HMINEWS.COM- Politik itu pasar. Sebuah tempat dengan keramaian di mana semua hal dapat diperjual-belikan dengan mekanisme penawaran dan permintaan kepalsuan. Ada kemiskinan yang diperebutkan. Bahkan Tuhan pun sudah menjadi seonggok daging yang dikerat dan diperjual-belikan dalam satuan-satuan. Begitu riuh-rendahnya pasar politik sehingga yang ada hanyalah kepalsuan. Kejujuran adalah harga mahal yang harus dibayarkan demi sebuah penawaran yang menghasilkan kekuasaan. Adakah kejujuran yang berkata-kata dalam keramaian pasar?

Politik juga merupakan panggung. Panggung hiburan sekaligus kekerasan. Di sini para aktor berdandan, berbedak dan bergincu tebal dengan muka yang dibuat-buat. Begitu hebatnya mereka sampai-sampai mengorbankan tubuh dan kesendirian mereka demi sebuah kepuasan dari tepuk-tangan dan tawa penonton yang dibuat-buat. Siapa bilang politisi itu bebas?

Yang ditawarkan di sini lagi-lagi kepalsuan. Ada aura mistik tak terjelaskan yang menyebabkan para aktor menawarkan kepalsuan sekaligus para penonton meminta hal yang sama. Politik merupakan panggung hiburan karena semuanya sama-sama puas. Ada aktor yang puas dengan kepalsuannya dan ada juga penonton yang berpura-pura mengangis dan tertawa tanpa sadar akan kepura-puraannya. Ternyata politik juga memabukkan.

Tetapi politik juga merupakan panggung kekerasan, karena politik hanya bercerita tentang orang-orang besar. Tanpa menyisakan satu kata pun untuk menceritakan bagaimana mereka menjadi besar karena ribuan tepuk-tangan. Chairil Anwar salah, bukan, bukan mereka semua harus dicatet, dan mendapat tempat dalam sejarah. Melainkan hanya para aktor yang bergincu tebal dan berbedak batu-bata yang mendapat tempat dalam sejarah.

Jangan harap kejujuran mendapat tempat di dalam politik, karena kejujuran hanya bertempat dalam kesendirian. Sedangkan dalam politik yang ada hanyalah keramaian pasar. Kejujuran dan kesendirian telah tergusur oleh mekanisme pasar yang mengharuskan aktor sekaligus penonton bersorak merayakan kepalsuan dan kerendahan. [] Muhammad