http://media.vivanews.com/thumbs2/2009/08/11/75076_akmad_bakrie_award_300_225.JPGDaoed Joesoef, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan di Era Orde Baru itu sangat terkenal dengan keputusan yang kontroversi soal penambahan masa belajar ditahun 1978, sejak itu pulalah tahun ajaran berubah dari Januari ke bulan Juli. Keputusan itu memang sangat menyakitkan banyak siswa Sekolah Dasar sampai ketingkat lanjutan atas, dan masa penambahan tahun ajaran itu menjadi saat-saat yang membosankan duduk di kelas.

Dua tahun kemudian kabinetpun berganti dan posisinya digantikan oleh Pak Nugroho, sejak itu berita tentang Pak Daoed Joesoef jarang terdengar lagi. Namun akhir pekan lalu, secara mengejutkan ia muncul di televisi, menjadi bahan pemberitaan dari sebuah stasiun  TV swasta, diusia tuanya beliau diberitakan menolak Bakrie Award dengan alasan bertentangan dengan hati nuraninya.

Meski penghargaan itu baru akan diberikan 5 Agustus 2010, surat pernyataan penolakan sudah diterima pihak Freedom Institute (sebagai rekanan Yayasan Achmad Bakrie, pihak penyelenggara pemberian penghargaan ini) sekitar sebulan lalu.

Alasan penolakan karena penghargaan itu dinilai tidak sesuai dengan profil keluarga pebisnis Bakrie yang masih terkait dengan beberapa kasus kemanusiaan yang belum tuntas. Contohnya, kasus lumpur Lapindo.

Mendengar hal itu Ulil Abshar-Abdalla dari Freedom Institute membujuk Daoed Joesoef agar mau menerima Bakrie Award, tapi Daoed yang sadar akan skandal kemanusiaan kasus Lumpur Lapindo, dengan tegas menolak. Meski Ulil tetap berharap agar Daoed Joesoef menerima penghargaan awardnya tanpa menerima uangnya, Daoed Joesoef tetap kukuh pada pendiriannya.

“Saya tidak pernah takut kepada siapapun, tapi satu hal yang tidak bisa saya lakukan adalah melawan hati nurani saya”, demikian ungkapannya saat ditanya kenapa menolak Bakrie Award tersebut, dan ucapan itu mengingatkan masyarakat kepada Frans Magnes Suseno yang juga menolak Penghargaan yang sama, kemudian disusul oleh Gunawan Muhammad yang mengembalikan Award beserta sejumlah uang hadiahnya. “Saya coba untuk memisahkan Bakrie Award dengan Usaha milik kelompok Bakrie, tapi semakin kuat usaha pemisahan itu semakin mustahil rasanya”, kata Gunawan dalam jumpa persnya ketika itu.

Peluncuran Bakrie Chair di AS

Penolakan atas Achmad Bakrie Award di Tanah Air itu berlangsung pada saat keluarga Bakrie meresmikan lembaga kajian strategis di Carnegie Endowment for International Peace di Washington DC, awal pekan ini.

Sejumlah tokoh penting dan berpengaruh di Amerika Serikat menghadiri peresmian lembaga kajian strategis milik keluarga Bakrie. Peresmian Bakrie Chair for Southeast Asia Studies itu berlangsung di Carnegie Endowment for International Peace di Washington DC, Senin (26/7) malam.

Pendiri dan sekaligus Chairman Bakrie Chair, Anindya N Bakrie, menyatakan AS dipilih sebagai tempat berdirinya lembaga itu karena AS merupakan negara terpenting bagi kawasan Asia Tenggara dan Indonesia di luar Cina dan India.[] Thomi