HMINEWS.COM- Beberapa waktu lalu Komisi Penyiaran Indoensia (KPI) berdebat keras dengan para pengelola televisi atau yang dikenal dengan masyarakat penyiaran. Isu keras yang diperdebatkan adalah masalah seputar ‘infotainment’, tayangan televisi soal kehidupan para artis.

KPI menyoal bahwa kerja infotainment adalah bukan kerjajurnalistik, karena infotainment cenderung searah, miskin klarifikasi, apalagi mengharapkan cover both side. Atau katakanlah berita itu benar, tapi kalaudi paksakan muncul bisa merusak rumah tangga, toh tetap ditayangkan televisi.

Puncaknya, dampak penayangan infotainment yang seperti tak kenal nilai ketika mengekspos isu perselingkuhan Ariel Peter Pan, Luna Maya, dan Cut Tari, telah berdampak negatif terhadap masyarakat. Jumlah pasangan berselingkuh meningkat, pasangan kawin cerai bertambah, dan pemerkosaan yang dilakukan anak-anak terhadap anak-anak lainnya pun melonjak.

FAKTA DI BALIK ANGKA

Kita cukup prihatin dengan perkembangan rumah tangga saudara-saudara kita belakangan ini. Terutama jika kita amati sebelum reformasi, jumlah keluarga yang bercerai per tahun rata-rata sekitar 10.000pasang, tapi setelah reformasi hingga saat ini jumlah rumah tangga yangbercerai melonjak drastis mencapai 250 ribu pasang, khususnya ditahun 2009. Dari jumlah tersebut 6.700 pasang di antaranya berada di DKI Jakarta.

Menurut Dirjen Bimas Islam Depag, Prof. Nazaruddin Umar,angka itu setara dengan 10% dari jumlah pernikahan di tahun 2009 yakni sebanyak 2,5 juta pasang. Jumlah perceraian tersebut naik 50 ribu kasus dibanding tahun2008 yang mencapai 200 ribu perceraian.

Jumlah perceraian di Indonesia terus menunjukkan peningkatan. Angka perceraian setelah masa reformasi meningkat 4–10 kali lipatdibanding sebelum reformasi. Pada periode 5–10 tahun lalu, di Indonesia hanyaterjadi 20 ribu hingga 50 ribu kasus perceraian per tahun. Fakta lain dari kasus perceraian yang tercatat pun menunjukkan adanya pergeseran bentuk perceraian. Sekitar 70% perceraian yang terjadi di Pengadilan Agama adalah cerai gugat.

Data tersebut juga menunjukkan trend pergeseran kasuscerai di mana istri yang menggugat cerai, ketimbang suami yang menggugat cerai. Seolah mengingatkan kita pada hadits Nabi: Kebanyakan yang masuk neraka kelakadalah kalangan wanita.

Meningkatnya angka perceraian ini disebabkan oleh 14 faktor. Di antaraya cerai karena pilkada dan politik (550 pasang), perselingkuhan oleh istri yangangkanya naik drastis (407 pasang, sebelumnya 200 pasang), kawin di bawah umur,kawin karena perbedaan agama, tekanan batin, faktor ekonomi, dan kekerasan dalam rumah tangga. Bahkan kasus cacat karena kecelakaan sepeda motor juga menjadi salah satu dari 14 faktor penyebab perceraian di Indonesia.

Selain itu, kasus perceraian khususnya yang melibatkan publik figur, belakangan ini ramai-ramai digelar media infotainment, jugamenjadi faktor yang paling mempengaruhi budaya kawin cerai di masyarakat. Betapa tidak, dari 12 stasiun televisi kita, setiap hari menggelar 54 tayangan infotainment, mulai dari Cek & Ricek (RCTI), Insert (Tran TV), Espreso (ANTV), KISS (Indosiar), I Gosip (Trans 7), Halo Selebriti (SCTV), Obsesi (Global TV), Expose (TV One), dan lainnya. Bahkan siaran itu tak cukup sekali,ada sesi pagi, siang dan sore. Praktis ibu-ibu dan bapak rumah tangga setiaphari dikepung oleh berita sampah, murahan dan tidak bermutu dan cenderung mengarah pada dekadensi moral.

Pada bagian lain, media jejaring sosial facebook, twitter dan situs jejaring sosial lainnya juga ikut memberi kontribusi yang tak sedikit terhadap musibah perceraian. Lewat facebook terjadi pertemuan kawan lama, pacar lama, bahkan musuh lama. Lalu muncullah reuni dan kegiatan copy darat lainnya. Pada saat itulah terjalin CLBK, cinta lama bersemi kembali, atau bahkan MBLK, musuh lama bangkit kembali.

Bahkan yang lebih mencengangkan, mayoritas pelaku perceraian adalah pasangan muda. Mereka yang mudah bercerai lantaran sering menyaksikan orang tuanya bertengkar tiap hari di rumah, sehingga menimbulkan apa yang dinamakan broken home.

Pada saat yang sama suami atau istri yang kerap bertengkarbiasanya mempengaruhi semangat kerja di kantor. Sehingga produktivitas jadi terganggu, panjang sekali rangkaian dampak dari perceraian baik terhadap rumah tangga, lingkungan rumah, lingkungan kerja bahkan nasib kita di akhirat kelak.

Pendek kata, berbagai dampak negatif perceraian dari informasi teknologi hingga detik ini seperti tak bisa dicegah. Padahal kitatahu, mempertahankan keluarga itu mulia dan dijamin surga, sementara berceraiitu walaupun halal namun itu perbuatan halal yang paling dibenci Allah.

FITNAH, GHIBAH DAN NAMIMAH

Berita pada dasarnya merupakan informasi tentang sesuatu yang faktanya sama dengan yang diinformasikan. Berita bisa bernuansa memuja, mengevaluasi, mengkritik, bahkan sekadar pemaparan biasa.

Fitnah, merupakan jenis informasi yang mana isinya berbeda dengan faktanya. Biasanya berita yang disampaikan sipenutur lebih buruk dari fakta yang sesungguhnya.

Karena itu fitnah, sering diistilahkan Rasul, sebagai perbuatan yang lebih keji dari pembunuhan. Bagaimana tidak, orang yang ditifnah seperti mayat yang tak berdaya dicaci maki dan diburuk rupai sedemikian rupa, sehingga terkesan buruk laku yang tak terampuni.

Padahal, mereka yang kerap memfitnah menderita dua kerugian, sebaliknya yang difitnah mendapat dua manfaat sekaligus. “Dosa orang yang difitnah itu akan pindah kepada yang memfitnah, sampai dosa itu habis. Kemudian pahala orang yang memfitnah berpindah kepada yang difitnah,” demikian salah satu sahih Bukhori Muslim.

Atas dasar riwayat tersebut,suatu hari Imam Syafi’ie mendapat aduan dari istrinya, bahwa para tetangganya telah memfitnah sang imam. Tanpa banyak cingcong, Imam Syafi’ie menyuruh istrinya memasak gulai dan membagikan gulai tersebut kepada para tetangga yang memfitnahnya.

Lalu istrinya bertanya,”Mengapa engkau malah menghadiahi orang yang memfitnah dengan gulai-gulai itu?” Imam Syafi’ie manjawab,” Karena pahalaku bertambah dan dosakuberkurang.”

Akan halnya ghibah, Rasulullah pernah bertanya pada sahabat,” Bisakah kalian membedakan antara fitnah danghibah?” Sahabat menjawab,” Tidaklah Rasulnya lebih tahu daripadayang ditanya.”

Lalu Rasul menjelaskan,”Fitnah itu adalah memberitakan saudara lebih buruk dari yang sesungguhnya. Sedangkan ghibah membicarakan aib saudaramu sesuai keburukanyang dilakukan.”

Lantas mana lebih parah antara memfitnah dengan menggibah? Rasul mengatakan dosa memfitnah setara dengan membunuh seorang manusia. Sedangkan dosa mengghibah seperti memakan bangkai saudara sendiri atau setara dengan melakukan 20 kali berzinah. Pendek kata, keduanya sama-sama tergolong dosa besar.

Pertanyaan berikutnya, apa beda mengghibah dengan berita benar tentang seseorang. Bedanya terletak pada moral ketika aib itu dipaparkan. Berita memaparkan aib seseorang dengan tujuan untuk memperbaikinya, sedangkan ghibah memaparkan aib saudara dengan tujuan memang ingin melakukan caracter assasination, menghinakan, dan menistakan.

Hal lain yang dinasihatkan Rasulullah kepada para sahabat adalah untuk tidak melakukan namimah atau mengadu domba. Sebab ini adalah kebiasaan buruk kaum munafik.

Suatu hari dengan tergesa-gesa datang seorang sahabat dari keturunan Arab Gunung kepada Rasulullah, bernama Abdullah bin Ubay bin Salul. Dia membawa berita kontroversial, dikatakan bahwa Aisyah istri Rasul telah berzinah dengan Sofwan ibnul Muattal Assalami.

Sontak jantung Rasulberdetak keras sambil giginya gemeretak geram. “Apa aku kurang membimbing sang istri, apa aku kurang memuaskan, apa aku kurang memberi nafkah, apa aku kurangperhtaian?” demikian Rasul berprasangka terhadap dirinya sendiri.

Berita itupun tersiar ke pelosok Mekah sehingga menimbulkan under estimate terhadap istri Rasul.

Dalam kebingungan dan gundahgulana, tiba-tiba badan Rasul bergetar keras, keringat bak butiran jagung bercucuran dari kening dan sekujur tubuhnya. Ternyata saat itu Rasul baru mendapat wahyu terkait dengan informasi Abdullah bin Ubay.

“Wahai orang-orang yang beriman, jika datang seorang fasiq kepadamu membawa berita, maka bertabayunlah…” demikian penggalan surat Al Hujurot ayat 6 yang baru diterima Rasul.

Rasul diingatkan tentang bagaimana bersikap terhadap berita yang sampai kepadanya, apalagi berita itu menyangkut berita buruk. Allah memerintahkan Rasul untuk melakukan tabayun, RCTI lebih senang menggunakan kata chek and Ricek. Dalam bahasa jurnalistik lebih seringsering disebut dengan cover both side.

Setelah dirunut-runut, ditanyadari berbagai sumber, akhirnya Rasul berkesimpulan bahwa berita yang dibawa Abdullah bin Ubay adalah berita fasiq (rusak baik si pembawa berita maupun materi berita).

Abdullah bin Ubay di lingkungan Arab Gunung memang terkenal melakukan fitnah (menceritakan kejelekan orang tapi tanpa bukti) bahkan ghibah (menjelek-jelekkan orang dengan bukti dengan niat menjatuhkan).

Sementara substansi berita jugatidak benar. Padahal cerita yang sebenarnya adalah, Aisyah istri Rasul saat perang menundukkan Bani Almustalaq tertinggal di padang pasir dan tersesat. Kebetulan ada seorang sahabat, Sofwan ibnul Muattal, yang sedang menunggang kuda. Karena tahu yang tersesat adalah istri Rasul, maka Sofwan menolong Aisyah dengan mempersilakan menaiki kuda tunggangannya, sedangkan Sofwan berjalan memegang tali di depan kuda. Selama perjalanan menuju kota Mekah peristiwa itu disaksikan oleh sejumlah orang, termasuk Abdullah bin Ubay yang lebih dikenal sebagai Bapak Munafik Internasional.

Begitu mengetahui dan mendapat klarifikasi dari Sofwan dan turunnya ayat tersebut, emosi Rasulpun mereda. Peristiwa itu adalahpelajaran yang sangat berharga bagi Rasul dan penduduk kota Mekah.

ETIKA BERKOMUNIKASI

Lewat surat Al Hujurot mulai ayat 6 hingga 14 sebenarnya Allah ingin membina sebuah masyarakat komunikasi yang Islami. Aturan moral yang disampaikan dalam surat Al Hujurot itu adalah sebuah bingkai dan rambu-rambu berkomunikasi yang sehat dan benar, sehingga Rasulullah menjadikan rambu-rambu itu sebagai desain komunikasi Islami.

Ekstrak dari desain komunikasi Islami itu terdapat padaayat ke 10 surat Al Hujurot, dimana ada kata-kata ‘ikhwatun’ yang berartisaudara. Dalam Al Qur’an kata ‘ikhwatun’ disebut sebanyak 13 kali, dua kaliyang terkait dengan hubungan darah dan 11 terkait dengan hubungan iman. Terkadang persaudaraan yang didasarkan pada hubungan iman jauh lebih kuat ketimbang persaudaraan yang didasarkan pada hubungan darah.

Itu sebabnya Rasulullah lewat surat Al Hujurot ayat 11hingga 14 berusaha mengeliminir berbagai virus atau penyakit komunikasi yang bisa melunturkan tali persaudaraan tadi. Paling tidak ada tiga virus komunikasi yang harus dihindari masyarakat berbudaya sebagaimana disebut dengan masyarakat madani.

Pertama, sukriyah atau ejek-mengejek. Biasanya tradisi saling mengejek lebih sering dilakukan kaum ibu, sehingga redaksi Al Quran menyindir dengan ‘wa maa min nisaaa min nisaa’ karena memang wanita lebih condong terkena virus sukriyah itu.

Kedua, jangan menyakiti diri sendiri karena menyakiti diri sendiri adalah bagian dari penyakit umat. Orang yang frustasi biasanya cenderung menyakiti diri sendiri entah dengan menyilet, mencukur rambut,memukul dada dan pipi, bahkan bunuh diri. Belakangan seolah menjadi trend bunuh diri lewat ketinggian gedung atau bunuh diri loncat dari lantai tertinggi disebuah mal di tengah kerumunan masyarakat karena kehidupan yang susah dan menghimpit. Boleh jadi kejadian berulang ini diinspirasi oleh televisi, radio dan media cetak.

Ketiga, jangan memanggil saudara kita dengan pqanggilan yang buruk. Budaya jahiliyah cenderung memanggil sahabat atau rekanan dengan panggilan yang buruk. Wahai gendut, botak, dower, picek, belo’,  kumis, budek, tonggos, ngeces dan sebagainya. Bahkan di kalangan masyarakat tertentu ada yang menyindir saudaranya dengan belatung nangka, kecebong, ulet pohon, dan lainnya. Panggilan buruk yang bertendensi mengejek ini pasti menimbulkan rasa tidak suka pada yang dipanggil, akhirnya hilang rasa hormat dan cenderung menjadi pemicu perkelahianbahkan bunuh-bunuhan.

Keempat, jauhi zhon, karena sebagian zhon itu adalah dosa. Celakanya media kita belakangan ini cenderung mengembangkan prasangka buruk terhadap orang-orang baik, mereka yang aktif berdakwah, aktif pengajian, aktif bershodaqoh, ditempeli cap teroris. Mestinya yang harus diwaspadai adalah penyimpangan kewenangan oleh aparat Polri, Kejaksaan, dan Kehakiman atau sebuah konspirasi untuk menyelamatkan sebuah korupsi besar seperti yang dilakukan oleh Gayus Tambunan dkk.

Memang harus diapresiasi masih banyak aparat Polri yangjujur, Jaksa yang lurus, dan Hakim yang adil. Kepada mereka harusnya diberipenghargaan dan porsi pemuatan yang besar agar menjadi contoh anak bangsa.

Kelima, jauhi namimah atau mengadu domba. Sikap sukamengadu domba ini mencerminkan masyarakat yang kurang kerjaan dan benar-benar mengidap penyakit asosial. Penyakit ini marak di masyarakat bawah hingga kalangan elit, dan media terkadang tampil sebagai pihak yang mengadu domba dengan menyuguhkan forum debat kusir yang tak jelas juntrungannya.

Penyakit-penyakit sosial itu adalah ungkapan fasik, ini menggambarkan bahwa kelima penyakit sosial itu adalah dosa besar. Celakanya kelimanya dieksploitir sedemikian rupa oleh infotainment tanpa mempertimbangkan dampaknyabaik bagi objek yang diberitakan maupun masrarakat sebagai konsumen televisi. Seolah ada desain yang besar untuk merusak moral bangsa ini lewat tayangan infotainment.

Sementara acara-acara yang positif seperti dakwah, cepattepat, success story, dan hal-hal yang membangkitkan perjuangan serta semangat, cenderung langka, bahkan lenyap. Hanya muncul dan seperti mendadak soleh ketikadi bulan Ramadhan ini.

Infotainment asik ma’suk memberitakan perceraian artis Adengan artis B, putus cinta artis C dengan artis D menjadi isu nasional,perselingkuhan antar artis dan pejabat atau pengusaha menjadi berita headline.Tidak cukup sekali, bahkan didaur ulang berkali-kali sampai-sampai bosan bahkan jijik menontonnya. Praktis wajah buruk yang melulu dijejali infotainment kepada pemirsa seolah sebuah mesin raksasa yang bekerja untuk meruntuhkan moral bangsa.

Pendek kata, media akan menentukan seperti apa wajah bangsa ini ke depan. Kalau media bisa menyaring penyakit komunikasi seketat mungkin, seintensif mungkin, mudah-mudahan ke depan bangsa ini akan menjadi bangsa yang berbudaya dan pandai menghargai karya anak bangsa sendiri. Bukan menjadi bangsa penggunjing, pemfitnah, apalagi pengadu domba.

Sudah saatnya bulan Ramadhan ini menjadi bulan introspeksi, bulan pembinaan umat dan bulannya pendidikan moral.

Selama sebulan suntuk kita menempa diri dan emosi agar menjadi manusia dewasa, karena 11 bulanke depan kita akan menghadapi tantangan yang tidak kecil.

Djony Edward

Email : djonyedward@yahoo.com