Jose Rijal Jurnalis, Ketua Medical Emergency Resque Commitee (MER-C)

Jakarta, HMINEWS.COM- Jose Rijal Jurnalis, Ketua Medical Emergency Resque Commitee (MER-C)  sangat meyakini kalau Ust.  Abu Bakar Ba`asyir tidak pernah terlibat  dengan kegiatan kelompok teroris serta  jihad yang menggunakan senjata api serta bom yang mengatasnamakan agama. Pasalnya Ust. Abu paling menolak dan tidak setuju dengan aksi jihad seperti itu,” demikian tegasnya.

“MER-C, kata Jose Rizal Jurnalis,  kini sedang mendampingin Ust. Abu untuk memberikan perawatan kesehatan.” Di usianya yang ke-72, Ust Abu  dinilai tidak mungkin terlibat dalam pelatihan militer di Nanggroe Aceh Darussalam seperti yang dituduhkan Polri. “Tidak mungkin rasanya dia terlibat, apalagi dikatakan Teroris,” demikian dikatakan Jose Rizal, Sabtu (14/8) di Jakarta.

Disamping itu, Jose Rizal tidak menepis dugaan jika dikatakan Ba`asyir mendukung jihad di daerah yang berkonflik, seperti Afghanistan dan Palestina. Tetapi, lanjut Rizal, bukan di daerah yang damai.

Terkait dengan pelatihan militer di Aceh, Jose Rizal menilai  itu adalah latihan terbuka. Semua orang dianggap tahu, termasuk aparat TNI dan warga sekitar. Jadi bukan latihan yang tersembunyi, apa lagi seperti yang dikatakan polisi. Jose Rizal juga tidak bisa memastikan apakah Ba`asyir pernah datang ke latihan tersebut atau tidak.

Sementara itu Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah,  Din Syamsuddin memprotes  cara penangkapan Ust. Abu  yang dilakukan Densus 88 Mabes Polri, pada hari Sabtu (14/8), di Jakarta.

Din menilai Abu Bakar Baasyir adalah tokoh agama dan telah berusia lanjut. Apalagi kondisi Ba`asyir saat itu sedang lelah setelah mengisi pengajian di Kota Bandung dan Kota Banjar, Jawa Barat. Din menegaskan bahwa penangkapan tersebut bisa menjadi preseden buruk bagi Dai dan Mubaligh dalam mengisi pengajian karena akan membuat trauma.

Kendati Begitu, Din sangat mendukung pemberantasan terorisme karena terorisme adalah musuh negara dan musuh agama, terutama Islam. “Tidak ada satu agama apapun yang membenarkan terorisme,” ujarnya. “Oleh karena itu, dalam melakukan pemberantasan terorisme harus sesuai dengan hukum yang berlaku dengan menjunjung tinggi Hak Azasi Manusia serta etika kesantunan,” demikian Din. []ham, nm