manis lainnya. Disebut istimewa karena di hari itu kita berlaku tidak biasa. Jika sehari-hari kita mengkonsumsi makanan, minuman dan aneka kenikmatan lainnya. Tapi tidak pada bulan puasa.Tidak saat kita menjalankan ibadah puasa. Bahkan kita tidak boleh melakukan tindakan-tindakan yang tercela, tindakan-tindakan tidak berguna lainnya, seperti marah, sedih, berghibah dst.

Dengan berpuasa kita disuruh jeda sejenak untuk menghayati kemanusiaan kita lagi. Diundang kembali oleh Tuhan untuk menjadi manusia. Mengingatkan kembali hal-hal yang mungkin sudah terkubur dalam rutinitas kita sehari-hari. Bahwa manusia tidaklah sama dengan binatang yang kerjanya makan, minum, kawin dan memperturutkan hawa nafsu tanpa mempergunakan akalnya.

Sesungguhnya puasa memiliki dimensi kemanusiaan yang sangat tinggi. Dimensi berbagi, dimensi empati, dimensi pengendalian diri. Bagaimana bisa berbagi? Orang yang berpuasa kan tidak membagi apa-apa (?) Ya, benar. Jika yang kita lihat adalah hanya sekadar sosok manusia yang menahan lapar, tidak mengkonsumsi apa-apa selama waktu tertentu. Tapi jika kita melihat ini secara lebih besar, konteks jamaah, bangsa, ummat, bahkan dunia akan lain hasilnya.

Seorang yang puasa adalah seorang pemberi meskipun tidak terlihat memberi. Orang yang berpuasa memberi secara tidak langsung. Dia menahan nafsunya untuk sementara waktu dalam rangka memberi kesempatan makhluk lain untuk merasakan nikmat yang tidak dia kecap semantara waktu itu. Orang yang kekurangan bisa merasakan fasilitas yang sementara tidak digunakan oleh orang yang berpuasa. Oleh kenikmatan yang sementara ditinggalkan oleh mereka manusia-manusia yang menahan diri.

Puasa dan Kebangsaan

Jika pola pikir ini ada dalam kehidupan berbangsa dan bernegara kita maka akan tercipta harmoni. Akan tercipta pemerataan yang jika konsisten dilakukan mendorong pada keseimbangan. Keseimbangan sangat dibutuhkan untuk menjamin keutuhan bangunan nation state yang mencoba kita tegakkan ditengah terpaan godaan pecah belah yang menghantui.

Dewasa ini semangat berbangsa dan bernegara kita cenderung menurun karena sendi-sendi yang memperkuat bangunan itu melemah. Dan yang paling tinggi menyumbang kelemahan semangat itu adalah tidak adanya empati dan simpati antar sesama anak bangsa. Tiap orang menjadi sibuk dengan dunianya sendiri. Tiap orang sibuk dengan obseinya masing-masing. Dan dalam kesibukan yang meraja itu nasib sebagian besar rakyat Indonesia terabaikan. Mereka yang terhimpit dalam kemiskinan, tidak bisa merasakan kenikmatan-kenikmatan yang seharusnya mereka rasakan sebagai waraga negara. Seperti pendidikan, kesehatan, kesejahteraan.

Perilaku korupsi adalah wujud nyata dari ketidakpedulian pada sesama. Korupsi adalah simbol kebinatangan yang menggelayuti alam pikiran dan alam keseharian manusia Indonesia. Orang menjadi berlomba untuk menggemukkan badan sendiri, berkompetisi menambah bantalan lemak di bawah kulitnya agar nanti pada musim dingin tidak kedinginan sendiri. Bukankah itu mirip perilaku beruang sebelum hibernasi. Sibuk makan sebanyak-banyaknya sebelum mendengkur sepuas-puasnya.

Dan di era otonomi daerah seperti ini ketidakpedulian itu juga semakin terlihat jelas. Ada satu daerah yang berlimpah kekayaan alam. Ada daerah yang sangat kekurangan hingga pembangunannya jalan di tempat bahkan tidak jarang malah mundur, meluncur ke belakang. Jurang-jurang menganga semakin lebar. Satu daerah bisa memberi fasilitas berkecukupan kepada warganya sementara di sisi lain ada yang masih bergelut dengan busung lapar.

Dan jika benar penduduk Indonesia mayoritas muslim yang artinya mayoritas mereka berpuasa maka puasa menjadi sarana olah diri yang efektif untuk memperkuat kebangsaan dan kenegaraan kita. Ada berapa fasilitas yang bisa kita bagi. Ada berapa kenikmatan yang bisa kita sebarkan kepada mereka yang membutuhkan.

Jadi ada banyak manfaat dalam perintah ibadah puasa. Dengan puasa maka mereka yang kaya mencintai si miskin sekaligus dicintai si miskin. Mereka yang berpunya akan menempati satu ruang khusus di hati mereka yang masih bergulat dengan sengsara. Jika sudah ada cinta diantara warga bangsa dan negara, sudah mencintai dan dicintai maka apalagi yang mungkin terjadi selain harmoni. Dan harmoni itulah akan terlahir rahmat-rahmat yang lain. Rahmat yang melimpah-limpah, bertambah-tambah, dan itulah berkah. Hidup yang berkah dan diridhoi Alloh adalah ultimate goal yang layak kita canangkan dalam kehidupan kita sebagai manusia, dan dalam kehidupan kita sebagai warga bangsa dan negara.

Wallohu a’lam bissowab

Roni  Hidayat

email : ronking82@gmail.com