HMINEWS.COM- Dalam hitungan hari republik ini akan memasuki usianya ke enam puluh lima, usia yang tak muda lagi bagi sebuah bangsa. Di luar sana Cina, Singapura, Malaysia dan Brunai sudah jauh melangkah meninggalkan kita. Cina sudah berfikir bagaimana berdiri sejajar dengan Amerika, bahkan lebih dari padanya, sementara negara kita apakah yang sudah dilakukannya setelah sekian lama merdeka, lepas dari belenggu penjajahan.

Tak perlu kita berrcita-cita dan berharap terhadap Negara ini, karena faktanya pemerintah saja tidak becus untuk mensejahtrakan masyarakat. Mengatasi masalah tabung gas saja pemerintah kelabakan, meredam harga bahan-bahan pokok untuk tidak melonjak saja kesusahan, ditambah lagi untuk menyelesaikan masalah-masalah lain. Menekan laju pengaguran, memutus mata rantai kemiskinan, memberantas kebodohan sampai mencegah gesekan antar umat beragama, karena keberagaman yang begitu kaya yang dimiliki bangsa ini.

Penangkapan Abu Bakar Ba’Asyir serta statmen SBY tenatang kekisruhan antara pemeluk agama di Kota Bekasi yang sedang ramai diperbincangkan menunjukan lemahnya kepemimpinan presiden yang pertama kali terpilih melalui pemilu langsung itu. Bagi dirinya mungkin langkah yang diambilnya tepat untuk mengalihkan perhatian masyarakat tentang banyak hal ; kenaikan TDL, naiknya harga-harga kebutuhan pokok, ledakan tabung gas dan sejuta permasalah bangsa ini.

Akan tetapi kali ini SBY salah langkah, mungkin dulu dirinya sangat jago mermanfaatkan momentum untuk meraih simpati publik. Terpilihnya SBY pada 2004 diakui atau tidak adalah keberhasilan dirinya menarik simpati masyarakat, pada waktu itu SBY memcoba memposisikan diri sebagai pihak terzholimi oleh Mega wati, presiden pada waktu itu. Hasilnya luar biasa semuya masyarakat prihatin kepadanya, eksesnya dirinya menang dalam perebutan kursi Presiden.

Namun sampaikapan pola-pola seperti itu dimainkan dalam menjalankan sebuah kapal besar ( Indonesia ), masyarakat sudah gerah, rakyat bosan mendengar Presidennya tiap hari curhat ataupun kotbah. Ingat anda ini Presiden bukan Ustadz, rakyat saja tidak pernah curhat dan mengeluh meski diperlakukan semena-mena oleh pemerintah, mengapa Presiden harus cengeng.

Mengalihkan isu dengan menciptakan konflik agama bukanlah solusi tepat dan tidak menyelesaikan masalah, karena masalah itu bukan untuk dialihkan namun diselasaikan. Bhineka tungal ika sebagai landasan kita dalam menyatukan perbedaan serta keberagaman hendaknya menjadikan kita semua sadar bahwa sejatinya masyarakat kita sedari dulu cinta damai, suka hidup bersama dalam keberagaman.

Adanya konflik agama hendaknya jangan dilihat dari satu sudut, media dalam hal ini juga harus jeli  dalam menyajikan pemberitaan. Hari dengan tegas penulis katakana bahwa beberapa media yang memunculkan berita tentang kerusuhan antar umat agama di Kota Bekasi serta penangkapan Abu Bakar Ba’Asyir sangat tidak berimabang. Umat islam seolah tesudut , semua media bagaikan paduan suara dan dengan kompak menyayikan lagu yang sama, bahwa hari ini muslim adalah biang kerok, muslim adalah ancaman kebinekaan tunggal ika dan musuh utama bagi negara ini. Hal ini makin diperkuat dengan tindakan pemerintah, mulai dari aksi densus 88 sampai Khotbah SBY tentang Kisruh Ciketing.

Sekali lagi marilah kita bersama-sama berfikir jernih, masyarakat hendaknya tidak terprovokasi dengan pemberitaan media serta kontra intelegen yang dimainkan pemerintah SBY untuk mengkaburkan isu. Khusus bagi umat muslim yang hari ini dalam posisi tersudutkan hendaknya mampu menahan diri, apalagi dengan adanya momentum bulan Ramadan dan bagi masyarakat Indonesia pada umumnya baik muslim ataupun nonmuslim, anggaplah ini ujian bagi kita menjelang umur Indoinesia ke-65.

Alangkah indahnya jika kita semua mampu duduk bersama dan berfikir jernih mencari permasalahan yang ada dan mengambil benang merah dari segala persoalan ini. Semoga semua itu bisa cepat terselesaikan dan tidak adalagi pertikaian diantara kita. Tak perlu menunggu pemerintah dalam hal ini, karena hidup damai dan bersatu adalah keinginan semua manusia di bumi ini, tak terkecuali bangsa Indonesia.

Untuk pemereintah, kurangilah nafsu untuk berkuasa. Berfikirlah bagaimana menyelesaikan permasalahn yang ada, jangan mengalihkannya. Karena sama saja dengan menyelesaikan masalah dengan masalah. Kalau memang hari ini pemerintah tidak bisa menjawab persoalan bangsa, akuilah hal itu. Dan sebagai pemimpin negara jika anda memang sudah tak mampu memimpin, akuilah hal tesebut. Karena rakyat pasti maklum dan akan memaafkan anda, serta dengan penuh kerendahan hati mundur dari jabatan rasanya menjadi langkah yang tepat, jawaban dari kegagalan dalam memimpin. Ketimbang kepemimpinan anda membawa Indonesia terpuruk bahkan menimbulkann perpecahan karena gaya anda dalam memimpin.

Bagi Media kedepankan unsur keberimbangan serta muatan pendidikan agar masyarakat cerdas. Bukan hanya umbar senasi serta sekedar untuk meraup kepingan rupiah dari naiknya rating berita atau hasil penjualan oplah.[] Ivan